Sejumlah petugas Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) saat memeriksa barang bukti penyelundupan ikan patin ilegal di ruang penyimpanan PSKDP (Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan) Jakarta Utara.
Sejumlah petugas Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) saat memeriksa barang bukti penyelundupan ikan patin ilegal di ruang penyimpanan PSKDP (Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan) Jakarta Utara.
Operasi gabungan KKP bersama Polri itu berhasil menggagalkan penyelundupan 54,97 ton ikan patin fillet senilai Rp2,7 miliar dari Pangkal Balam, Bangka Belitung.
Operasi gabungan KKP bersama Polri itu berhasil menggagalkan penyelundupan 54,97 ton ikan patin fillet senilai Rp2,7 miliar dari Pangkal Balam, Bangka Belitung.

Penyelundupan 54,9 Ton Ikan Patin Digagalkan

News penyelundupan
10 Agustus 2020 19:28
Jakarta: Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) bersama Kepolisian RI menggagalkan penyelundupan sebanyak 54,97 ton ikan patin berbentuk fillet yang diperkirakan senilai Rp 2,7 miliar.

Direktur Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP), TB Haeru Rahayu mengungkap, kronologi bermula dari pemantauan jajaran Satwas SDKP Bangka Belitung yang mengendus adanya pergerakan kapal pengangkut ikan ilegal di Pangkal Balam, Bangka Belitung. 

Kemudian pada 26 Juli 2020, petugas berkoordinasi dengan Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) terkait keberadaan kapal tersebut.

TB Haeru menjelaskan, tim PSDKP mendapat informasi bahwa pada 3 Agustus, ikan hasil selundupan tersebut sudah dipecah dalam 4 mobil kontainer. 

Mengetahui hal ini, jajarannya segera menyusun siasat dan bekerja sama dengan Kepolisian Perairan dan Udara (Polairud) untuk melakukan tangkap tangan. 

Hasilnya, aparat gabungan menangkap 2 mobil kontainer dengan normor polisi B 9107 DEV dan B 9125 NYR pada 7 Agustus 2020. Keesokan harinya, dua mobil kontainer lain bernomor polisi B 9011 GEU dan B 9013 NGU juga berhasil diringkus aparat gabungan.

Tb menyebut, penyelundupan ikan patin fillet ini sangat berpotensi menimbulkan kerugian bagi nelayan dan usaha perikanan Indonesia. ANTARA Foto/Fakhri Hermansyah

(KHL)

Bagaimana tanggapan anda mengenai foto ini?

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif