FAMILY
Bukan Cuma Glowing, Ini 17 Ritual Calon Pengantin Indonesia
A. Firdaus
Kamis 08 Oktober 2026 / 11:04
- Sebelum menikah, calon pengantin di berbagai daerah Indonesia menjalani ritual kecantikan tradisional, dari lulur, ratus, batimung, hingga mandi bunga.
- Bagi sebagian masyarakat, perawatan calon pengantin juga menjadi bagian dari persiapan lahir dan batin sebelum memasuki kehidupan baru.
- Dari Betawi hingga Minangkabau, dari Jawa sampai Minahasa, setiap ritual punya cerita dan maknanya sendiri.
Jakarta: Sebelum mengucapkan janji sehidup semati, calon pengantin di Indonesia punya cara masing-masing untuk mempersiapkan diri. Bukan sekadar soal tampil cantik di hari pernikahan, perawatan tersebut juga menjadi bagian dari tradisi yang diwariskan lintas generasi.
Melansir Bridestory, dari mandi uap dengan rempah, lulur, masker berbahan tepung beras, hingga ritual merawat kuku dan rambut, hampir setiap daerah memiliki tradisi kecantikannya sendiri.
Menariknya, ritual tersebut tidak hanya berkaitan dengan penampilan. Bagi sebagian masyarakat, perawatan calon pengantin juga menjadi bagian dari persiapan lahir dan batin sebelum memasuki kehidupan baru.
Berikut 17 ritual kecantikan calon pengantin yang tersebar di berbagai penjuru Nusantara.
Dalam tradisi Betawi, calon pengantin perempuan menjalani rangkaian perawatan menjelang hari pernikahan dengan bantuan Tukang Piare.
Tukang Piare merupakan sosok yang membantu merawat calon pengantin, mulai dari memberikan jamu, melakukan lulur, hingga mengatur sejumlah pantangan makanan. Rangkaian perawatan tersebut juga dapat disertai doa-doa tertentu.
Bukan cuma soal kecantikan, tradisi ini menjadi bagian dari persiapan calon pengantin menuju hari istimewanya.
Masih dari Betawi, ada tradisi ditangas atau mandi uap menggunakan berbagai rempah.
Bahan yang digunakan antara lain daun jeruk purut, daun pandan, akar wangi, daun dilem, dan serai. Calon pengantin duduk atau berada di atas uap rebusan rempah tersebut sebagai bagian dari perawatan tradisional.
Aromanya yang khas juga membuat ritual ini terasa seperti spa versi Nusantara.
Lompat ke Kalimantan Selatan, ada batimung, yaitu perawatan tradisional menggunakan uap dari rebusan berbagai rempah.
Ritual ini dikenal dalam persiapan calon pengantin dan dikaitkan dengan perawatan tubuh serta kebersihan. Aroma rempah yang keluar dari uap juga menjadi bagian menarik dari pengalaman batimung.
Di Jawa, ratus menjadi salah satu perawatan tradisional yang cukup dikenal.
Ritual ini dilakukan dengan memanfaatkan uap dari rebusan campuran bahan herbal. Calon pengantin kemudian mendapatkan paparan uap tersebut sebagai bagian dari perawatan tradisional menjelang pernikahan.
Ratus juga kerap dikaitkan dengan perawatan area kewanitaan dalam tradisi kecantikan masyarakat Jawa.
Dari Gorontalo, ada mohibadaa, ritual perawatan kulit yang menggunakan masker tradisional.
Salah satu bahan yang digunakan adalah tepung beras yang dicampur dengan rempah-rempah tertentu. Masker tersebut kemudian diaplikasikan pada wajah dan bagian tubuh lainnya.
Tradisi ini menjadi salah satu bentuk perawatan calon pengantin agar tampil lebih segar menjelang hari pernikahan.
Bali juga memiliki tradisi perawatan tubuh yang dikenal dengan nama boreh.
Ramuan boreh dibuat dari berbagai bahan yang diwariskan secara turun-temurun. Penggunaannya secara tradisional dipercaya memberikan sensasi hangat pada tubuh sekaligus menjadi bagian dari perawatan kulit.
Kini, konsep boreh juga banyak ditemukan dalam berbagai perawatan spa khas Bali.
Mandi bunga atau mandi kembang merupakan salah satu tradisi yang cukup populer dalam budaya Jawa.
Calon pengantin dimandikan menggunakan air yang diberi campuran bunga. Secara tradisional, ritual ini tidak hanya dimaknai sebagai upaya membersihkan tubuh, tetapi juga sebagai simbol membersihkan diri sebelum memasuki fase kehidupan baru.
Dengan kata lain, bukan cuma badan yang dipersiapkan, tetapi juga hati dan pikiran.
Selain mandi bunga, ada pula mandi susu yang dikenal dalam tradisi perawatan kecantikan Jawa.
Susu digunakan dalam ritual mandi dan secara tradisional dipercaya membantu membuat kulit terasa lebih lembut. Tradisi ini kemudian berkembang menjadi salah satu bentuk perawatan yang identik dengan kecantikan calon pengantin.
Berbeda dari ritual lainnya, shirodara dilakukan dengan mengalirkan minyak secara perlahan pada area dahi.
Perawatan yang memiliki akar dari tradisi Ayurveda ini dikenal sebagai bagian dari ritual relaksasi. Dalam praktik spa modern, shirodara sering dipilih untuk membantu memberikan sensasi rileks dan tenang.
Bagi calon pengantin yang sedang sibuk mempersiapkan pesta, sesi relaksasi seperti ini tentu bisa menjadi momen untuk mengambil napas sejenak.
Calon pengantin perempuan dalam tradisi Melayu Pontianak mengenal ritual bebedakan.
Tradisi ini dilakukan dengan menggunakan bedak atau bahan perawatan khusus sebagai bagian dari persiapan menjelang pernikahan. Dalam beberapa tradisi, perawatan dilakukan selama sekitar 40 hari sebelum hari pernikahan.
Tujuannya berkaitan dengan persiapan penampilan calon pengantin agar terlihat lebih segar saat hari bahagia tiba.
Di Palembang, ada betangas, yakni ritual mandi uap yang biasanya dilakukan menjelang pernikahan.
Calon pengantin mendapatkan paparan uap dari rebusan bahan-bahan tertentu sebagai bagian dari perawatan tradisional. Ritual ini secara turun-temurun dikaitkan dengan kebersihan tubuh dan mengurangi bau badan.
Berinai merupakan tradisi menghias kuku menggunakan pewarna alami yang menghasilkan warna kemerahan.
Tradisi ini dikenal di berbagai komunitas Melayu dan biasanya dilakukan menjelang pernikahan. Selain menjadi bagian dari kecantikan calon pengantin, warna pada kuku juga memiliki makna simbolis dalam rangkaian adat pernikahan.
Berbicara soal kecantikan tradisional Indonesia, rasanya belum lengkap tanpa jamu.
Dalam tradisi Jawa, khususnya lingkungan keraton, berbagai jenis jamu dikonsumsi sebagai bagian dari perawatan dan pemeliharaan tubuh. Ramuan yang digunakan pun beragam, tergantung kebutuhan dan tradisi masing-masing.
Bagi calon pengantin, jamu menjadi salah satu bagian dari persiapan tradisional yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Dari Minahasa, Sulawesi Utara, ada tradisi bacoho.
Bacoho secara sederhana dapat dimaknai sebagai mandi. Namun, dalam rangkaian adat calon pengantin, ritual ini memiliki kekhasan karena menggunakan sejumlah tanaman untuk membasuh rambut.
Tradisi tersebut dilakukan menjelang akad atau prosesi pernikahan dan menjadi bagian dari persiapan calon pengantin.
Tradisi mandi uap ternyata juga ditemukan dalam budaya Minangkabau. Namanya batengeh.
Uap dihasilkan dari air rebusan berbagai rempah yang kemudian digunakan dalam ritual perawatan tubuh. Secara tradisional, batengeh dikaitkan dengan perawatan kecantikan, kesehatan, dan kebersihan tubuh calon pengantin.
Aroma rempah yang kuat menjadi salah satu ciri khas ritual ini.
Dalam tradisi Melayu Pontianak, calon pengantin juga mengenal ritual bercukur dan titek gigi.
Bercukur dilakukan untuk merapikan rambut-rambut halus di sekitar wajah, sementara titek gigi merupakan proses meratakan atau mengikir bagian tertentu pada gigi.
Tradisi ini memiliki makna adat dan simbolis, sekaligus menjadi bagian dari rangkaian persiapan calon pengantin sebelum memasuki kehidupan pernikahan.
Terakhir, ada ritual yang mungkin paling familiar: lulur.
Perawatan tubuh menggunakan lulur tradisional telah lama dikenal dalam budaya Jawa dan kerap dikaitkan dengan tradisi kecantikan putri keraton.
Bahan-bahannya dapat berupa rempah seperti kunyit dan temu giring. Dalam tradisi kecantikan Jawa, lulur dipercaya membantu membuat kulit terasa lebih halus dan memberikan tampilan kulit yang lebih cerah.
Kini, lulur tidak hanya menjadi ritual calon pengantin. Perawatan ini telah berkembang menjadi bagian dari berbagai layanan spa dan kecantikan modern.
Beragam ritual tersebut menunjukkan bahwa konsep kecantikan di Indonesia sejak dulu tidak hanya berkutat pada penampilan fisik.
Ada proses merawat tubuh, menggunakan bahan-bahan alami, berkumpul bersama keluarga, hingga menjalankan ritual yang memiliki makna simbolis. Semuanya menjadi bagian dari perjalanan calon pengantin menuju sebuah fase kehidupan baru.
Di tengah maraknya tren kecantikan modern, tradisi tersebut juga menjadi pengingat bahwa Indonesia punya kekayaan perawatan tubuh yang sudah berkembang jauh sebelum istilah bridal spa populer.
Dari Betawi hingga Minangkabau, dari Jawa sampai Minahasa, setiap ritual punya cerita dan maknanya sendiri. Cantik sebelum menikah, ternyata bukan sekadar soal glowing di foto. Ada budaya panjang di baliknya.
(FIR)
Melansir Bridestory, dari mandi uap dengan rempah, lulur, masker berbahan tepung beras, hingga ritual merawat kuku dan rambut, hampir setiap daerah memiliki tradisi kecantikannya sendiri.
Menariknya, ritual tersebut tidak hanya berkaitan dengan penampilan. Bagi sebagian masyarakat, perawatan calon pengantin juga menjadi bagian dari persiapan lahir dan batin sebelum memasuki kehidupan baru.
Berikut 17 ritual kecantikan calon pengantin yang tersebar di berbagai penjuru Nusantara.
1. Tukang Piare, Betawi
Dalam tradisi Betawi, calon pengantin perempuan menjalani rangkaian perawatan menjelang hari pernikahan dengan bantuan Tukang Piare.
Tukang Piare. Dok. Seni Budaya betawi
Tukang Piare merupakan sosok yang membantu merawat calon pengantin, mulai dari memberikan jamu, melakukan lulur, hingga mengatur sejumlah pantangan makanan. Rangkaian perawatan tersebut juga dapat disertai doa-doa tertentu.
Bukan cuma soal kecantikan, tradisi ini menjadi bagian dari persiapan calon pengantin menuju hari istimewanya.
2. Ditangas, Betawi
Masih dari Betawi, ada tradisi ditangas atau mandi uap menggunakan berbagai rempah.
Bahan yang digunakan antara lain daun jeruk purut, daun pandan, akar wangi, daun dilem, dan serai. Calon pengantin duduk atau berada di atas uap rebusan rempah tersebut sebagai bagian dari perawatan tradisional.
Aromanya yang khas juga membuat ritual ini terasa seperti spa versi Nusantara.
3. Batimung, Kalimantan Selatan
Lompat ke Kalimantan Selatan, ada batimung, yaitu perawatan tradisional menggunakan uap dari rebusan berbagai rempah.
