Jakarta: Banyak strategi korporasi di industri makanan dan minuman (mamin), untuk menggenjot pertumbuhan tahun ini. Salah satunya, dengan menyasar pasar ekspor.
Hal tersebut dilakukan PT Lovina Beach Brewery Tbk (STRK) untuk mendorong pertumbuhan kinerja pada 2026. Perusahaan menargetkan peningkatan pendapatan dan laba bersih dibandingkan tahun 2025, dengan kontribusi utama diharapkan berasal dari pasar ekspor.
“Fokus kami adalah memperluas kontribusi ekspor Pasar internasional memberikan peluang yang lebih luas dibandingkan pasar lokal saat ini,” kata Direktur Utama PT Lovina Beach Brewery Tbk, Bona Budhisurya, dalam keterangan tertulis, Kamis, 8 Januari 2026.
Strategi ini ditempuh seiring dengan tantangan yang masih dihadapi pasar domestik, terutama terkait daya beli dan perlambatan konsumsi. Manajemen menilai pasar internasional menawarkan ruang pertumbuhan yang lebih besar, khususnya untuk produk minuman siap saji dan premium.
Tiga produk yang diperkenalkan untuk mendukung strategi ini adalah COCO BALI di segmen ready to drink, serta CLARISSA dan LIBARRON di segmen minuman beralkohol premium. Ketiganya dikembangkan dengan mempertimbangkan preferensi pasar internasional, khususnya di Jepang dan China, serta tengah dijajaki untuk masuk ke Eropa dan Amerika Serikat.
Menurut Bona, kondisi pasar domestik yang masih lemah menjadi salah satu pertimbangan utama perusahaan untuk mempercepat ekspansi ke luar negeri.
“Ketika pasar lokal melambat, perusahaan perlu mencari sumber pertumbuhan lain. Pasar ekspor menjadi salah satu opsi yang realistis," ujar Bona.
Pihaknya telah menandatangani Letter of Intent dengan Naoyoshi Co., Ltd., perusahaan logistik dan distribusi di Jepang, untuk mendukung pemasaran COCO BALI RTD serta produk spirit lainnya. Jepang dinilai sebagai pasar yang potensial, terutama untuk kategori RTD yang pertumbuhannya relatif stabil di kawasan Asia Pasifik.
Bona menyebutkan bahwa bahkan pangsa pasar yang kecil dapat berdampak signifikan terhadap kebutuhan produksi. Saat ini, fasilitas produksi Perseroan di Singaraja memiliki kapasitas sekitar 3.000 botol per jam. Ke depan, kapasitas tersebut direncanakan meningkat secara bertahap hingga mencapai 20.000 botol per jam.
Dalam jangka pendek, Perseroan memilih memaksimalkan pemanfaatan tenaga kerja lokal dibandingkan investasi besar pada otomatisasi.
“Pendekatan ini memungkinkan kami meningkatkan kapasitas sambil tetap melibatkan tenaga kerja lokal,” ujar Bona.
COCO BALI disiapkan sebagai produk utama di segmen RTD. Minuman ini menggunakan coconut kopyor dengan varian sparkling agave dan golden salak. Bahan baku utama diperoleh dari perkebunan agave di Nusa Penida, Bali.
Bona menilai tren global menunjukkan peningkatan minat terhadap minuman dengan kadar gula dan alkohol yang lebih rendah, terutama di kalangan konsumen muda.
CLARISSA dan LIBARRON ditujukan untuk pasar premium di wilayah seperti Amerika, Eropa, dan Meksiko, yang dikenal memiliki minat terhadap produk craft dengan karakter dan asal-usul yang jelas. Pada tahap awal, Perseroan memproyeksikan sekitar 60 persen pendapatan berasal dari ekspor dan 40 persen dari pasar domestik. Komposisi ini berpotensi berubah jika kontrak dari pasar internasional mulai terealisasi.
Selain itu, Perseroan tengah mengembangkan produk spirit berbasis agave dari bahan baku Bali yang saat ini masih dalam tahap penjajakan pasar. Sepanjang 2024, Lovina mencatatkan penjualan sebesar Rp 29,8 miliar. Perseroan berharap strategi ekspansi global dapat menjadi salah satu pendorong perbaikan kinerja dalam beberapa tahun ke depan. Dok. Istimewa.
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News