COMMUNITY
Bukan Manusia vs AI, Begini Wajah Arsitektur Masa Depan
A. Firdaus
Rabu 23 September 2026 / 18:29
- Teknologi tersebut kini memang semakin dekat dengan dunia arsitektur dan desain.
- Semangat tersebut menjadi salah satu alasan MM Galleri menghadirkan MM Talk.
- AI dapat membantu memperluas kemungkinan. Manusia tetap menentukan arah.
Jakarta: Bayangkan seorang arsitek bisa mengeksplorasi puluhan hingga ratusan kemungkinan desain dalam waktu yang jauh lebih singkat. Bentuk bangunan, material, komposisi ruang, hingga detail visual bisa dikembangkan dengan bantuan artificial intelligence (AI).
Teknologi tersebut kini memang semakin dekat dengan dunia arsitektur dan desain. AI tak lagi sekadar digunakan untuk membuat gambar atau visualisasi, tetapi mulai masuk ke berbagai tahap pekerjaan, mulai dari eksplorasi ide, pengembangan konsep, iterasi desain, hingga proses yang mendekati tahap konstruksi.
Namun, di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat, muncul satu pertanyaan yang cukup menarik: kalau AI bisa ikut mendesain, lalu apa yang tersisa untuk manusia?
Pertanyaan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam MM Talk: AI Webinar yang digelar MM Galleri pada 19 September 2026. Webinar ini menghadirkan Tim Fu, Founder & Director Studio Tim Fu dari London, secara daring.
Diskusi tersebut juga menghadirkan Peter S. Tjioe, Founder & Creative Director MM Galleri Group, Hengky Djaja, Director MM Galleri Jakarta & Bali, serta Mario Wibowo, Architectural Photographer.
Dalam sesi tersebut, Tim Fu membagikan pengalamannya menggunakan AI dalam praktik arsitektur. Berbasis di London, Studio Tim Fu dikenal mengeksplorasi integrasi AI dan pendekatan komputasional dalam proses desain.
Menurut Tim, AI memungkinkan arsitek melihat lebih banyak kemungkinan dalam waktu yang lebih singkat. Teknologi dapat digunakan sejak tahap pencarian ide, eksplorasi bentuk dan material, hingga pengembangan desain.
Namun, bukan berarti arsitek tinggal memberikan perintah kepada AI lalu menerima hasil akhirnya.
Justru, menurut Tim, manusia tetap perlu memberikan arahan agar teknologi tersebut menghasilkan sesuatu yang sesuai dengan tujuan desain.
“Guiding it is always better than not guiding it because ultimately I think at the AI stage currently still requires a lot of human input to give you better results,” ujar Tim Fu.
Dengan kata lain, AI bisa menjadi mesin eksplorasi yang sangat cepat. Tetapi arah perjalanan tetap ditentukan oleh manusia.
Dalam praktik Studio Tim Fu, AI digunakan untuk membantu proses eksplorasi, refinement, dan pengembangan desain. Teknologi membantu mempercepat iterasi sehingga arsitek dapat mencoba berbagai kemungkinan sebelum menentukan pilihan.
Perkembangan tersebut juga membuka peluang baru dalam penggunaan material.
Ketika AI dipadukan dengan teknologi seperti robotik, computer numerical control (CNC), dan digital fabrication, arsitek dapat mengeksplorasi bentuk yang semakin kompleks, termasuk dalam pemanfaatan batu alam.
Persoalannya, membuat desain secara digital tentu berbeda dengan mewujudkannya menjadi sebuah ruang atau bangunan nyata.
Di sinilah material dan craftsmanship kembali memainkan peran penting.
Peter S. Tjioe melihat AI sebagai alat yang dapat memperluas kreativitas manusia. Teknologi memang mampu membantu desainer menghasilkan konsep dan visualisasi dengan kecepatan yang sebelumnya sulit dibayangkan.
Namun, menurut dia, sebuah karya tidak berhenti pada visual yang terlihat menarik di layar.
“Teknologi bisa menjadi alat yang sangat powerful, tetapi sebuah karya tetap membutuhkan soul dan sense of beauty. Ada rasa dan nilai artistik yang datang dari manusia,” ujar Peter.
Hal tersebut menjadi semakin relevan ketika berbicara mengenai material.
Pengalaman Peter mengeksplorasi natural stone sejak mendirikan MM Galleri pada 1992 menjadi salah satu konteks bagaimana teknologi dan inovasi material dapat berjalan beriringan.
