COMMUNITY
Memaksimalkan AI untuk Mempermudah Aktivitas dan Akses Layanan Publik
Elang Riki Yanuar
Rabu 30 September 2026 / 15:00
- Niriksagara mengembangkan AI untuk membantu pemerintah dan pengelola aset memetakan kerusakan serta menentukan prioritas perbaikan infrastruktur.
- Teknologi AI, Computer Vision, pemetaan digital, dan Digital Twin digunakan untuk mengolah data kondisi infrastruktur secara lebih terstruktur.
- Pemanfaatan AI diarahkan sebagai alat pendukung keputusan, bukan pengganti tenaga ahli, agar pengelolaan infrastruktur lebih terukur dan sesuai kebutuhan masyarakat.
Jakarta: Pemanfaatan kecerdasan buatan atau AI mulai diarahkan untuk membantu berbagai kebutuhan nyata di tengah perkembangan digitalisasi di Indonesia. Salah satunya dalam pengelolaan infrastruktur yang berkaitan langsung dengan aktivitas masyarakat.
Perusahaan teknologi asal Indonesia, Niriksagara, mengembangkan teknologi AI yang dapat membantu pemilik dan pengelola aset memahami kondisi infrastruktur berdasarkan data.
Teknologi tersebut memadukan AI, Computer Vision, pemetaan digital, dan Digital Twin. Data yang dikumpulkan dapat digunakan untuk melihat kondisi aset sekaligus membantu menentukan penanganan yang perlu diprioritaskan.
Menurut Niriksagara, tingkat kerusakan bukan satu-satunya hal yang perlu dipertimbangkan. Infrastruktur yang menjadi akses menuju rumah sakit, sekolah, pusat ekonomi, atau jalur distribusi dapat memiliki tingkat urgensi berbeda.
Pendekatan tersebut diharapkan membantu pemerintah maupun pengelola aset melihat dampak kerusakan terhadap mobilitas masyarakat dan akses terhadap layanan publik.
"Kami melihat bahwa tantangan pengelolaan infrastruktur bukan hanya persoalan menemukan kerusakan. Persoalan yang tidak kalah penting adalah bagaimana menentukan penanganan yang harus didahulukan, terutama ketika sumber daya dan anggaran yang tersedia terbatas," ujar Fransiscus Leonardo S., Co-Founder Niriksagara.
Teknologi yang dikembangkan juga dapat memanfaatkan foto, video, dan dokumentasi udara menggunakan drone untuk memetakan kondisi infrastruktur. Informasi tersebut kemudian dapat divisualisasikan melalui peta digital.
Computer Vision digunakan untuk membantu mengidentifikasi indikasi kerusakan pada jalan, bangunan, dan aset lainnya. Sementara Digital Twin dapat merepresentasikan aset fisik dalam bentuk model digital untuk mendukung pemantauan dan dokumentasi.
Bagi sektor pemerintah, teknologi tersebut berpotensi digunakan untuk inventarisasi, pemetaan, pemantauan, hingga membantu perencanaan pemeliharaan aset publik.
"Kami ingin membawa teknologi AI lebih dekat dengan persoalan nyata yang dihadapi perusahaan maupun pemerintah. Karena pada akhirnya, keberhasilan teknologi tidak hanya diukur dari seberapa canggih sistem yang dikembangkan, tetapi juga dari sejauh mana teknologi tersebut dapat membantu penggunanya mengambil keputusan yang lebih baik," ujar Fransiscus.
Pemanfaatan AI dalam konteks tersebut tidak dimaksudkan untuk menggantikan tenaga ahli. Teknologi diposisikan sebagai alat pendukung agar informasi lapangan dapat diolah dengan lebih terstruktur dan membantu proses pengambilan keputusan.
Pendekatan berbasis data juga dapat membantu menghubungkan kondisi infrastruktur dengan aktivitas masyarakat, mulai dari mobilitas hingga akses terhadap fasilitas publik dan kegiatan ekonomi.
Dengan pemanfaatan teknologi yang disesuaikan dengan kebutuhan dan standar teknis, pengelolaan infrastruktur diharapkan dapat menjadi lebih terukur. Pada akhirnya, pengembangan AI diarahkan bukan sekadar untuk menghadirkan teknologi baru, tetapi membantu menyelesaikan persoalan yang berhubungan dengan kebutuhan masyarakat
(ELG)
Perusahaan teknologi asal Indonesia, Niriksagara, mengembangkan teknologi AI yang dapat membantu pemilik dan pengelola aset memahami kondisi infrastruktur berdasarkan data.
Teknologi tersebut memadukan AI, Computer Vision, pemetaan digital, dan Digital Twin. Data yang dikumpulkan dapat digunakan untuk melihat kondisi aset sekaligus membantu menentukan penanganan yang perlu diprioritaskan.
Menurut Niriksagara, tingkat kerusakan bukan satu-satunya hal yang perlu dipertimbangkan. Infrastruktur yang menjadi akses menuju rumah sakit, sekolah, pusat ekonomi, atau jalur distribusi dapat memiliki tingkat urgensi berbeda.
Pendekatan tersebut diharapkan membantu pemerintah maupun pengelola aset melihat dampak kerusakan terhadap mobilitas masyarakat dan akses terhadap layanan publik.
"Kami melihat bahwa tantangan pengelolaan infrastruktur bukan hanya persoalan menemukan kerusakan. Persoalan yang tidak kalah penting adalah bagaimana menentukan penanganan yang harus didahulukan, terutama ketika sumber daya dan anggaran yang tersedia terbatas," ujar Fransiscus Leonardo S., Co-Founder Niriksagara.
Teknologi yang dikembangkan juga dapat memanfaatkan foto, video, dan dokumentasi udara menggunakan drone untuk memetakan kondisi infrastruktur. Informasi tersebut kemudian dapat divisualisasikan melalui peta digital.
Computer Vision digunakan untuk membantu mengidentifikasi indikasi kerusakan pada jalan, bangunan, dan aset lainnya. Sementara Digital Twin dapat merepresentasikan aset fisik dalam bentuk model digital untuk mendukung pemantauan dan dokumentasi.
Bagi sektor pemerintah, teknologi tersebut berpotensi digunakan untuk inventarisasi, pemetaan, pemantauan, hingga membantu perencanaan pemeliharaan aset publik.
"Kami ingin membawa teknologi AI lebih dekat dengan persoalan nyata yang dihadapi perusahaan maupun pemerintah. Karena pada akhirnya, keberhasilan teknologi tidak hanya diukur dari seberapa canggih sistem yang dikembangkan, tetapi juga dari sejauh mana teknologi tersebut dapat membantu penggunanya mengambil keputusan yang lebih baik," ujar Fransiscus.
Pemanfaatan AI dalam konteks tersebut tidak dimaksudkan untuk menggantikan tenaga ahli. Teknologi diposisikan sebagai alat pendukung agar informasi lapangan dapat diolah dengan lebih terstruktur dan membantu proses pengambilan keputusan.
Pendekatan berbasis data juga dapat membantu menghubungkan kondisi infrastruktur dengan aktivitas masyarakat, mulai dari mobilitas hingga akses terhadap fasilitas publik dan kegiatan ekonomi.
Dengan pemanfaatan teknologi yang disesuaikan dengan kebutuhan dan standar teknis, pengelolaan infrastruktur diharapkan dapat menjadi lebih terukur. Pada akhirnya, pengembangan AI diarahkan bukan sekadar untuk menghadirkan teknologi baru, tetapi membantu menyelesaikan persoalan yang berhubungan dengan kebutuhan masyarakat
(ELG)