Jakarta: PT Pertamina (Persero) memastikan kesiapan sarana dan fasilitas energi di Jalur Pantai Utara (Pantura) untuk melayani lonjakan kebutuhan BBM dan LPG selama masa mudik Idulfitri 1447 Hijriah, terutama bagi pemudik yang melintas di jalur non-tol.
Fokus utama Pertamina adalah menjaga pasokan BBM di SPBU serta memberikan nilai tambah ekonomi bagi masyarakat melalui pelibatan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) binaan.
VP Corporate Communication PT Pertamina (Persero) Muhammad Baron mengatakan pihaknya telah memetakan titik rawan kemacetan di jalur Pantura.
”Kami telah memetakan titik-titik rawan kemacetan di Pantura. Sebagai langkah antisipasi, Pertamina menyiagakan Layanan Motoris (Pertamina Delivery Service) yang siap mengantarkan BBM dalam kemasan langsung ke lokasi kendaraan yang terjebak macet,” ujarnya.
Ia menambahkan, seluruh infrastruktur mulai dari Terminal BBM hingga SPBU di jalur kritikal disiagakan selama 24 jam guna mengantisipasi peningkatan volume kendaraan.
Salah satu SPBU yang menjadi favorit pemudik di jalur Pantura adalah SPBU Muri di Tegal, Jawa Tengah. SPBU ini pernah tercatat di Museum Rekor Indonesia pada 2008 karena memiliki 107 toilet, terdiri dari 31 toilet wanita, 11 toilet pria, dan 40 urinoir.
Selain itu, SPBU tersebut dilengkapi berbagai fasilitas seperti kolam renang, kursi pijat, musala, pusat oleh-oleh yang melibatkan UMKM, serta kantin.
”Kami juga menyediakan tempat penginapan yang bersih dan terjangkau,” kata Manajer SPBU Muri, Sinta Fitria.
Tak hanya di SPBU, Pertamina juga memiliki sejumlah tempat istirahat berbalut budaya lokal di wilayah Pantura. Antara lain, Danau Cinta Eco Resort yang dijuluki Bali van Sunda, yang terletak di Desa Energi Berdikari Walahar, Karawang, Jawa Barat.
”Danau ini awal mulanya mati dan terbengkalai,” ujar Manajer Danau Cinta Eco Resort, Enjang Ramdani.
Enjang mengatakan, Pertamina mengubah tempat itu menjadi destinasi wisata kreatif dan pusat ekonomi baru bagi masyarakat di Desa Walahar. Di sana, Pertamina menyulap danau yang awalnya terabaikan menjadi ajang edukasi energi baru terbarukan (EBT). Program ini merupakan bagian program Lingkungan, Sosial, dan Tata Kelola (ESG) Pertamina.
Menurut Enjang terdapat sejumlah sarana pembelajaran EBT yang bisa dinikmati oleh pengunjung seperti panel surya (solar panel), Hydro Fuel atau sistem berbasis hidro yang merujuk pada pemanfaatan energi air (Micro Hydro) sebagai sumber energi bersih untuk mendukung fasilitas wisata dan kebutuhaan masyarakat setempat. Bagi para pemotor tempat ini juga menjadi "paru-paru" pertama sebelum menghadapi rute panjang yang melelahkan.
Selain di Karawang, Pertamina juga memiliki kafe binaan yang menyediakan kopi serta teh untuk para pemotor yang melintasi kawasan Batang, Jawa Tengah.
”Kopi yang kami budayakan antara lain Arabica, Robusta, dan Liberica,” tutur Wiweko, pemilik sekaligus pengelola kafe yang berdiri sejak tahun 2016 ini.
Lantaran kafenya kerap memberikan pendampingan kepada lebih dari 1000 petani kopi di Batang, pada tahun 2018, We Coffee and Tea menjadi Mitra Binaan Pertamina. Pertamina memberikan ruang bagi Mitra Binaan, yang merupakan bagian dari program ESG, untuk menjajakan produk lokal baik di dalam area SPBU dan Rest Area maupun di luar area.
Langkah ini bertujuan agar arus mudik tidak hanya menjadi sumber pergerakan orang, tetapi juga menggerakkan ekonomi daerah yang dilalui.
"Pertamina ingin keberadaan SPBU dan mitra binaan dapat memberikan dampak nyata bagi warga lokal. Ini adalah komitmen Pertamina dalam mendukung pertumbuhan ekonomi inklusif," tambah Baron.
Baron juga mengimbau masyarakat untuk memenuhi tangki pengisian BBM kendaraan untuk kenyamanan berkendara.
“Kami berharap masyarakat bijak menggunakan energi, BBM dan LPG, sesuai kebutuhan,” tuturnya. Dok. Istimewa Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News