Berbagai pengembangan, seperti ultra-thin stone dan Bended Marble Technology, menjadi bagian dari eksplorasi MM Galleri terhadap kemungkinan baru dalam pengolahan dan aplikasi batu alam.
Sebab, secanggih apa pun visual yang dihasilkan secara digital, material tetap memiliki karakter yang harus dipahami ketika masuk ke dunia nyata.
Tekstur, warna, pola, kekuatan, hingga cara material tersebut merespons ruang menjadi bagian dari keputusan desain yang tidak berhenti pada layar komputer.
Pandangan serupa disampaikan Mario Wibowo. Menurutnya, AI dan otomatisasi kemungkinan akan semakin masuk ke berbagai tahapan dalam dunia arsitektur.
Mulai dari konsep, desain, construction drawing, hingga kemungkinan penggunaan robot dalam proses konstruksi.
Namun, Mario menilai perkembangan tersebut justru membuat arsitek perlu memahami bagaimana menggunakan teknologi sebagai bagian dari pekerjaannya.
“Arsitek tidak mungkin tergantikan oleh AI. Justru kita harus menggunakan AI untuk membantu, karena speed-nya semakin lama semakin cepat,” ujar Mario.
Menurutnya, pertanyaan yang lebih relevan bukan sekadar apakah AI dapat mengerjakan pekerjaan arsitek, tetapi bagian mana dari proses desain yang tetap membutuhkan manusia.
Sebab, setiap pengguna memiliki kebutuhan yang berbeda.
Sebuah rumah, misalnya, bukan hanya persoalan bentuk yang terlihat menarik. Ada kebiasaan penghuni, kebutuhan ruang, kenyamanan, preferensi, hingga konteks kehidupan yang harus diterjemahkan ke dalam desain.
AI dapat menawarkan sejumlah alternatif. Namun, manusia tetap perlu menentukan apakah alternatif tersebut benar-benar sesuai dengan kebutuhan pengguna.
Sensitivitas, intuisi, feeling, dan kemampuan membaca kebutuhan manusia menjadi bagian yang masih sulit dipisahkan dari profesi arsitek.
Perubahan dalam teknologi desain pada akhirnya ikut mendorong perkembangan material.
Hengky Djaja mengatakan inovasi material perlu berjalan bersama dengan pertukaran pengetahuan. Menurutnya, arsitek dan desainer tidak cukup hanya melihat material dari sisi tampilannya.
Mereka juga perlu memahami karakter material dan bagaimana material tersebut dapat menjadi bagian dari sebuah karya.
“Kami ingin MM Galleri bukan sekadar showroom. Kami ingin menjadi ruang untuk berbagi pengetahuan dan berkolaborasi, sehingga desainer dan arsitek tidak hanya melihat material, tetapi memahami karakter serta bagaimana material tersebut dapat menjadi bagian dari sebuah karya,” ujar Hengky.
Semangat tersebut menjadi salah satu alasan MM Galleri menghadirkan MM Talk.
Program ini mempertemukan berbagai pelaku industri, mulai dari arsitek, desainer interior, developer, fotografer arsitektur, praktisi material, hingga narasumber internasional.
Khusus dalam MM Talk: AI Webinar, pembahasan mengenai AI ditujukan kepada arsitek dan desainer interior di berbagai daerah di Indonesia.
Format webinar juga memungkinkan akses terhadap pengetahuan tersebut tidak hanya terbatas bagi mereka yang berada di Jakarta.
Perkembangan AI memang membuat proses desain berubah. Pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu panjang untuk menghasilkan berbagai alternatif kini dapat dilakukan jauh lebih cepat.
Tetapi kecepatan bukan satu-satunya ukuran dalam sebuah karya arsitektur.
Ada konteks, fungsi, material, pengalaman pengguna, estetika, hingga cerita yang ingin dibangun melalui sebuah ruang.
AI dapat membantu memperluas kemungkinan. Manusia tetap menentukan arah.
Karena itu, masa depan arsitektur mungkin bukan tentang memilih antara manusia atau teknologi.
Justru, keduanya berpotensi bekerja bersama: AI membantu arsitek mengeksplorasi lebih banyak kemungkinan, sementara manusia memberikan konteks, mempertimbangkan fungsi, memilih material, dan menentukan rasa yang ingin dihadirkan.
Dan ketika teknologi semakin cepat, kemampuan manusia untuk tahu kapan harus menggunakan AI dan kapan harus mengandalkan intuisi justru bisa menjadi bagian penting dari profesi arsitek ke depan.
MM Galleri sendiri berencana melanjutkan program MM Talk dalam format offline maupun webinar. Berbagai topik dan narasumber akan kembali dihadirkan untuk membuka ruang pertukaran pengetahuan serta kolaborasi di industri arsitektur, desain interior, dan batuan alam.
(FIR)
Teknologi tersebut kini memang semakin dekat dengan dunia arsitektur dan desain. AI tak lagi sekadar digunakan untuk membuat gambar atau visualisasi, tetapi mulai masuk ke berbagai tahap pekerjaan, mulai dari eksplorasi ide, pengembangan konsep, iterasi desain, hingga proses yang mendekati tahap konstruksi.
Namun, di tengah perkembangan teknologi yang semakin cepat, muncul satu pertanyaan yang cukup menarik: kalau AI bisa ikut mendesain, lalu apa yang tersisa untuk manusia?
Pertanyaan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam MM Talk: AI Webinar yang digelar MM Galleri pada 19 September 2026. Webinar ini menghadirkan Tim Fu, Founder & Director Studio Tim Fu dari London, secara daring.
Diskusi tersebut juga menghadirkan Peter S. Tjioe, Founder & Creative Director MM Galleri Group, Hengky Djaja, Director MM Galleri Jakarta & Bali, serta Mario Wibowo, Architectural Photographer.
AI Bikin Proses Desain Makin Cepat
Dalam sesi tersebut, Tim Fu membagikan pengalamannya menggunakan AI dalam praktik arsitektur. Berbasis di London, Studio Tim Fu dikenal mengeksplorasi integrasi AI dan pendekatan komputasional dalam proses desain.
Menurut Tim, AI memungkinkan arsitek melihat lebih banyak kemungkinan dalam waktu yang lebih singkat. Teknologi dapat digunakan sejak tahap pencarian ide, eksplorasi bentuk dan material, hingga pengembangan desain.
Namun, bukan berarti arsitek tinggal memberikan perintah kepada AI lalu menerima hasil akhirnya.
Justru, menurut Tim, manusia tetap perlu memberikan arahan agar teknologi tersebut menghasilkan sesuatu yang sesuai dengan tujuan desain.
“Guiding it is always better than not guiding it because ultimately I think at the AI stage currently still requires a lot of human input to give you better results,” ujar Tim Fu.
Dengan kata lain, AI bisa menjadi mesin eksplorasi yang sangat cepat. Tetapi arah perjalanan tetap ditentukan oleh manusia.
Dalam praktik Studio Tim Fu, AI digunakan untuk membantu proses eksplorasi, refinement, dan pengembangan desain. Teknologi membantu mempercepat iterasi sehingga arsitek dapat mencoba berbagai kemungkinan sebelum menentukan pilihan.
Perkembangan tersebut juga membuka peluang baru dalam penggunaan material.
Ketika AI dipadukan dengan teknologi seperti robotik, computer numerical control (CNC), dan digital fabrication, arsitek dapat mengeksplorasi bentuk yang semakin kompleks, termasuk dalam pemanfaatan batu alam.
Bukan Cuma soal Cepat
Persoalannya, membuat desain secara digital tentu berbeda dengan mewujudkannya menjadi sebuah ruang atau bangunan nyata.
Di sinilah material dan craftsmanship kembali memainkan peran penting.
Peter S. Tjioe melihat AI sebagai alat yang dapat memperluas kreativitas manusia. Teknologi memang mampu membantu desainer menghasilkan konsep dan visualisasi dengan kecepatan yang sebelumnya sulit dibayangkan.
Namun, menurut dia, sebuah karya tidak berhenti pada visual yang terlihat menarik di layar.
AI Webinar yang digelar MM Galleri pada 19 September 2026.
“Teknologi bisa menjadi alat yang sangat powerful, tetapi sebuah karya tetap membutuhkan soul dan sense of beauty. Ada rasa dan nilai artistik yang datang dari manusia,” ujar Peter.
Hal tersebut menjadi semakin relevan ketika berbicara mengenai material.
Pengalaman Peter mengeksplorasi natural stone sejak mendirikan MM Galleri pada 1992 menjadi salah satu konteks bagaimana teknologi dan inovasi material dapat berjalan beriringan.
Berbagai pengembangan, seperti ultra-thin stone dan Bended Marble Technology, menjadi bagian dari eksplorasi MM Galleri terhadap kemungkinan baru dalam pengolahan dan aplikasi batu alam.
Sebab, secanggih apa pun visual yang dihasilkan secara digital, material tetap memiliki karakter yang harus dipahami ketika masuk ke dunia nyata.