Ritual ini dikenal dalam persiapan calon pengantin dan dikaitkan dengan perawatan tubuh serta kebersihan. Aroma rempah yang keluar dari uap juga menjadi bagian menarik dari pengalaman batimung.
4. Ratus, Jawa
Di Jawa, ratus menjadi salah satu perawatan tradisional yang cukup dikenal.
Ritual ini dilakukan dengan memanfaatkan uap dari rebusan campuran bahan herbal. Calon pengantin kemudian mendapatkan paparan uap tersebut sebagai bagian dari perawatan tradisional menjelang pernikahan.
Ratus juga kerap dikaitkan dengan perawatan area kewanitaan dalam tradisi kecantikan masyarakat Jawa.
5. Mohibadaa, Gorontalo
Dari Gorontalo, ada mohibadaa, ritual perawatan kulit yang menggunakan masker tradisional.
Mohibadaa. Dok. gusdurian
Salah satu bahan yang digunakan adalah tepung beras yang dicampur dengan rempah-rempah tertentu. Masker tersebut kemudian diaplikasikan pada wajah dan bagian tubuh lainnya.
Tradisi ini menjadi salah satu bentuk perawatan calon pengantin agar tampil lebih segar menjelang hari pernikahan.
6. Boreh, Bali
Bali juga memiliki tradisi perawatan tubuh yang dikenal dengan nama boreh.
Ramuan boreh dibuat dari berbagai bahan yang diwariskan secara turun-temurun. Penggunaannya secara tradisional dipercaya memberikan sensasi hangat pada tubuh sekaligus menjadi bagian dari perawatan kulit.
Kini, konsep boreh juga banyak ditemukan dalam berbagai perawatan spa khas Bali.
7. Mandi Bunga, Jawa
Mandi bunga atau mandi kembang merupakan salah satu tradisi yang cukup populer dalam budaya Jawa.
Calon pengantin dimandikan menggunakan air yang diberi campuran bunga. Secara tradisional, ritual ini tidak hanya dimaknai sebagai upaya membersihkan tubuh, tetapi juga sebagai simbol membersihkan diri sebelum memasuki fase kehidupan baru.
Dengan kata lain, bukan cuma badan yang dipersiapkan, tetapi juga hati dan pikiran.
8. Mandi Susu, Jawa
Selain mandi bunga, ada pula mandi susu yang dikenal dalam tradisi perawatan kecantikan Jawa.
Susu digunakan dalam ritual mandi dan secara tradisional dipercaya membantu membuat kulit terasa lebih lembut. Tradisi ini kemudian berkembang menjadi salah satu bentuk perawatan yang identik dengan kecantikan calon pengantin.
9. Shirodara, Bali
Berbeda dari ritual lainnya, shirodara dilakukan dengan mengalirkan minyak secara perlahan pada area dahi.
Shirodara, Bali. Dok balibotanica
Perawatan yang memiliki akar dari tradisi Ayurveda ini dikenal sebagai bagian dari ritual relaksasi. Dalam praktik spa modern, shirodara sering dipilih untuk membantu memberikan sensasi rileks dan tenang.
Bagi calon pengantin yang sedang sibuk mempersiapkan pesta, sesi relaksasi seperti ini tentu bisa menjadi momen untuk mengambil napas sejenak.
10. Bebedakan, Melayu Pontianak
Calon pengantin perempuan dalam tradisi Melayu Pontianak mengenal ritual bebedakan.
Tradisi ini dilakukan dengan menggunakan bedak atau bahan perawatan khusus sebagai bagian dari persiapan menjelang pernikahan. Dalam beberapa tradisi, perawatan dilakukan selama sekitar 40 hari sebelum hari pernikahan.
Tujuannya berkaitan dengan persiapan penampilan calon pengantin agar terlihat lebih segar saat hari bahagia tiba.
11. Betangas, Palembang
Di Palembang, ada betangas, yakni ritual mandi uap yang biasanya dilakukan menjelang pernikahan.
Calon pengantin mendapatkan paparan uap dari rebusan bahan-bahan tertentu sebagai bagian dari perawatan tradisional. Ritual ini secara turun-temurun dikaitkan dengan kebersihan tubuh dan mengurangi bau badan.
