Seorang warga menggendong siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) 6 Tapa melintasi Sungai Polanggua untuk mengikuti pelajaran luar jaringan (luring) di Dusun III, Desa Langge, Tapa, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, Rabu, 29 Juli 2020.
Seorang warga menggendong siswa Sekolah Dasar Negeri (SDN) 6 Tapa melintasi Sungai Polanggua untuk mengikuti pelajaran luar jaringan (luring) di Dusun III, Desa Langge, Tapa, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo, Rabu, 29 Juli 2020.
Guru dan siswa SDN 6 Tapa harus melintasi sungai untuk melakukan aktivitas belajar mengajar luar jaringan (luring) karena belum tersedianya jembatan menuju Dusun III tersebut.
Guru dan siswa SDN 6 Tapa harus melintasi sungai untuk melakukan aktivitas belajar mengajar luar jaringan (luring) karena belum tersedianya jembatan menuju Dusun III tersebut.
Untuk menyeberangi Sungai Polanggua, guru dan murid SDN 6 Tapa harus berhati-hati karena arusnya yang deras.
Untuk menyeberangi Sungai Polanggua, guru dan murid SDN 6 Tapa harus berhati-hati karena arusnya yang deras.
Sejumlah siswa SDN 6 Tapa mengikuti pelajaran luar jaringan (luring) di Dusun III, Desa Langge, Tapa, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo.
Sejumlah siswa SDN 6 Tapa mengikuti pelajaran luar jaringan (luring) di Dusun III, Desa Langge, Tapa, Kabupaten Bone Bolango, Gorontalo.

Miris! Siswa dan Guru Harus Seberangi Sungai untuk Belajar Luar Jaringan

News pendidikan
29 Juli 2020 14:49
Bone Bolango: Pemandangan yang membuat miris terlihat di Sungai Polanggua, Desa Langge, Kecamatan Tapa, Kabupaten Bone Bolang, Gorontalo.

Setiap hari, siswa dan guru Sekolah Dasar Negeri (SDN) III Tapa harus melintasi Sungai Polanggua yang berarus deras demi sampai di sekolah untuk melakukan aktivitas belajar mengajar.

Kepala Sekolah SDN 6 Tapa, Salma Razak di Gorontalo, Rabu, mengatakan ia dan guru lain harus melintasi Sungai Polanggua untuk memberikan pelajaran luar jaringan (luring) bagi kelompok belajar di Dusun III.

"Kami dan orang tua murid telah melakukan rapat untuk pembentukan kelompok belajar luring dan pada rapat itu kami mendapat dua kategori, yaitu orang tua yang memiliki gawai cerdas dan yang tidak. Namun sebagian besar di SDN 6 Tapa tidak memiliki gawai dan sulit mendapat akses internet," ujarnya.

Apalagi, kata Salma, untuk kelas jauh belum memiliki jaringan internet serta listrik. "Telah dibagi beberapa kelompok belajar, karena banyak siswa yang tidak bisa belajar secara daring, maka dibuat luring, seperti kelompok yang menyeberang sungai," ungkapnya.

Ia mengaku jika saat air sungai sedang deras maka sulit untuk melintas dan harus meminta bantuan dari warga dan orang tua siswa. "Jadi guru kelas mendatangi rumah siswa yang telah dikelompokkan untuk belajar luring," tambahnya.
 
Salma menambahkan, para guru tetap menjalankan tugasnya meski harus menyeberangi sungai. Hal itu dilakukan agar anak-anak didik tetap dapat belajar di rumah karena hingga saat ini belum ada pembelajaran tatap muka di sekolah.  . ANTARA FOTO/Adiwinata Solihin

(WWD)

Bagaimana tanggapan anda mengenai foto ini?

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif