Jakarta: Tantangan yang akan dihadapi sebagai orang tua berbeda dengan yang pernah dialami sebelumnya. Kebahagiaan dan kelelahan, pencapaian dan kesalahan karena semuanya begitu baru.
Meskipun banyak dibicarakan tentang insting maternal, pembahasan tentang insting paternal relatif baru. Penelitian menunjukkan bahwa ketika ayah dihadapkan pada stimulus visual dan auditif yang terkait dengan anak-anak, tiga subjaringan di otak mereka diaktifkan, yaitu simulasi tertanam, mentalisasi, dan regulasi emosi.
Singkatnya, ketika ayah melihat atau mendengar anak-anak, otak mereka merespons secara fisik, mental, dan emosional.
Dilansir dari BabyCenter berikut adalah lima cara untuk mempersiapkan diri menjadi ayah dengan pasangan atau co-parenting dari ahli klinis dan ayah-ayah sungguhan.
“Sebelum mempertimbangkan menjadi ayah, mulailah memperbaiki hubungan saat ini,” kata Judith Joseph M.D., MBA, seorang psikiater dan asisten profesor klinis di departemen psikiatri anak dan remaja di NYU Langone Medical Center
Hubungan yang kuat antara orang tua membantu menciptakan lingkungan yang stabil untuk anak. Misalnya, latihan komunikasi seperti mendengarkan aktif atau berbagi perasaan secara teratur bisa memperkuat ikatan sebelum bayi lahir.
.jpg)
(Para ayah, jangan lupa mempersiapkan diri menjadi ayah, fokus pada kesiapan fisik, mental, dan finansial, dengan banyak belajar parenting. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Diskusi ini melibatkan berbagi nilai-nilai tentang disiplin, pendidikan, dan rutinitas harian. Orang tua bisa membaca buku tentang parenting bersama atau menghadiri kelas pra-kelahiran untuk memahami berbagai gaya pengasuhan yang membantu menghindari konflik nanti dan memastikan pendekatan yang konsisten.
Proses ini bisa menyenangkan dan memperkuat kerja sama. Orang tua mungkin membuat daftar nama favorit dan membahas alasan di baliknya, seperti menghormati keluarga atau memilih nama yang mudah diucapkan. Jika ada perbedaan pendapat, kompromi seperti menggabungkan nama bisa menjadi solusi.
“Rencana persalinan dapat berguna sebagai cara bagi orang tua untuk berkomunikasi satu sama lain tentang apa yang mereka harapkan pada hari itu dan kemudian membagikannya dengan dokter mereka,” kata Craig Garfield, M.D., seorang dokter anak dan profesor pediatri di Feinberg School of Medicine di Northwestern University di Chicago – meskipun tidak merekomendasikan untuk terlalu terpaku pada rencana tersebut.
Rencana ini mencakup preferensi seperti jenis kelahiran, dukungan emosional, dan peran ayah selama proses. Orang tua bisa menghadiri kelas persalinan untuk memahami opsi dan mempersiapkan diri menghadapi perubahan rencana jika diperlukan.
“Bicarakan dengan pasangan sebelum bayi lahir dan pastikan sependapat mengenai siapa yang bertanggung jawab atas apa, seperti pekerjaan rumah tangga, belanja, memberi makan tengah malam, dll serta bagaimana rencana kembali bekerja bagi keduanya,” saran Jeremy Holland, seorang ayah dari dua anak.
Kenali kekuatan dan preferensi masing-masing dan tentukan apa yang cocok, bukan berdasarkan norma sosial, tetapi berdasarkan kebutuhan keluarga.
Pembagian tugas ini membantu mencegah kelelahan dan memastikan keseimbangan. Misalnya, satu orang tua mungkin lebih baik dalam memasak, sementara yang lain dalam mengurus keuangan. Diskusi terbuka tentang ekspektasi kerja dan cuti melahirkan juga penting untuk transisi yang lancar.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(TIN)
Meskipun banyak dibicarakan tentang insting maternal, pembahasan tentang insting paternal relatif baru. Penelitian menunjukkan bahwa ketika ayah dihadapkan pada stimulus visual dan auditif yang terkait dengan anak-anak, tiga subjaringan di otak mereka diaktifkan, yaitu simulasi tertanam, mentalisasi, dan regulasi emosi.
Singkatnya, ketika ayah melihat atau mendengar anak-anak, otak mereka merespons secara fisik, mental, dan emosional.
Dilansir dari BabyCenter berikut adalah lima cara untuk mempersiapkan diri menjadi ayah dengan pasangan atau co-parenting dari ahli klinis dan ayah-ayah sungguhan.
1. Asah keterampilan hubungan
“Sebelum mempertimbangkan menjadi ayah, mulailah memperbaiki hubungan saat ini,” kata Judith Joseph M.D., MBA, seorang psikiater dan asisten profesor klinis di departemen psikiatri anak dan remaja di NYU Langone Medical Center
Hubungan yang kuat antara orang tua membantu menciptakan lingkungan yang stabil untuk anak. Misalnya, latihan komunikasi seperti mendengarkan aktif atau berbagi perasaan secara teratur bisa memperkuat ikatan sebelum bayi lahir.
2. Bicarakan ingin menjadi jenis orang tua seperti apa
.jpg)
(Para ayah, jangan lupa mempersiapkan diri menjadi ayah, fokus pada kesiapan fisik, mental, dan finansial, dengan banyak belajar parenting. Foto: Ilustrasi/Pexels.com)
Diskusi ini melibatkan berbagi nilai-nilai tentang disiplin, pendidikan, dan rutinitas harian. Orang tua bisa membaca buku tentang parenting bersama atau menghadiri kelas pra-kelahiran untuk memahami berbagai gaya pengasuhan yang membantu menghindari konflik nanti dan memastikan pendekatan yang konsisten.
3. Bekerja sama untuk menentukan nama
Proses ini bisa menyenangkan dan memperkuat kerja sama. Orang tua mungkin membuat daftar nama favorit dan membahas alasan di baliknya, seperti menghormati keluarga atau memilih nama yang mudah diucapkan. Jika ada perbedaan pendapat, kompromi seperti menggabungkan nama bisa menjadi solusi.
4. Buat rencana persalinan
“Rencana persalinan dapat berguna sebagai cara bagi orang tua untuk berkomunikasi satu sama lain tentang apa yang mereka harapkan pada hari itu dan kemudian membagikannya dengan dokter mereka,” kata Craig Garfield, M.D., seorang dokter anak dan profesor pediatri di Feinberg School of Medicine di Northwestern University di Chicago – meskipun tidak merekomendasikan untuk terlalu terpaku pada rencana tersebut.
Rencana ini mencakup preferensi seperti jenis kelahiran, dukungan emosional, dan peran ayah selama proses. Orang tua bisa menghadiri kelas persalinan untuk memahami opsi dan mempersiapkan diri menghadapi perubahan rencana jika diperlukan.
5. Bagi tugas
“Bicarakan dengan pasangan sebelum bayi lahir dan pastikan sependapat mengenai siapa yang bertanggung jawab atas apa, seperti pekerjaan rumah tangga, belanja, memberi makan tengah malam, dll serta bagaimana rencana kembali bekerja bagi keduanya,” saran Jeremy Holland, seorang ayah dari dua anak.
Kenali kekuatan dan preferensi masing-masing dan tentukan apa yang cocok, bukan berdasarkan norma sosial, tetapi berdasarkan kebutuhan keluarga.
Pembagian tugas ini membantu mencegah kelelahan dan memastikan keseimbangan. Misalnya, satu orang tua mungkin lebih baik dalam memasak, sementara yang lain dalam mengurus keuangan. Diskusi terbuka tentang ekspektasi kerja dan cuti melahirkan juga penting untuk transisi yang lancar.
Secillia Nur Hafifah
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(TIN)