Dua ekor anak kucing hutan atau biasa disebut kucing kuwuk atau kucing cangkok (Prionailurus bengalensis) diamankan petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Banten di Serang, Banten, Jumat 9 Oktober 2020.
Dua ekor anak kucing hutan atau biasa disebut kucing kuwuk atau kucing cangkok (Prionailurus bengalensis) diamankan petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Banten di Serang, Banten, Jumat 9 Oktober 2020.
Dua anak kucing hutan tersebut diserahkan oleh seorang pemilik petshop.
Dua anak kucing hutan tersebut diserahkan oleh seorang pemilik petshop. "Dia memperoleh kucing tersebut dari masyarakat yang akan menjualnya ke petshop tersebut. Mengetahui bila kucing tersebut dilindungi, jadi dia serahkan ke kami," kata Kepala BKSDA Seksi Konservasi Jawa Barat Wilayah I Serang Andre Ginson.
Hewan dilindungi yang sudah hampir langka akibat kehilangan habitat aslinya dan perburuan itu selanjutnya akan direhabilitasi di Balai Konservasi Satwa Langka di Bogor sebelum dilepaskan ke habitat aslinya.
Hewan dilindungi yang sudah hampir langka akibat kehilangan habitat aslinya dan perburuan itu selanjutnya akan direhabilitasi di Balai Konservasi Satwa Langka di Bogor sebelum dilepaskan ke habitat aslinya.

BKSDA Banten Amankan Dua Kucing Hutan

News satwa langka
09 Oktober 2020 20:43
Serang: Petugas Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Banten mengamankan dua ekor anak kucing hutan atau biasa disebut kucing kuwuk atau kucing cangkok (Prionailurus bengalensis) dari seorang warga, Jumat, 9 Oktober 2020.

Dua anak kucing hutan tersebut diserahkan oleh seorang pemilik petshop. "Dia memperoleh kucing tersebut dari masyarakat yang akan menjualnya ke petshop tersebut. Mengetahui bila kucing tersebut dilindungi, jadi dia serahkan ke kami," kata Kepala BKSDA Seksi Konservasi Jawa Barat Wilayah I Serang Andre Ginson.

Andre menambahkan bahwa kucing hutan merupakan satwa mamalia yang dilindungi. "Karena habitatnya semakin langka, satwa tersebut masuk kategori dilindungi," ujarnya.

Sebagai informasi kucing hutan (Felis bengalensis) termasuk satwa yang dilindungi berdasarkan Undang-Undang nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya, dan PP nomor 7 Tahun 1999.

Barangsiapa sengaja menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup diancam dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda paling banyak Rp100 juta. ANTARA FOTO/Asep Fathulrahman

(WWD)

Bagaimana tanggapan anda mengenai foto ini?

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif