BEAUTY
Chemical Peeling Ternyata Bisa Bantu Hilangkan Stretch Mark dan Kulit Ayam
A. Firdaus
Jumat 19 Juni 2026 / 13:09
- Prosedur ini juga dapat dimanfaatkan untuk membantu mengatasi berbagai masalah kulit di area tubuh lainnya.
- Chemical peeling menjadi salah satu prosedur peremajaan kulit yang cukup populer.
- Prosedur peremajaan kulit kini tidak lagi terbatas pada wajah.
Jakarta: Chemical peeling selama ini identik dengan perawatan wajah untuk membuat kulit tampak lebih cerah dan halus. Padahal, prosedur ini juga dapat dimanfaatkan untuk membantu mengatasi berbagai masalah kulit di area tubuh lainnya, mulai dari jerawat di punggung dan dada, kulit ayam atau keratosis pilaris, hingga stretch mark.
Dokter spesialis dermatologi, venereologi, dan estetika dr. Khalishaturrahmi Nasution, Sp.D.V.E mengatakan, chemical peeling telah lama digunakan dalam bidang dermatologi, bukan hanya untuk tujuan estetika tetapi juga membantu menangani sejumlah gangguan kulit.
"Selain untuk estetika, chemical peeling sudah sering kami gunakan di bidang dermatologi untuk mengobati jerawat di punggung dan dada, keratosis pilaris (kulit ayam), striae (stretch marks), hingga jamur kuku," kata dr. Khalishaturrahmi dalam Bamed Seminar Media bertajuk Comprehensive Aesthetic and Wellness: Integrated and Holistic Approach to Better Wellbeing di Jakarta.
Menurutnya, chemical peeling atau chemo-exfoliation merupakan prosedur pengaplikasian bahan kimia pada kulit yang bertujuan menciptakan luka terkontrol. Proses tersebut akan merangsang regenerasi sekaligus perbaikan jaringan kulit.
"Tujuan dari eksfoliasi ini adalah menunjang proses regenerasi dan remodeling kulit sehingga terjadi perbaikan tekstur, warna, dan kualitas kulit secara keseluruhan," ujarnya.
Dokter Khalishaturrahmi menjelaskan, chemical peeling menjadi salah satu prosedur peremajaan kulit yang cukup populer karena tergolong minim invasif dan tidak membutuhkan masa pemulihan yang lama.
Bahkan, prosedur ini dikenal dengan istilah lunchtime peel karena dapat dilakukan dalam waktu singkat sehingga pasien bisa langsung kembali beraktivitas setelah menjalani perawatan.
"Pasien datang saat jam istirahat kantor, lalu setelah itu bisa langsung kembali lagi ke kantornya," katanya.
Meski tergolong sederhana, Khalishaturrahmi mengingatkan bahwa pemilihan jenis chemical peeling tidak bisa dilakukan sembarangan. Setiap pasien memiliki karakteristik kulit yang berbeda sehingga tindakan yang diberikan harus disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.
Pada masyarakat Indonesia, prosedur yang paling sering dilakukan adalah very superficial peel atau superficial peel. Jenis peeling ini dinilai memiliki risiko efek samping yang lebih rendah dibandingkan peeling dengan kedalaman sedang maupun dalam.
Seiring perkembangan teknologi dermatologi, prosedur peremajaan kulit kini tidak lagi terbatas pada wajah. Berbagai tindakan juga dapat dilakukan pada area tubuh lain seperti leher, tangan, hingga kaki.
Menurut Khalishaturrahmi, tujuan utamanya bukan sekadar meningkatkan penampilan, tetapi juga menjaga kesehatan dan kualitas kulit secara menyeluruh.
Dengan penanganan yang tepat dan dilakukan oleh dokter, chemical peeling dapat menjadi salah satu pilihan perawatan yang aman untuk membantu memperbaiki berbagai masalah kulit tanpa harus menjalani prosedur invasif yang lebih kompleks.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
(FIR)
Dokter spesialis dermatologi, venereologi, dan estetika dr. Khalishaturrahmi Nasution, Sp.D.V.E mengatakan, chemical peeling telah lama digunakan dalam bidang dermatologi, bukan hanya untuk tujuan estetika tetapi juga membantu menangani sejumlah gangguan kulit.
"Selain untuk estetika, chemical peeling sudah sering kami gunakan di bidang dermatologi untuk mengobati jerawat di punggung dan dada, keratosis pilaris (kulit ayam), striae (stretch marks), hingga jamur kuku," kata dr. Khalishaturrahmi dalam Bamed Seminar Media bertajuk Comprehensive Aesthetic and Wellness: Integrated and Holistic Approach to Better Wellbeing di Jakarta.
Menurutnya, chemical peeling atau chemo-exfoliation merupakan prosedur pengaplikasian bahan kimia pada kulit yang bertujuan menciptakan luka terkontrol. Proses tersebut akan merangsang regenerasi sekaligus perbaikan jaringan kulit.
"Tujuan dari eksfoliasi ini adalah menunjang proses regenerasi dan remodeling kulit sehingga terjadi perbaikan tekstur, warna, dan kualitas kulit secara keseluruhan," ujarnya.
Dijuluki 'Lunchtime Peel'
Dokter Khalishaturrahmi menjelaskan, chemical peeling menjadi salah satu prosedur peremajaan kulit yang cukup populer karena tergolong minim invasif dan tidak membutuhkan masa pemulihan yang lama.
Bahkan, prosedur ini dikenal dengan istilah lunchtime peel karena dapat dilakukan dalam waktu singkat sehingga pasien bisa langsung kembali beraktivitas setelah menjalani perawatan.
"Pasien datang saat jam istirahat kantor, lalu setelah itu bisa langsung kembali lagi ke kantornya," katanya.
Jenis Peeling harus disesuaikan dengan kondisi kulit
Meski tergolong sederhana, Khalishaturrahmi mengingatkan bahwa pemilihan jenis chemical peeling tidak bisa dilakukan sembarangan. Setiap pasien memiliki karakteristik kulit yang berbeda sehingga tindakan yang diberikan harus disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing.
Pada masyarakat Indonesia, prosedur yang paling sering dilakukan adalah very superficial peel atau superficial peel. Jenis peeling ini dinilai memiliki risiko efek samping yang lebih rendah dibandingkan peeling dengan kedalaman sedang maupun dalam.
Bukan hanya wajah, leher hingga tangan juga bisa dirawat
Seiring perkembangan teknologi dermatologi, prosedur peremajaan kulit kini tidak lagi terbatas pada wajah. Berbagai tindakan juga dapat dilakukan pada area tubuh lain seperti leher, tangan, hingga kaki.
Menurut Khalishaturrahmi, tujuan utamanya bukan sekadar meningkatkan penampilan, tetapi juga menjaga kesehatan dan kualitas kulit secara menyeluruh.
Dengan penanganan yang tepat dan dilakukan oleh dokter, chemical peeling dapat menjadi salah satu pilihan perawatan yang aman untuk membantu memperbaiki berbagai masalah kulit tanpa harus menjalani prosedur invasif yang lebih kompleks.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FIR)