Pesan tersebut mengemuka dalam Pertemuan Ilmiah Fasilitas Kesehatan Indonesia (PIFKI) IV yang dirangkaikan dengan peringatan Hari Ulang Tahun ke-6 Lembaga Akreditasi Fasilitas Kesehatan Indonesia (LAFKI) di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Sabtu, 13 Juni 2026.
Kegiatan yang mengusung tema 'Transformasi Global Mutu Pelayanan Kesehatan Berbasis Kearifan Lokal' itu dihadiri Direktur Utama BPJS Kesehatan, Wakil Gubernur Nusa Tenggara Barat, pimpinan fasilitas kesehatan, organisasi profesi, akademisi, serta berbagai pemangku kepentingan sektor kesehatan dari seluruh Indonesia.
Mutu Pelayanan dan Empati Tetap Menjadi Prioritas
Ketua Panitia PIFKI IV dan HUT ke-6 LAFKI, DR. Cashtry Meher, menilai tantangan terbesar dalam transformasi kesehatan bukan sekadar mempercepat perubahan, melainkan memastikan manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat."Tantangan terbesarnya bukan bagaimana berubah lebih cepat, tetapi bagaimana memastikan masyarakat benar-benar merasakan manfaat dari perubahan itu. Transformasi yang tidak dirasakan pasien hanya akan menjadi perubahan di atas kertas," kata Cashtry dalam keterangan pers.
Menurutnya keberhasilan transformasi kesehatan pada akhirnya diukur dari kualitas pelayanan yang diterima masyarakat, bukan hanya dari jumlah kebijakan atau teknologi yang diterapkan.
Cashtry menjelaskan bahwa perkembangan AI dan digitalisasi memang membuka peluang besar untuk meningkatkan efisiensi layanan kesehatan. Namun, ia mengingatkan bahwa aspek empati tetap menjadi bagian penting yang tidak dapat digantikan teknologi.
"AI bisa membantu mengambil keputusan lebih cepat, tetapi sampai hari ini belum ada teknologi yang mampu menggantikan empati. Pasien datang bukan hanya membawa data, tetapi juga membawa kecemasan, harapan, dan kepercayaan. Masyarakat tidak menuntut pelayanan yang sempurna, tetapi ingin merasa aman, didengar, dan yakin bahwa mereka berada di tangan yang tepat," katanya.
Momentum PIFKI IV sekaligus menjadi refleksi enam tahun perjalanan LAFKI dalam mendorong penguatan budaya mutu dan keselamatan pasien di berbagai fasilitas kesehatan di Indonesia.
Ketua Umum LAFKI, Benny H. Tumbelaka, mengatakan lembaganya akan terus memperkuat peran sebagai mitra strategis dalam meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan nasional.
"Enam tahun adalah fondasi yang penting. Ke depan, LAFKI ingin memastikan budaya mutu tidak hanya hadir saat proses akreditasi berlangsung, tetapi menjadi bagian dari pelayanan sehari-hari. Mutu harus menjadi budaya kerja, bukan sekadar dokumen penilaian," ungkap Benny.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut juga dilakukan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara LAFKI dan PT Sucofindo sebagai bentuk penguatan kolaborasi untuk mendukung peningkatan mutu, tata kelola, serta pengembangan kapasitas pelayanan kesehatan di Indonesia.
Selain forum ilmiah, peringatan HUT ke-6 LAFKI juga diisi dengan kegiatan bakti sosial kesehatan di UPT BLUD Puskesmas Narmada, Lombok Barat. Kegiatan tersebut meliputi skrining kesehatan, konsultasi, edukasi kesehatan, hingga pelayanan kesehatan bagi masyarakat setempat.
Melalui kegiatan tersebut, LAFKI menegaskan bahwa keberhasilan transformasi kesehatan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi dan modernisasi sistem, tetapi juga oleh kemampuan seluruh pemangku kepentingan dalam menjaga mutu pelayanan, memperkuat keselamatan pasien, serta memastikan setiap perubahan tetap berorientasi pada manusia. Dok. Istimewa Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News