12. Berinai, Melayu
Berinai merupakan tradisi menghias kuku menggunakan pewarna alami yang menghasilkan warna kemerahan.
Tradisi ini dikenal di berbagai komunitas Melayu dan biasanya dilakukan menjelang pernikahan. Selain menjadi bagian dari kecantikan calon pengantin, warna pada kuku juga memiliki makna simbolis dalam rangkaian adat pernikahan.
13. Jamu, Jawa
Berbicara soal kecantikan tradisional Indonesia, rasanya belum lengkap tanpa jamu.
Dalam tradisi Jawa, khususnya lingkungan keraton, berbagai jenis jamu dikonsumsi sebagai bagian dari perawatan dan pemeliharaan tubuh. Ramuan yang digunakan pun beragam, tergantung kebutuhan dan tradisi masing-masing.
Bagi calon pengantin, jamu menjadi salah satu bagian dari persiapan tradisional yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
14. Bacoho, Minahasa
Dari Minahasa, Sulawesi Utara, ada tradisi bacoho.
Bacoho secara sederhana dapat dimaknai sebagai mandi. Namun, dalam rangkaian adat calon pengantin, ritual ini memiliki kekhasan karena menggunakan sejumlah tanaman untuk membasuh rambut.
Tradisi tersebut dilakukan menjelang akad atau prosesi pernikahan dan menjadi bagian dari persiapan calon pengantin.
15. Batengeh, Minangkabau
Tradisi mandi uap ternyata juga ditemukan dalam budaya Minangkabau. Namanya batengeh.
Uap dihasilkan dari air rebusan berbagai rempah yang kemudian digunakan dalam ritual perawatan tubuh. Secara tradisional, batengeh dikaitkan dengan perawatan kecantikan, kesehatan, dan kebersihan tubuh calon pengantin.
Aroma rempah yang kuat menjadi salah satu ciri khas ritual ini.
16. Bercukur dan Titek Gigi, Pontianak
Dalam tradisi Melayu Pontianak, calon pengantin juga mengenal ritual bercukur dan titek gigi.
Bercukur dilakukan untuk merapikan rambut-rambut halus di sekitar wajah, sementara titek gigi merupakan proses meratakan atau mengikir bagian tertentu pada gigi.
Tradisi ini memiliki makna adat dan simbolis, sekaligus menjadi bagian dari rangkaian persiapan calon pengantin sebelum memasuki kehidupan pernikahan.
17. Lulur, Jawa
Terakhir, ada ritual yang mungkin paling familiar: lulur.
Perawatan tubuh menggunakan lulur tradisional telah lama dikenal dalam budaya Jawa dan kerap dikaitkan dengan tradisi kecantikan putri keraton.
Bahan-bahannya dapat berupa rempah seperti kunyit dan temu giring. Dalam tradisi kecantikan Jawa, lulur dipercaya membantu membuat kulit terasa lebih halus dan memberikan tampilan kulit yang lebih cerah.
Kini, lulur tidak hanya menjadi ritual calon pengantin. Perawatan ini telah berkembang menjadi bagian dari berbagai layanan spa dan kecantikan modern.
Bukan Sekadar Soal Cantik
Beragam ritual tersebut menunjukkan bahwa konsep kecantikan di Indonesia sejak dulu tidak hanya berkutat pada penampilan fisik.
Ada proses merawat tubuh, menggunakan bahan-bahan alami, berkumpul bersama keluarga, hingga menjalankan ritual yang memiliki makna simbolis. Semuanya menjadi bagian dari perjalanan calon pengantin menuju sebuah fase kehidupan baru.
Di tengah maraknya tren kecantikan modern, tradisi tersebut juga menjadi pengingat bahwa Indonesia punya kekayaan perawatan tubuh yang sudah berkembang jauh sebelum istilah bridal spa populer.
Dari Betawi hingga Minangkabau, dari Jawa sampai Minahasa, setiap ritual punya cerita dan maknanya sendiri. Cantik sebelum menikah, ternyata bukan sekadar soal glowing di foto. Ada budaya panjang di baliknya.
(FIR)