Boyolali menjadi salah satu daerah di Indonesia yang mengimplementasikan teknologi melalui sistem pemungutan suara secara elektronik atau e-voting. Menurut Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (Dispermasdes), pada 2019 ini Kabupaten Boyolali telah melaksanakan sistem e-voting tingkat kepala desa untuk keempat kalinya.
Boyolali menjadi salah satu daerah di Indonesia yang mengimplementasikan teknologi melalui sistem pemungutan suara secara elektronik atau e-voting. Menurut Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (Dispermasdes), pada 2019 ini Kabupaten Boyolali telah melaksanakan sistem e-voting tingkat kepala desa untuk keempat kalinya.
Sebanyak 229 desa di Boyolali melaksanakan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak pada 29 Juni 2019, yang dilakukan dengan cara dua metode yaitu konvensional atau mencoblos di 160 desa dan sebanyak 69 desa menggunakan e-voting.
Sebanyak 229 desa di Boyolali melaksanakan pemilihan kepala desa (pilkades) serentak pada 29 Juni 2019, yang dilakukan dengan cara dua metode yaitu konvensional atau mencoblos di 160 desa dan sebanyak 69 desa menggunakan e-voting.
Berbagai perangkat keras sebagai penunjang e-voting disiapkan seperti komputer layar sentuh, laptop, 'smart card' atau kartu pemilih elektronik, alat pembaca kartu dan printer. Begitu juga perangkat lunak seperti aplikasi data daftar pemilih tetap dan aplikasi pemilihan kepala desa yang saling terintegrasi.
Berbagai perangkat keras sebagai penunjang e-voting disiapkan seperti komputer layar sentuh, laptop, 'smart card' atau kartu pemilih elektronik, alat pembaca kartu dan printer. Begitu juga perangkat lunak seperti aplikasi data daftar pemilih tetap dan aplikasi pemilihan kepala desa yang saling terintegrasi.
Proses pemungutan suara berbasis elektronik itu pun terbilang mudah dan cepat. Pemilih tetap datang ke tempat pemungutan suara dengan menunjukan surat undangn dari panitia langsung dicocokan dengan data pemilih tetap desa, kemudian diberikan 'smart card' atau kartu pemilih elektronik untuk memilih calon.
Proses pemungutan suara berbasis elektronik itu pun terbilang mudah dan cepat. Pemilih tetap datang ke tempat pemungutan suara dengan menunjukan surat undangn dari panitia langsung dicocokan dengan data pemilih tetap desa, kemudian diberikan 'smart card' atau kartu pemilih elektronik untuk memilih calon.
Setelah tombol foto calon dipilih kemudian keluar kertas 'barcode' yang kemudian dilipat dan dimasukkan ke kotak suara.
Setelah tombol foto calon dipilih kemudian keluar kertas 'barcode' yang kemudian dilipat dan dimasukkan ke kotak suara.
Dengan adanya perkembangan teknologi sistem e-voting tersebut diharapkan dapat mengurangi penggunaan kertas, mempercepat waktu hasil penghitungan serta akuntabel.
Dengan adanya perkembangan teknologi sistem e-voting tersebut diharapkan dapat mengurangi penggunaan kertas, mempercepat waktu hasil penghitungan serta akuntabel.
Semoga ke depannya, sistem ini mampu diterapkan untuk pemungutan suara yang lebih besar seperti Pilkada atau Pilpres.
Semoga ke depannya, sistem ini mampu diterapkan untuk pemungutan suara yang lebih besar seperti Pilkada atau Pilpres.

Keren, Pilkades di Boyolali Gunakan E-Voting

News pilkada
04 Juli 2019 12:14
Boyolali: Dunia teknologi saat ini mengalami perkembangan yang sangat cepat di segala bidang yang bertujuan untuk mempermudah aktivitas manusia. Tidak luput juga perkembangan teknologi dalam sistem pemungutan suara secara elektronik atau e-voting. Antara Foto/Aloysius Jarot Nugroho
(WWD)

Bagaimana tanggapan anda mengenai foto ini?

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif