COMMUNITY
Kenalan dengan Ecoprint, Seni Cetak Kain Pakai Daun
A. Firdaus
Sabtu 17 Oktober 2026 / 12:08
- Kenali teknik ecoprint pounding yang dipelajari Sindikasi Media Network di Wyndham Garden Yogyakarta.
- Pemilihan tumbuhan menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan.
- Workshop berbasis pengalaman seperti ini berpotensi menjadi alternatif kegiatan bagi wisatawan maupun tamu hotel.
Yogyakarta: Daun dan bunga tak hanya mempercantik taman, tetapi juga bisa menjadi inspirasi untuk menghasilkan karya tekstil yang unik. Melalui teknik ecoprint, bentuk dan warna alami tumbuhan dapat dipindahkan ke permukaan kain hingga membentuk motif artistik tanpa mengandalkan pewarna sintetis pada tahap pencetakan.
Teknik ini diperkenalkan dalam workshop ecoprint yang diikuti Sindikasi Media Network (SMN) di Wyndham Garden Yogyakarta. Kegiatan tersebut memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengenal sekaligus mempraktikkan proses pembuatan motif kain menggunakan bahan-bahan alami.
Salah satu metode yang dipelajari ialah ecoprint pounding, yakni teknik mencetak motif tumbuhan dengan cara memukul daun atau bunga menggunakan palu kayu. Metode ini relatif sederhana dan memungkinkan peserta bereksperimen dengan bentuk serta susunan tumbuhan untuk menghasilkan pola yang berbeda.
Dalam workshop tersebut, peserta diperkenalkan dengan berbagai alat dan bahan, mulai dari kain katun atau kanvas, daun, bunga, palu kayu, plastik pelapis, hingga tawas untuk membantu proses pengolahan warna.
Pemilihan tumbuhan menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Jenis daun dan bunga yang digunakan dapat memengaruhi warna maupun kejelasan motif yang tercetak. Karakter kain, kondisi tumbuhan, serta teknik pemukulan juga turut menentukan hasil akhir.
Proses pembuatan dimulai dengan menyiapkan kain sebagai media cetak. Daun atau bunga kemudian ditata di atas permukaan kain sesuai pola yang diinginkan. Agar bentuk tumbuhan tercetak dengan baik, bagian daun ditempatkan menempel pada kain sebelum ditutup menggunakan plastik pelapis.
Jenis daun dan bunga yang digunakan dapat memengaruhi warna maupun kejelasan motif yang tercetak. Dok.. Ist
Selanjutnya, peserta memukul permukaan daun secara merata menggunakan palu kayu. Proses ini membantu memindahkan pigmen dan bentuk tumbuhan ke serat kain. Ketelitian saat memukul diperlukan agar motif yang terbentuk terlihat lebih jelas dan tidak rusak.
Setelah proses pencetakan selesai, kain didiamkan sekitar 15 menit sebelum memasuki tahap pembilasan sesuai prosedur workshop. Tawas dapat digunakan dalam pengolahan tekstil untuk membantu proses fiksasi warna, meski penggunaannya perlu disesuaikan dengan bahan dan teknik yang diterapkan.
Kain kemudian dijemur hingga kering. Hasilnya berupa motif alami yang memiliki karakter berbeda, bergantung pada tumbuhan yang digunakan dan proses pembuatannya.
Ecoprint dapat dikembangkan menjadi beragam produk, mulai dari kain dekoratif, pakaian, tas, aksesori, hingga cendera mata. Motif yang dihasilkan cenderung memiliki karakter khas karena bentuk, tulang daun, dan pigmen setiap tumbuhan tidak selalu sama.
Meski terlihat sederhana, hasil ecoprint tetap membutuhkan perhatian terhadap pemilihan bahan, jenis kain, teknik pencetakan, dan pengolahan warna. Tahapan tersebut penting untuk menghasilkan motif yang menarik sekaligus menjaga ketahanan warna pada produk.
Selain menjadi aktivitas kerajinan, ecoprint juga membuka ruang bagi kreativitas dalam memanfaatkan bahan alam. Teknik ini dapat menjadi salah satu alternatif bagi pelaku industri kreatif untuk mengembangkan produk tekstil dengan nilai artistik dan karakter yang berbeda.
Partisipasi Sindikasi Media Network dalam workshop ecoprint di Wyndham Garden Yogyakarta turut memperkenalkan aktivitas kreatif yang dapat dikembangkan dalam ekosistem pariwisata dan ekonomi kreatif.
Workshop berbasis pengalaman seperti ini berpotensi menjadi alternatif kegiatan bagi wisatawan maupun tamu hotel. Pengunjung tidak hanya menikmati fasilitas penginapan, tetapi juga berkesempatan mengenal proses pembuatan kerajinan dan menghasilkan karya sendiri.
Kolaborasi antara sektor perhotelan, komunitas kreatif, dan pelaku media juga dapat membuka peluang untuk memperkenalkan kerajinan berbasis potensi lokal kepada masyarakat yang lebih luas.
Melalui ecoprint, tumbuhan yang kerap dijumpai sehari-hari dapat diolah menjadi karya tekstil bernilai estetis. Teknik ini sekaligus memperlihatkan bagaimana kreativitas dapat menjadi jembatan untuk mengenal pemanfaatan bahan alam melalui pengalaman yang praktis dan menyenangkan.
(FIR)
Teknik ini diperkenalkan dalam workshop ecoprint yang diikuti Sindikasi Media Network (SMN) di Wyndham Garden Yogyakarta. Kegiatan tersebut memberikan kesempatan kepada peserta untuk mengenal sekaligus mempraktikkan proses pembuatan motif kain menggunakan bahan-bahan alami.
Salah satu metode yang dipelajari ialah ecoprint pounding, yakni teknik mencetak motif tumbuhan dengan cara memukul daun atau bunga menggunakan palu kayu. Metode ini relatif sederhana dan memungkinkan peserta bereksperimen dengan bentuk serta susunan tumbuhan untuk menghasilkan pola yang berbeda.
Mengenal Teknik Ecoprint Pounding
Dalam workshop tersebut, peserta diperkenalkan dengan berbagai alat dan bahan, mulai dari kain katun atau kanvas, daun, bunga, palu kayu, plastik pelapis, hingga tawas untuk membantu proses pengolahan warna.
Pemilihan tumbuhan menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Jenis daun dan bunga yang digunakan dapat memengaruhi warna maupun kejelasan motif yang tercetak. Karakter kain, kondisi tumbuhan, serta teknik pemukulan juga turut menentukan hasil akhir.
Proses pembuatan dimulai dengan menyiapkan kain sebagai media cetak. Daun atau bunga kemudian ditata di atas permukaan kain sesuai pola yang diinginkan. Agar bentuk tumbuhan tercetak dengan baik, bagian daun ditempatkan menempel pada kain sebelum ditutup menggunakan plastik pelapis.

Jenis daun dan bunga yang digunakan dapat memengaruhi warna maupun kejelasan motif yang tercetak. Dok.. Ist
Selanjutnya, peserta memukul permukaan daun secara merata menggunakan palu kayu. Proses ini membantu memindahkan pigmen dan bentuk tumbuhan ke serat kain. Ketelitian saat memukul diperlukan agar motif yang terbentuk terlihat lebih jelas dan tidak rusak.
Setelah proses pencetakan selesai, kain didiamkan sekitar 15 menit sebelum memasuki tahap pembilasan sesuai prosedur workshop. Tawas dapat digunakan dalam pengolahan tekstil untuk membantu proses fiksasi warna, meski penggunaannya perlu disesuaikan dengan bahan dan teknik yang diterapkan.
Kain kemudian dijemur hingga kering. Hasilnya berupa motif alami yang memiliki karakter berbeda, bergantung pada tumbuhan yang digunakan dan proses pembuatannya.
Dari Kain Menjadi Produk Kreatif
Ecoprint dapat dikembangkan menjadi beragam produk, mulai dari kain dekoratif, pakaian, tas, aksesori, hingga cendera mata. Motif yang dihasilkan cenderung memiliki karakter khas karena bentuk, tulang daun, dan pigmen setiap tumbuhan tidak selalu sama.
Meski terlihat sederhana, hasil ecoprint tetap membutuhkan perhatian terhadap pemilihan bahan, jenis kain, teknik pencetakan, dan pengolahan warna. Tahapan tersebut penting untuk menghasilkan motif yang menarik sekaligus menjaga ketahanan warna pada produk.
Selain menjadi aktivitas kerajinan, ecoprint juga membuka ruang bagi kreativitas dalam memanfaatkan bahan alam. Teknik ini dapat menjadi salah satu alternatif bagi pelaku industri kreatif untuk mengembangkan produk tekstil dengan nilai artistik dan karakter yang berbeda.
Membuka Pengalaman Kreatif bagi Wisatawan
Partisipasi Sindikasi Media Network dalam workshop ecoprint di Wyndham Garden Yogyakarta turut memperkenalkan aktivitas kreatif yang dapat dikembangkan dalam ekosistem pariwisata dan ekonomi kreatif.
Workshop berbasis pengalaman seperti ini berpotensi menjadi alternatif kegiatan bagi wisatawan maupun tamu hotel. Pengunjung tidak hanya menikmati fasilitas penginapan, tetapi juga berkesempatan mengenal proses pembuatan kerajinan dan menghasilkan karya sendiri.
Partisipasi Sindikasi Media Network dalam workshop ecoprint di Wyndham Garden Yogyakarta turut memperkenalkan aktivitas kreatif yang dapat dikembangkan dalam ekosistem pariwisata dan ekonomi kreatif. Dok. SMN
Kolaborasi antara sektor perhotelan, komunitas kreatif, dan pelaku media juga dapat membuka peluang untuk memperkenalkan kerajinan berbasis potensi lokal kepada masyarakat yang lebih luas.
Melalui ecoprint, tumbuhan yang kerap dijumpai sehari-hari dapat diolah menjadi karya tekstil bernilai estetis. Teknik ini sekaligus memperlihatkan bagaimana kreativitas dapat menjadi jembatan untuk mengenal pemanfaatan bahan alam melalui pengalaman yang praktis dan menyenangkan.
(FIR)