Petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh memperlihatkan barang bukti kulit harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) saat penyerahan barang bukti (BB) di Kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Aceh Timur, Selasa, 13 Oktober 2020.
Petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh memperlihatkan barang bukti kulit harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) saat penyerahan barang bukti (BB) di Kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Aceh Timur, Selasa, 13 Oktober 2020.
Kejari Aceh Timur menyerahkan barang bukti berupa kulit harimau, taring harimau, taring beruang madu, dan 20 kuku beruang madu hasil kejahatan perdagangan satwa dilindungi kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh.
Kejari Aceh Timur menyerahkan barang bukti berupa kulit harimau, taring harimau, taring beruang madu, dan 20 kuku beruang madu hasil kejahatan perdagangan satwa dilindungi kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh.

Kejari Aceh Timur Serahkan Kulit Harimau Sumatera ke BKSDA

News satwa langka
13 Oktober 2020 17:17
Aceh: Kejaksaan Negeri (Kejari) Aceh Timur mengembalikan barang bukti perkara perdagangan satwa dilindungi berupa kulit harimau ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh. 

Kepala Kejari Aceh Timur Abun Hasbulloh Syambas mengatakan pengembalian barang bukti ke BKSDA Aceh menyusul inkrahnya kasus perdagangan satwa dilindungi tersebut. Keempat tersangka juga sudah menerima putusan Pengadilan Negeri (PN) Idi dengan vonis masing-masing terdakwa 3 tahun penjara.
 
“Awalnya kita masih pikir-pikir, namun karena melihat putusan sudah di atas 2/3 dari tuntutan, maka kita juga menerima dengan putusan majelis hakim,” kata Abun.

Sementara koordinator ahli satwa liar BKSDA Aceh Taing Lubis mengapresiasi tuntutan jaksa dalam kasus perdagangan satwa dilindungi dengan yakni 4 tahun 6 bulan terhadap masing-masing terdakwa. 

“Tuntutan dan putusan aparat penegak hukum ini kita nilai sudah maksimal. Mudah-mudahan akan memberi efek jera terhadap keempat pelaku yang terlibat dalam aksi perdagangan kasus satwa dilindungi ini,” kata Taing Lubis.

Ia juga berharap, kasus serupa tidak terulang di Aceh khususnya di Kabupaten Aceh Timur. 

“Perburuan harimau sumatera masih terjadi di Aceh dan sebagian besar kulit dan tulang belulang harimau ini dijual ke luar Aceh dengan harga yang menggiurkan. Namun harapan kita aksi perburuan dan perdagangan satwa dilindungi ini tidak lagi terulang. Mudah-mudahan kasus ini menjadi kasus yang terakhir di Aceh Timur,” ujar Taing Lubis. ANTARA FOTO/Hayaturrahmah

(WWD)

Bagaimana tanggapan anda mengenai foto ini?

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif