FEATURE
Bunda Reza, Sepuluh Tahun Berjuang untuk Dua Buah Hati
A. Firdaus
Kamis 08 Oktober 2026 / 19:28
- Selama 10 tahun, Bunda Reza berjuang sebagai ibu tunggal.
- Dalam sehari, ia bisa menyelesaikan sekitar 20–25 pesanan.
- Sebelum menekuni pekerjaan sebagai pengemudi Grab, Bunda Reza pernah bekerja sebagai perawat di rumah sakit.
Jakarta: “Kalau saya terus nangis, memang dua anak saya bisa makan air mata?” Kalimat itu menjadi pengingat bagi Siti Khodijah, atau yang akrab disapa Bunda Reza, untuk terus melangkah di tengah beratnya kehidupan sebagai ibu tunggal. Selama satu dekade, ia berjuang mencari nafkah sekaligus memastikan kedua putranya tetap mendapatkan perhatian dan kebutuhan yang layak.
Sejak berpisah dengan suaminya pada 2015, Bunda Reza memikul tanggung jawab sebagai orang tua sekaligus pencari nafkah utama bagi keluarga. Kedua putranya memiliki kebutuhan dan perjalanan hidup masing-masing yang harus ia dukung.
Anak sulungnya kini berusia 26 tahun dan merupakan penyandang disabilitas yang membutuhkan pendampingan dalam aktivitas sehari-hari. Sementara itu, putra bungsunya yang berusia 19 tahun tengah mengikuti pelatihan kerja di Bandung sebagai persiapan untuk bekerja di Jepang.
Bagi Bunda Reza, membesarkan kedua anaknya bukan semata tentang memenuhi kebutuhan hari ini. Ia juga ingin memastikan anak-anaknya memiliki kesempatan untuk menjalani kehidupan yang lebih mandiri di masa depan.
“Saya punya dua anak yang harus saya hidupi. Kalau saya terus nangis, memang dua anak saya bisa makan air mata? Ya sudah, hapus air mata. Berjuang saja,” ujarnya.
Sebelum menekuni pekerjaan sebagai pengemudi Grab, Bunda Reza pernah bekerja sebagai perawat di rumah sakit dan menjalankan usaha berjualan makanan. Pada 2016, ia mendapat informasi mengenai peluang menjadi mitra pengemudi dan memutuskan untuk mencobanya.
Salah satu pertimbangan terbesarnya adalah fleksibilitas waktu. Sebagai ibu dengan tanggung jawab pengasuhan, ia membutuhkan pekerjaan yang memungkinkan dirinya tetap memperoleh penghasilan tanpa sepenuhnya meninggalkan kebutuhan anak di rumah.
Hari-harinya pun dijalani dengan jadwal yang disesuaikan dengan kondisi keluarga. Sekitar pukul 09.00 WIB, ia mulai menerima pesanan. Menjelang siang, ia menyempatkan diri pulang untuk memberi makan dan memastikan kondisi anak sulungnya.
Setelah itu, ia kembali bekerja hingga menjelang Magrib. Jika situasi memungkinkan, ia melanjutkan pekerjaan nge-Grab nya sampai sekitar pukul 21.00 atau 22.00 WIB.
Saat berada di luar rumah, Bunda Reza memantau kondisi anaknya melalui kamera CCTV yang terpasang di rumah. Meski begitu, ia mengakui kekhawatiran sebagai orang tua tidak pernah sepenuhnya hilang.
Dalam sehari, ia bisa menyelesaikan sekitar 20–25 pesanan. Ketika permintaan sedang tinggi, jumlahnya bahkan mencapai 33 pesanan.
“Banyak orang yang bertanya kepada saya, kalau sedang narik, siapa yang menjaga anak pertama saya? Saya selalu menjawab, saya titip sama Allah. Sebagai orang tua, tentu ada rasa khawatir, apalagi saat harus meninggalkan anak untuk bekerja. Tapi saya percaya, selama saya berusaha memberikan yang terbaik untuk kedua anak saya, Allah juga akan menjaga dan memberikan jalan,” kata Bunda Reza.
Fleksibilitas menjadi bagian penting dalam kesehariannya. Waktu kerja yang dapat disesuaikan membantunya mengatur prioritas, meskipun ia tetap harus membagi tenaga antara pekerjaan, kebutuhan rumah tangga, dan pendampingan anak.
Bagi Bunda Reza, perjuangan itu bukan tentang memilih antara bekerja atau mengurus keluarga. Ia berusaha menjalankan keduanya sebaik mungkin, satu hari demi satu hari.
Ketika mulai bekerja pada 2016, putra bungsu Bunda Reza masih duduk di kelas 3 sekolah dasar. Kini, anak tersebut telah menyelesaikan sekolah dan mengikuti pelatihan kerja di Bandung sebagai bekal sebelum berangkat bekerja ke Jepang.
Perubahan itu menjadi salah satu perjalanan yang paling berarti bagi Bunda Reza. Selama bertahun-tahun, penghasilannya digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, pendidikan, perawatan anak, serta membangun dana cadangan keluarga.
Di tengah keterbatasan, ia juga berusaha menanamkan nilai kemandirian kepada kedua putranya. Baginya, kemampuan berdiri di atas kaki sendiri tidak hanya berkaitan dengan mencari uang atau melakukan sesuatu tanpa bantuan orang lain. Kemandirian juga berarti memiliki kemauan untuk belajar, berusaha, dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.
“Saya selalu mengajarkan anak saya untuk berusaha berdiri di atas kaki sendiri. Bagi saya, kemandirian bukan hanya tentang mampu melakukan sesuatu sendiri, tetapi juga tentang bagaimana kita bisa memotivasi diri, terus belajar, dan menjaga semangat saat menghadapi tantangan,” tuturnya.
Ia ingin putranya tumbuh menjadi pribadi yang percaya pada kemampuannya sendiri dan terus berusaha mencapai cita-cita.
Pesan tersebut tampaknya melekat pada sang anak. Bunda Reza mengingat putra bungsunya pernah mengatakan ingin belajar hidup mandiri agar kelak dapat membahagiakan ibu dan kakaknya.
Bagi seorang ibu yang selama bertahun-tahun menjadi tumpuan keluarga, keinginan sederhana itu memiliki arti tersendiri. Perjuangan mencari nafkah bukan hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan saat ini, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mempersiapkan anak menghadapi masa depannya.
Perjalanan membangun kehidupan yang lebih stabil tidak selalu berjalan mulus. Salah satu momen yang paling diingat Bunda Reza adalah ketika putra bungsunya hendak masuk SMA. Saat itu, ia harus menyiapkan biaya pendidikan yang cukup besar, sementara sumber dana yang tersedia terbatas.
Sebagai orang tua tunggal, ia harus memastikan kebutuhan pendidikan anak tetap terpenuhi tanpa mengabaikan kebutuhan sehari-hari keluarga.
Di tengah situasi tersebut, ia menerima penawaran fasilitas GrabModal Narik dari OVO Finansial melalui aplikasi. Bagi Bunda Reza, fasilitas pembiayaan itu menjadi salah satu pilihan yang dipertimbangkan untuk memenuhi kebutuhan pada saat itu.
“Ketika anak saya akan masuk SMA, saya sempat menghadapi tantangan dalam menyiapkan biaya pendidikannya. Saya sempat bertanya dalam hati, ‘Uangnya dari mana?’ Karena saya single parent, tentu saya ingin kebutuhan anak, terutama pendidikan, tetap terpenuhi,” ujarnya.
Ia kemudian memanfaatkan pembiayaan pertamanya sekitar Rp8 juta untuk kebutuhan pendidikan anak dan menyisihkan sebagian sebagai dana cadangan.
Pada kesempatan berikutnya, ia kembali menggunakan fasilitas pembiayaan tersebut untuk memenuhi kebutuhan lain, termasuk memperbaiki area dapur rumah yang mengalami kerusakan cukup parah.
Pengalaman itu membuatnya memahami bahwa akses pendanaan dapat menjadi salah satu pilihan ketika kebutuhan penting muncul. Namun, keputusan untuk memanfaatkan pembiayaan juga harus disertai perhitungan kemampuan membayar agar tidak mengganggu kebutuhan keluarga.
“Bagi saya, ketika mengambil GrabModal Narik, berarti saya juga harus siap dengan tanggung jawab untuk membayarnya. Saya selalu menghitung dari penghasilan saya on-bid berapa yang bisa saya sisihkan untuk pembayaran tanpa mengganggu kebutuhan sehari-hari,” kata Bunda Reza.
Prinsip tersebut menjadi bagian dari cara ia mengelola keuangan. Ia berusaha memperhitungkan pemasukan, kebutuhan rumah tangga, serta kewajiban pembayaran sebelum memutuskan menggunakan fasilitas pembiayaan.
Pengalaman itu juga ia bagikan kepada sesama pengemudi perempuan melalui perannya sebagai Ketua Komunitas Lady Grab Jakarta Timur. Ia kerap berbagi cerita tentang pengaturan keuangan keluarga, menjaga penghasilan, dan pentingnya mempertimbangkan kemampuan finansial sebelum mengambil pembiayaan.
Baginya, akses pendanaan bukan sekadar kesempatan memperoleh uang ketika dibutuhkan. Hal yang tidak kalah penting adalah memahami tanggung jawab yang menyertainya dan memastikan keputusan tersebut sesuai dengan kemampuan keuangan.
Kisah Bunda Reza merupakan salah satu contoh perjalanan pekerja di ekosistem digital yang berusaha menjaga keberlangsungan ekonomi keluarga di tengah tanggung jawab pengasuhan.
Menurut data yang disampaikan Grab dan OVO Finansial, lebih dari 600.000 mitra UMKM, yang mencakup mitra GrabMerchant dan mitra pengemudi di seluruh Indonesia, telah mengakses pendanaan senilai lebih dari Rp9 triliun melalui GrabModal sejak layanan tersebut diluncurkan.
Melalui GrabModal by OVO Finansial, mitra pengemudi dan merchant dapat mengakses fasilitas pendanaan yang disebut berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Informasi mengenai status perizinan, biaya, tenor, dan ketentuan produk tetap perlu diperiksa sesuai fasilitas yang tersedia bagi masing-masing pengguna.
Bagi Bunda Reza, pengalaman memanfaatkan pembiayaan menjadi bagian dari perjalanan mengelola kebutuhan keluarga. Namun, fondasi kesehariannya tetap berasal dari kerja yang ia jalani, pengaturan pengeluaran, serta upayanya menyisihkan penghasilan ketika memungkinkan.
Sepuluh tahun menjalani pekerjaan tersebut perlahan membantunya memenuhi kebutuhan keluarga, menabung, membeli kendaraan untuk bekerja, memperbaiki rumah, dan membiayai pendidikan anak. Ia tidak memandang pencapaian itu semata-mata dari barang yang berhasil dimiliki, melainkan dari kemampuannya memenuhi kebutuhan keluarga dengan hasil kerja sendiri.
“Sejak menjadi Mitra Pengemudi GrabBike, saya merasa lebih percaya diri karena bisa membantu memenuhi kebutuhan anak-anak dari hasil keringat saya sendiri. Kebutuhan sehari-hari bisa terpenuhi, kebutuhan anak-anak juga tetap terpenuhi, dan saya masih bisa menyisihkan sedikit untuk keperluan tak terduga,” ujarnya.
Bagi Bunda Reza, kemandirian bukan berarti harus menghadapi semua hal sendirian. Ada tanggung jawab terhadap keluarga, kesempatan untuk terus bekerja, dukungan komunitas, dan pilihan-pilihan yang perlu dipertimbangkan dengan matang.
Di balik rutinitasnya menerima pesanan dan pulang untuk memastikan kondisi anak, ada tujuan yang terus ia jaga: memberi kedua putranya kesempatan untuk tumbuh dan menata masa depan.
Perjalanannya belum selesai. Namun, selama masih ada hal yang bisa diperjuangkan, Bunda Reza memilih untuk terus bergerak. Bukan karena hidup selalu mudah, melainkan karena ada dua anak yang menjadi alasan baginya untuk tidak menyerah.
(FIR)
Sejak berpisah dengan suaminya pada 2015, Bunda Reza memikul tanggung jawab sebagai orang tua sekaligus pencari nafkah utama bagi keluarga. Kedua putranya memiliki kebutuhan dan perjalanan hidup masing-masing yang harus ia dukung.
Anak sulungnya kini berusia 26 tahun dan merupakan penyandang disabilitas yang membutuhkan pendampingan dalam aktivitas sehari-hari. Sementara itu, putra bungsunya yang berusia 19 tahun tengah mengikuti pelatihan kerja di Bandung sebagai persiapan untuk bekerja di Jepang.
Bagi Bunda Reza, membesarkan kedua anaknya bukan semata tentang memenuhi kebutuhan hari ini. Ia juga ingin memastikan anak-anaknya memiliki kesempatan untuk menjalani kehidupan yang lebih mandiri di masa depan.
“Saya punya dua anak yang harus saya hidupi. Kalau saya terus nangis, memang dua anak saya bisa makan air mata? Ya sudah, hapus air mata. Berjuang saja,” ujarnya.
Membagi Waktu antara Mencari Nafkah dan Merawat Anak
Sebelum menekuni pekerjaan sebagai pengemudi Grab, Bunda Reza pernah bekerja sebagai perawat di rumah sakit dan menjalankan usaha berjualan makanan. Pada 2016, ia mendapat informasi mengenai peluang menjadi mitra pengemudi dan memutuskan untuk mencobanya.
Salah satu pertimbangan terbesarnya adalah fleksibilitas waktu. Sebagai ibu dengan tanggung jawab pengasuhan, ia membutuhkan pekerjaan yang memungkinkan dirinya tetap memperoleh penghasilan tanpa sepenuhnya meninggalkan kebutuhan anak di rumah.
Hari-harinya pun dijalani dengan jadwal yang disesuaikan dengan kondisi keluarga. Sekitar pukul 09.00 WIB, ia mulai menerima pesanan. Menjelang siang, ia menyempatkan diri pulang untuk memberi makan dan memastikan kondisi anak sulungnya.
Setelah itu, ia kembali bekerja hingga menjelang Magrib. Jika situasi memungkinkan, ia melanjutkan pekerjaan nge-Grab nya sampai sekitar pukul 21.00 atau 22.00 WIB.
Saat berada di luar rumah, Bunda Reza memantau kondisi anaknya melalui kamera CCTV yang terpasang di rumah. Meski begitu, ia mengakui kekhawatiran sebagai orang tua tidak pernah sepenuhnya hilang.
Dalam sehari, ia bisa menyelesaikan sekitar 20–25 pesanan. Ketika permintaan sedang tinggi, jumlahnya bahkan mencapai 33 pesanan.
Sebelum menekuni pekerjaan sebagai pengemudi Grab, Bunda Reza pernah bekerja sebagai perawat di rumah sakit dan menjalankan usaha berjualan makanan Dok. ISt
“Banyak orang yang bertanya kepada saya, kalau sedang narik, siapa yang menjaga anak pertama saya? Saya selalu menjawab, saya titip sama Allah. Sebagai orang tua, tentu ada rasa khawatir, apalagi saat harus meninggalkan anak untuk bekerja. Tapi saya percaya, selama saya berusaha memberikan yang terbaik untuk kedua anak saya, Allah juga akan menjaga dan memberikan jalan,” kata Bunda Reza.
Fleksibilitas menjadi bagian penting dalam kesehariannya. Waktu kerja yang dapat disesuaikan membantunya mengatur prioritas, meskipun ia tetap harus membagi tenaga antara pekerjaan, kebutuhan rumah tangga, dan pendampingan anak.
Bagi Bunda Reza, perjuangan itu bukan tentang memilih antara bekerja atau mengurus keluarga. Ia berusaha menjalankan keduanya sebaik mungkin, satu hari demi satu hari.
Menanamkan Kemandirian demi Masa Depan Anak
Ketika mulai bekerja pada 2016, putra bungsu Bunda Reza masih duduk di kelas 3 sekolah dasar. Kini, anak tersebut telah menyelesaikan sekolah dan mengikuti pelatihan kerja di Bandung sebagai bekal sebelum berangkat bekerja ke Jepang.
Perubahan itu menjadi salah satu perjalanan yang paling berarti bagi Bunda Reza. Selama bertahun-tahun, penghasilannya digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, pendidikan, perawatan anak, serta membangun dana cadangan keluarga.
Di tengah keterbatasan, ia juga berusaha menanamkan nilai kemandirian kepada kedua putranya. Baginya, kemampuan berdiri di atas kaki sendiri tidak hanya berkaitan dengan mencari uang atau melakukan sesuatu tanpa bantuan orang lain. Kemandirian juga berarti memiliki kemauan untuk belajar, berusaha, dan tidak mudah menyerah ketika menghadapi kesulitan.
“Saya selalu mengajarkan anak saya untuk berusaha berdiri di atas kaki sendiri. Bagi saya, kemandirian bukan hanya tentang mampu melakukan sesuatu sendiri, tetapi juga tentang bagaimana kita bisa memotivasi diri, terus belajar, dan menjaga semangat saat menghadapi tantangan,” tuturnya.
Ia ingin putranya tumbuh menjadi pribadi yang percaya pada kemampuannya sendiri dan terus berusaha mencapai cita-cita.
Pesan tersebut tampaknya melekat pada sang anak. Bunda Reza mengingat putra bungsunya pernah mengatakan ingin belajar hidup mandiri agar kelak dapat membahagiakan ibu dan kakaknya.
Bagi seorang ibu yang selama bertahun-tahun menjadi tumpuan keluarga, keinginan sederhana itu memiliki arti tersendiri. Perjuangan mencari nafkah bukan hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan saat ini, tetapi juga menjadi bagian dari upaya mempersiapkan anak menghadapi masa depannya.
Saat Kebutuhan Mendesak Menguji Ketahanan Keluarga
Perjalanan membangun kehidupan yang lebih stabil tidak selalu berjalan mulus. Salah satu momen yang paling diingat Bunda Reza adalah ketika putra bungsunya hendak masuk SMA. Saat itu, ia harus menyiapkan biaya pendidikan yang cukup besar, sementara sumber dana yang tersedia terbatas.
Sebagai orang tua tunggal, ia harus memastikan kebutuhan pendidikan anak tetap terpenuhi tanpa mengabaikan kebutuhan sehari-hari keluarga.
Di tengah situasi tersebut, ia menerima penawaran fasilitas GrabModal Narik dari OVO Finansial melalui aplikasi. Bagi Bunda Reza, fasilitas pembiayaan itu menjadi salah satu pilihan yang dipertimbangkan untuk memenuhi kebutuhan pada saat itu.
“Ketika anak saya akan masuk SMA, saya sempat menghadapi tantangan dalam menyiapkan biaya pendidikannya. Saya sempat bertanya dalam hati, ‘Uangnya dari mana?’ Karena saya single parent, tentu saya ingin kebutuhan anak, terutama pendidikan, tetap terpenuhi,” ujarnya.
Ia kemudian memanfaatkan pembiayaan pertamanya sekitar Rp8 juta untuk kebutuhan pendidikan anak dan menyisihkan sebagian sebagai dana cadangan.
Pada kesempatan berikutnya, ia kembali menggunakan fasilitas pembiayaan tersebut untuk memenuhi kebutuhan lain, termasuk memperbaiki area dapur rumah yang mengalami kerusakan cukup parah.
Pengalaman itu membuatnya memahami bahwa akses pendanaan dapat menjadi salah satu pilihan ketika kebutuhan penting muncul. Namun, keputusan untuk memanfaatkan pembiayaan juga harus disertai perhitungan kemampuan membayar agar tidak mengganggu kebutuhan keluarga.