Tekstur, warna, pola, kekuatan, hingga cara material tersebut merespons ruang menjadi bagian dari keputusan desain yang tidak berhenti pada layar komputer.
Arsitek Tetap Dibutuhkan
Pandangan serupa disampaikan Mario Wibowo. Menurutnya, AI dan otomatisasi kemungkinan akan semakin masuk ke berbagai tahapan dalam dunia arsitektur.
Mulai dari konsep, desain, construction drawing, hingga kemungkinan penggunaan robot dalam proses konstruksi.
Namun, Mario menilai perkembangan tersebut justru membuat arsitek perlu memahami bagaimana menggunakan teknologi sebagai bagian dari pekerjaannya.
“Arsitek tidak mungkin tergantikan oleh AI. Justru kita harus menggunakan AI untuk membantu, karena speed-nya semakin lama semakin cepat,” ujar Mario.
Menurutnya, pertanyaan yang lebih relevan bukan sekadar apakah AI dapat mengerjakan pekerjaan arsitek, tetapi bagian mana dari proses desain yang tetap membutuhkan manusia.
Sebab, setiap pengguna memiliki kebutuhan yang berbeda.
Sebuah rumah, misalnya, bukan hanya persoalan bentuk yang terlihat menarik. Ada kebiasaan penghuni, kebutuhan ruang, kenyamanan, preferensi, hingga konteks kehidupan yang harus diterjemahkan ke dalam desain.
AI dapat menawarkan sejumlah alternatif. Namun, manusia tetap perlu menentukan apakah alternatif tersebut benar-benar sesuai dengan kebutuhan pengguna.
Sensitivitas, intuisi, feeling, dan kemampuan membaca kebutuhan manusia menjadi bagian yang masih sulit dipisahkan dari profesi arsitek.
Material Juga Ikut Berubah
Perubahan dalam teknologi desain pada akhirnya ikut mendorong perkembangan material.
Hengky Djaja mengatakan inovasi material perlu berjalan bersama dengan pertukaran pengetahuan. Menurutnya, arsitek dan desainer tidak cukup hanya melihat material dari sisi tampilannya.
Mereka juga perlu memahami karakter material dan bagaimana material tersebut dapat menjadi bagian dari sebuah karya.
“Kami ingin MM Galleri bukan sekadar showroom. Kami ingin menjadi ruang untuk berbagi pengetahuan dan berkolaborasi, sehingga desainer dan arsitek tidak hanya melihat material, tetapi memahami karakter serta bagaimana material tersebut dapat menjadi bagian dari sebuah karya,” ujar Hengky.
Semangat tersebut menjadi salah satu alasan MM Galleri menghadirkan MM Talk.
Program ini mempertemukan berbagai pelaku industri, mulai dari arsitek, desainer interior, developer, fotografer arsitektur, praktisi material, hingga narasumber internasional.
Khusus dalam MM Talk: AI Webinar, pembahasan mengenai AI ditujukan kepada arsitek dan desainer interior di berbagai daerah di Indonesia.
Format webinar juga memungkinkan akses terhadap pengetahuan tersebut tidak hanya terbatas bagi mereka yang berada di Jakarta.
Jadi, Siapa yang Mendesain Masa Depan?
Perkembangan AI memang membuat proses desain berubah. Pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan waktu panjang untuk menghasilkan berbagai alternatif kini dapat dilakukan jauh lebih cepat.
Tetapi kecepatan bukan satu-satunya ukuran dalam sebuah karya arsitektur.
Ada konteks, fungsi, material, pengalaman pengguna, estetika, hingga cerita yang ingin dibangun melalui sebuah ruang.
AI dapat membantu memperluas kemungkinan. Manusia tetap menentukan arah.
Karena itu, masa depan arsitektur mungkin bukan tentang memilih antara manusia atau teknologi.
Justru, keduanya berpotensi bekerja bersama: AI membantu arsitek mengeksplorasi lebih banyak kemungkinan, sementara manusia memberikan konteks, mempertimbangkan fungsi, memilih material, dan menentukan rasa yang ingin dihadirkan.
Dan ketika teknologi semakin cepat, kemampuan manusia untuk tahu kapan harus menggunakan AI dan kapan harus mengandalkan intuisi justru bisa menjadi bagian penting dari profesi arsitek ke depan.
MM Galleri sendiri berencana melanjutkan program MM Talk dalam format offline maupun webinar. Berbagai topik dan narasumber akan kembali dihadirkan untuk membuka ruang pertukaran pengetahuan serta kolaborasi di industri arsitektur, desain interior, dan batuan alam.
(FIR)