Uskup Agung Merauke, Mgr. Petrus Canisius Mandagi, MSC, membantah narasi dalam sebuah film dokumenter yang menyinggung sikap Keuskupan Agung Merauke terhadap Proyek Strategis Nasional (PSN) di Papua Selatan.
Uskup Agung Merauke, Mgr. Petrus Canisius Mandagi, MSC, membantah narasi dalam sebuah film dokumenter yang menyinggung sikap Keuskupan Agung Merauke terhadap Proyek Strategis Nasional (PSN) di Papua Selatan.
“Bagi saya film itu memang bersifat betul-betul provokatif. Tetapi dalam menonton jangan hilang otak kita, daya kritis kita. Apa tujuan dari film itu? Orang yang membuat film ini tidak tinggal di Papua,” kata Uskup Mandagi.
“Bagi saya film itu memang bersifat betul-betul provokatif. Tetapi dalam menonton jangan hilang otak kita, daya kritis kita. Apa tujuan dari film itu? Orang yang membuat film ini tidak tinggal di Papua,” kata Uskup Mandagi.
Uskup Mandagi mempertanyakan alasan pihak pembuat dokumenter tidak meminta klarifikasi langsung kepada dirinya maupun para pastor di wilayah Merauke sebelum menampilkan narasi tersebut.
Uskup Mandagi mempertanyakan alasan pihak pembuat dokumenter tidak meminta klarifikasi langsung kepada dirinya maupun para pastor di wilayah Merauke sebelum menampilkan narasi tersebut.

Keuskupan Agung Merauke Tegaskan Sikap soal PSN Papua Selatan dan Kritik Narasi Dokumenter

25 Mei 2026 14:13

Jakarta: Uskup Agung Merauke, Mgr. Petrus Canisius Mandagi, MSC, membantah narasi dalam sebuah film dokumenter yang menyinggung sikap Keuskupan Agung Merauke terhadap Proyek Strategis Nasional (PSN) di Papua Selatan.

Pernyataan itu disampaikan Uskup Mandagi dalam sebuah video yang beredar dan dilihat pada Senin, 25 Mei 2026. Dalam video tersebut, ia menilai isi dokumenter bersifat provokatif dan tidak menyajikan pandangan secara berimbang.

“Bagi saya film itu memang bersifat betul-betul provokatif. Tetapi dalam menonton jangan hilang otak kita, daya kritis kita. Apa tujuan dari film itu? Orang yang membuat film ini tidak tinggal di Papua,” kata Uskup Mandagi.

Ia menegaskan sejumlah narasi dalam tayangan tersebut terkait Keuskupan Agung Merauke tidak sesuai fakta. Menurut dia, dokumenter itu menggambarkan seolah-olah pihak keuskupan mendukung penuh PSN dan bekerja sama dengan perusahaan yang dituding merusak lingkungan di Papua Selatan.

“Dikatakan bahwa Keuskupan Agung Merauke menyetujui, menerima PSN. Keuskupan Agung Merauke, khususnya uskup menjual tanah. Keuskupan Agung Merauke, khususnya uskup bekerja sama dengan perusahaan-perusahaan yang menghancurkan katakanlah hutan Papua Selatan terlebih kelapa sawit, hutan sawit. Ini dan dikatakan juga bukan hanya kerja sama, tapi mendapat dana lagi. Jadi seolah-olah Keuskupan Agung Merauke sudah disuap,” ujarnya.

Uskup Mandagi mempertanyakan alasan pihak pembuat dokumenter tidak meminta klarifikasi langsung kepada dirinya maupun para pastor di wilayah Merauke sebelum menampilkan narasi tersebut.

"Pertanyaannya, benarkah ini? Kenapa sutradara film ini tidak datang tanya kepada uskup? Tidak datang tanya kepada pastor-pastor yang ada di tempat itu dan hanya mendengar dari orang-orang yang punya tujuan yang sama dengan sutradara itu. Kenapa? Ada apa?", tanya dia.

Ia mengaku sedih dengan isi pemberitaan mengenai Keuskupan Agung Merauke dalam dokumenter tersebut. Menurut dia, pihak-pihak yang ditampilkan dalam tayangan itu tidak memahami perjalanan dan peran gereja dalam mendampingi masyarakat di Papua Selatan.

Uskup Mandagi juga menilai narasumber yang ditampilkan dalam dokumenter dipilih berdasarkan kesamaan pandangan dengan pembuat tayangan dan pihak pendukungnya.

"Jadi ada apa-apa, cuma diminta ke orang-orang yang setuju, sealiran dengan sutradara, dan juga sealiran dengan pemberi dana. Barangkali itu cuma isu, pemberi dana," katanya. Dok. Istimewa



Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


(CDE)

News Papua Selatan Proyek Strategis Nasional