Seorang laki-laki dan perempuan tampak tengah bersantai. Mereka duduk pada alas bekas spanduk partai politik di bawah rimbun pepohonan. Di sampingnya, terdapat gubuk reyot berbahan plastik. Ukurannya hanya sekitar 1 x 3 meter tapi menjadi tempat tinggal mereka.?
Seorang laki-laki dan perempuan tampak tengah bersantai. Mereka duduk pada alas bekas spanduk partai politik di bawah rimbun pepohonan. Di sampingnya, terdapat gubuk reyot berbahan plastik. Ukurannya hanya sekitar 1 x 3 meter tapi menjadi tempat tinggal mereka.?
Mereka adalah Tarso (70) dan Sugiyani (40). Pasangan suami istri ini yang sudah menempati gubuk di pinggir tebing Sungai Banjaran itu selama lima tahun. ?
Mereka adalah Tarso (70) dan Sugiyani (40). Pasangan suami istri ini yang sudah menempati gubuk di pinggir tebing Sungai Banjaran itu selama lima tahun. ?
Lokasi mereka secara administratif berada di wilayah perkotaan yakni Kelurahan Kedungwuluh, Kecamatan Purwokerto Barat, tetapi daerahnya agak terpencil. Untuk sampai gubuk mereka harus berjalan kaki sekitar satu kilometer dari jalan desa, kemudian melewati sawah dan jalan setapak di perkebunan.?
Lokasi mereka secara administratif berada di wilayah perkotaan yakni Kelurahan Kedungwuluh, Kecamatan Purwokerto Barat, tetapi daerahnya agak terpencil. Untuk sampai gubuk mereka harus berjalan kaki sekitar satu kilometer dari jalan desa, kemudian melewati sawah dan jalan setapak di perkebunan.?
Kayu bakar menjadi andalan mereka untuk memasak, sedangkan untuk mandi menjadi satu di gubuknya tersebut.
Kayu bakar menjadi andalan mereka untuk memasak, sedangkan untuk mandi menjadi satu di gubuknya tersebut.
Jika malam tiba, suasana sekitar rumah sangat sepi, karena memang jauh dari permukiman penduduk. Listrik pun tak ada, hanya mengandalkan nyala lilin.?
Jika malam tiba, suasana sekitar rumah sangat sepi, karena memang jauh dari permukiman penduduk. Listrik pun tak ada, hanya mengandalkan nyala lilin.?
Tarso memilih berada di gubuk tersebut karena tidak memiliki rumah yang layak.
Tarso memilih berada di gubuk tersebut karena tidak memiliki rumah yang layak.
Ia mengaku sudah meminta izin dengan pemilik tanah sehingga tak perlu membayar biaya sewa.?
Ia mengaku sudah meminta izin dengan pemilik tanah sehingga tak perlu membayar biaya sewa.?

Kisah Kakek Tarso dan Istri Tinggal di Gubuk Plastik di Purwokerto

News kemiskinan
08 Juli 2020 21:53
Purwokerto: Seorang laki-laki dan perempuan tampak tengah bersantai. Mereka duduk pada alas bekas spanduk partai politik di bawah rimbun pepohonan. Di sampingnya, terdapat gubuk reyot berbahan plastik. Ukurannya hanya sekitar 1 x 3 meter tapi menjadi tempat tinggal mereka.?
?
Mereka adalah Tarso (70) dan Sugiyani (40). Pasangan suami istri ini yang sudah menempati gubuk di pinggir tebing Sungai Banjaran itu selama lima tahun. ?
?
Lokasi mereka secara administratif berada di wilayah perkotaan yakni Kelurahan Kedungwuluh, Kecamatan Purwokerto Barat, tetapi daerahnya agak terpencil. Untuk sampai gubuk mereka harus berjalan kaki sekitar satu kilometer dari jalan desa, kemudian melewati sawah dan jalan setapak di perkebunan.?

Kayu bakar menjadi andalan mereka untuk memasak, sedangkan untuk mandi menjadi satu di gubuknya tersebut.
?
"Beruntung saat ini mulai tidak hujan, sehingga kalau tidur tidak was-was. Pada musim penghujan, gubuk ini bocor, sehingga jelas tidak bisa tidur pulas," ungkap Sugiyani saat ditemui, Rabu, 8 Juli 2020.?
?
Jika malam tiba, suasana sekitar rumah sangat sepi, karena memang jauh dari permukiman penduduk. Listrik pun tak ada, hanya mengandalkan nyala lilin.?
?
Tarso memilih berada di gubuk tersebut karena tidak memiliki rumah yang layak. Ia mengaku sudah meminta izin dengan pemilik tanah sehingga tak perlu membayar biaya sewa.?
?
"Saya kemudian membuat gubuk sebagai tempat istirahat jika malam datang. Bahannya ya seperti ini, hanya menggunakan plastik. Memang kalau hujan dipastikan bocor. Tetapi mau bagaimana lagi, saya harus menerima kondisi," ungkap Tarso yang mengaku tidak memiliki penghasilan tetap. ?
?
"Saya kerjanya hanya memancing sidat. Kalau dapat lumayan, satu kilogram (kg) bisa dijual Rp200 ribu. Jika tidak dapat, belum rezekinya. Dijalani saja, yang penting saya di sini masih diperbolehkan. Apalagi diberi izin menanam singkong juga," ujarnya.?
?
"Seingat saya pernah mendapat bantuan sembako tetapi sudah lama. Jika selama pandemi sekarang, saya tidak memperoleh. Ya, mau bagaimana lagi. Mungkin mereka tidak tahu rumah saya di sini," pungkasnya. MI/Liliek Dharmawan

(KHL)

Bagaimana tanggapan anda mengenai foto ini?

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif