Jakarta: Tokoh perempuan adat asal Merauke, Papua Selatan, Yasinta Moiwend atau Mama Sinta mengaku kecewa terhadap pihak-pihak yang selama ini mendampinginya dalam penolakan Proyek Strategis Nasional (PSN) lumbung pangan di Papua Selatan. Kini, ia menyatakan mendukung program pemerintah tersebut.
Mama Sinta mengatakan dirinya sudah tidak lagi bergabung dengan kelompok pendamping hukum yang sebelumnya mengajaknya menyuarakan penolakan terhadap proyek di Papua Selatan.
"Sekarang saya tidak bergabung lagi dengan LBH mereka, saya sudah ambil keputusan sendiri. Jadi saya mau cari pekerjaan di perusahaan, cari pekerjaan karena rumah saya ingin direhab karena sudah tidak layak lagi," kata Mama Sinta, Minggu, 24 Mei 2026.
Ia mengaku membutuhkan pekerjaan untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup keluarga, termasuk ketiga anaknya.
"Jadi mama harap ke depan mohon dibantu. Saya tetap di pihak perusahaan sekarang, tidak seperti dulu lagi karena dulu itu saya dimanfaatkan, saya diajak oleh orang-orang LBH," jelasnya.
Mama Sinta menceritakan awalnya dirinya bersama kelompok masyarakat adat Marind diajak untuk menyuarakan penolakan terhadap pembukaan lahan di Papua Selatan. Namun, menurut dia, pernyataannya kemudian viral di media sosial tanpa persetujuannya.
“Itu yang saya kecewa sekali sekarang dengan mereka LBH,” tutur Mama Sinta.
Ia juga mengaku sudah tidak lagi berkomunikasi dengan pihak LBH Papua Pusaka setelah peristiwa tersebut. Mama Sinta turut menyampaikan permintaan maaf kepada pemerintah terkait pernyataannya selama ini yang dianggap menyerang pembangunan PSN di Papua Selatan.
“Saya minta maaf sekali karena itu bukan kemauan saya, itu karena ajakan mereka. Saya juga tidak tahu ke depannya nanti terjadi seperti apa atau mereka bantu saya fasilitas punya rumah atau anak saya dipekerjakan, ternyata tidak ada,” ungkapnya.
Mama Sinta juga memperlihatkan kondisi rumahnya yang menurut dia sudah tidak layak, termasuk dapur dan kompor yang digunakan sehari-hari.
"Sumbunya sudah habis, jadi kalau saya bakar memang nyala tapi yang di sumbunya tidak bisa naik, terpaksa saya pakai kayu bakar," ucap Mama Sinta.
Menurut pengakuannya, selama mendampingi penolakan PSN, ia beberapa kali pergi ke Jayapura, Makassar, hingga Jakarta bersama kelompok pendamping hukum selama sekitar enam bulan.
"Yang saya dapat cuma capeknya saja. Mereka fasilitasi, jadi kalau mereka fasilitas terus uang duduknya cuma Rp2 juta, Rp1,5 juta itu saja yang kami dapat dari mereka, LBH pusaka," ungkapnya.
Mama Sinta kemudian menyadari bahwa dirinya telah dimanfaatkan, sementara untuk kehidupan yang layak tak bisa ia dapatkan setelah bersuara lantang. Alhasil kini Mama Sinta memilih untuk mendukung program Pemerintahan Prabowo Subianto melalui pembangunan Proyek Strategis Nasional (PSN) di Papua dan memohon bantuan dari pemerintah.
"Pemerintah bisa membantu kita lewat perusahaan yang ada. Dan kami mendukung karena kami tidak punya apa-apa di kampung ini. Harapan kami cuma ke pemerintah, lewat pemerintah kerja sama dengan perusahaan dengan masyarakat, maka itu kami mau dukung, perusahaan boleh lanjut sampai kami bisa menikmati hasil yang perusahaan sudah berikan," tutur Mama Sinta.
Sementara itu, Peneliti Pusaka Bentala Rakyat Villarian atau Juple membantah pernyataan bahwa Mama Sinta mendukung PSN Papua Selatan. Ia menyebut hingga saat ini pihaknya masih berkomitmen menolak proyek tersebut.
“Enggak ada, itu perlu diklarifikasi, itu informasi dari mana karena Mama Yasinta itu bersama-sama dengan kita, bersama-sama dengan LBH Merauke, Pusaka Bentala Rakyat dan organisasi-organisasi lain itu berkomitmen untuk terus menolak PSN yang ada di Papua Selatan,” kata Juple, Sabtu, 23 Mei 2026. Dok. Istimewa
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News