“Bagi saya, ketika mengambil GrabModal Narik, berarti saya juga harus siap dengan tanggung jawab untuk membayarnya. Saya selalu menghitung dari penghasilan saya on-bid berapa yang bisa saya sisihkan untuk pembayaran tanpa mengganggu kebutuhan sehari-hari,” kata Bunda Reza.
Prinsip tersebut menjadi bagian dari cara ia mengelola keuangan. Ia berusaha memperhitungkan pemasukan, kebutuhan rumah tangga, serta kewajiban pembayaran sebelum memutuskan menggunakan fasilitas pembiayaan.
Pengalaman itu juga ia bagikan kepada sesama pengemudi perempuan melalui perannya sebagai Ketua Komunitas Lady Grab Jakarta Timur. Ia kerap berbagi cerita tentang pengaturan keuangan keluarga, menjaga penghasilan, dan pentingnya mempertimbangkan kemampuan finansial sebelum mengambil pembiayaan.
Baginya, akses pendanaan bukan sekadar kesempatan memperoleh uang ketika dibutuhkan. Hal yang tidak kalah penting adalah memahami tanggung jawab yang menyertainya dan memastikan keputusan tersebut sesuai dengan kemampuan keuangan.
Kemandirian Finansial Dibangun Pelan-Pelan
Kisah Bunda Reza merupakan salah satu contoh perjalanan pekerja di ekosistem digital yang berusaha menjaga keberlangsungan ekonomi keluarga di tengah tanggung jawab pengasuhan.
Menurut data yang disampaikan Grab dan OVO Finansial, lebih dari 600.000 mitra UMKM, yang mencakup mitra GrabMerchant dan mitra pengemudi di seluruh Indonesia, telah mengakses pendanaan senilai lebih dari Rp9 triliun melalui GrabModal sejak layanan tersebut diluncurkan.
Melalui GrabModal by OVO Finansial, mitra pengemudi dan merchant dapat mengakses fasilitas pendanaan yang disebut berizin dan diawasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Informasi mengenai status perizinan, biaya, tenor, dan ketentuan produk tetap perlu diperiksa sesuai fasilitas yang tersedia bagi masing-masing pengguna.
Bagi Bunda Reza, pengalaman memanfaatkan pembiayaan menjadi bagian dari perjalanan mengelola kebutuhan keluarga. Namun, fondasi kesehariannya tetap berasal dari kerja yang ia jalani, pengaturan pengeluaran, serta upayanya menyisihkan penghasilan ketika memungkinkan.
Sepuluh tahun menjalani pekerjaan tersebut perlahan membantunya memenuhi kebutuhan keluarga, menabung, membeli kendaraan untuk bekerja, memperbaiki rumah, dan membiayai pendidikan anak. Ia tidak memandang pencapaian itu semata-mata dari barang yang berhasil dimiliki, melainkan dari kemampuannya memenuhi kebutuhan keluarga dengan hasil kerja sendiri.
“Sejak menjadi Mitra Pengemudi GrabBike, saya merasa lebih percaya diri karena bisa membantu memenuhi kebutuhan anak-anak dari hasil keringat saya sendiri. Kebutuhan sehari-hari bisa terpenuhi, kebutuhan anak-anak juga tetap terpenuhi, dan saya masih bisa menyisihkan sedikit untuk keperluan tak terduga,” ujarnya.
Bagi Bunda Reza, kemandirian bukan berarti harus menghadapi semua hal sendirian. Ada tanggung jawab terhadap keluarga, kesempatan untuk terus bekerja, dukungan komunitas, dan pilihan-pilihan yang perlu dipertimbangkan dengan matang.
Di balik rutinitasnya menerima pesanan dan pulang untuk memastikan kondisi anak, ada tujuan yang terus ia jaga: memberi kedua putranya kesempatan untuk tumbuh dan menata masa depan.
Perjalanannya belum selesai. Namun, selama masih ada hal yang bisa diperjuangkan, Bunda Reza memilih untuk terus bergerak. Bukan karena hidup selalu mudah, melainkan karena ada dua anak yang menjadi alasan baginya untuk tidak menyerah.
(FIR)