FAMILY

Saat Anak Bilang “Aku Benci Kamu”, Jangan Langsung Baper

A. Firdaus
Rabu 23 September 2026 / 10:08
Ringkasnya gini..
  • Anak bilang “Aku benci kamu” bisa terasa menyakitkan bagi orang tua.
  • Sebelum larut dalam kesedihan, penting untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi di balik ledakan emosi tersebut.
  • Fenomena ini sudah terlihat sejak awal kehidupan mereka, di mana mereka menunjukkan perasaan sebelum bisa mengatakannya.
Jakarta: Mendengar kalimat bermuatan emosi tinggi dari anak sendiri tentu sangat menguras batin. Bagi orang tua, ucapan tersebut sering kali terasa, seperti hantaman keras yang memicu rasa sedih dan kecewa.

Namun, sebelum larut dalam kesedihan, penting untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi di balik ledakan emosi tersebut, agar tidak salah dalam merespons.

Menerima kalimat “Aku benci kamu” secara harfiah, bisa membawa orang tua ke ruang pribadi yang sangat gelap dan menyakitkan. Padahal, momen ini seharusnya memicu refleksi untuk mengidentifikasi apa, yang sebenarnya dirasakan akibat serangan kasar tersebut.
Dilansir dari Psychology Today, menurut Elena Lister, MD and Michael Schwartzman, Ph.D., ABPP, jika ucapan itu dilihat sebagai bagian alami dari pengasuhan, yaitu luapan frustrasi remaja terhadap batasan dan kontrol orang tua, maka abaikan saja dan lanjutkan hari. Namun, jika terasa terlalu personal atau agresif, bicarakan hal tersebut dengan diri sendiri, pasangan, teman, atau terapis sebelum bertindak. 

Orang tua perlu memahami makna ucapan tersebut dalam konteks saat ini maupun masa lalu, serta mengenali emosi yang ikut bangkit dalam diri. Pertanyaannya adalah seberapa besar keyakinan bahwa itu adalah kebenaran murni sang anak, dan seberapa besar hal itu hanyalah sekadar senjata remaja, atau konsekuensi dari anak yang mengucapkan sesuatu sebelum berpikir?
 

Mengelola luapan emosi anak


Sangat alami bagi anak-anak untuk “melampiaskan” perasaannya pada orang tua. Fenomena ini sudah terlihat sejak awal kehidupan mereka, di mana mereka menunjukkan perasaan sebelum bisa mengatakannya. 

Dalam hal ini, tanggapan emosional orang tua sangat krusial, respons yang alami dan terbuka adalah yang terbaik, sedangkan yang keras dan tertutup adalah yang terburuk.

Cara merespons secara perilaku juga penting. Pikirkan kembali pengalaman yang sudah-sudah, yaitu bagaimana cara anak paling baik menerima kenyamanan, strategi, dan dukungan? bagaimana reaksi mereka terhadap batasan? apakah ada faktor lain yang memicu anak meluapkan emosi sehebat itu?

Terakhir, pertimbangkan kenyamanan diri sebelum mengajak mereka berbicara tentang pemicu ledakan emosi tersebut. Diskusi tidak harus dilakukan segera, dengan memberi jeda sejenak untuk mendinginkan kepala bagi keduanya akan sangat membantu. Waktu sendirian itu baik, bukan sebagai hukuman, melainkan sebagai kesempatan bagi anak untuk merenung dan menenangkan diri.

Secillia Nur Hafifah

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(FIR)

MOST SEARCH