Jalur Gaza: Sebuah pabrik minuman Pepsi di Gaza terpaksa menghentikan operasinya pekan ini imbas pembatasan impor Israel yang diperketat selama konflik 11 hari dengan militan Palestina, bulan lalu.
Hamam al-Yazeji dari Pepsi Gaza menyatakan, setelah tercapainya gencatan senjata dengan Hamas, Israel pada Senin, 21 Juni 2021 mengizinkan dimulainya kembali ekspor secara terbatas dari wilayah tersebut.
"Namun Israel tetap memberlakukan langkah-langkah pengetatan pada impor bahan mentah, termasuk gas karbon dioksida dan sirup yang dibutuhkan pabrik perusahaan untuk memproduksi soda Pepsi, 7UP dan Mirinda," katanya.
"Kemarin kami benar-benar kehabisan bahan baku, dan sayangnya kami harus menutup pabrik, memulangkan 250 pekerja," kata Yazeji.
Sebelum pertempuran Mei, katanya, Pepsi Gaza umumnya diizinkan untuk mengimpor bahan-bahan yang dibutuhkan.
Yazeji meneteskan air mata saat dia berjalan melewati pabriknya yang kosong pada hari Senin. "Penutupan itu bencana. "Tahun ini seharusnya luar biasa, merayakan 60 tahun sejak kami memulai produksi. "Kami tidak bisa menandai ulang tahun ini," katanya sedih.
Dimintai komentar terkait hal tersebut, COGAT, cabang Kementerian Pertahanan Israel, mengatakan: "Karena situasi keamanan, impor bahan baku industri dari Negara Israel ke Jalur Gaza tidak mungkin."
COGAT mengatakan Israel mengizinkan impor lain ke Gaza, termasuk bahan bakar, makanan, obat-obatan dan peralatan medis.
Israel dan negara tetangga Mesir menjaga kontrol ketat atas perbatasan Gaza, dan mengatakan pembatasan diperlukan untuk menghentikan senjata mencapai Hamas dan mencegahnya diproduksi secara lokal.
Mesir dan PBB meningkatkan mediasi pekan lalu setelah balon api yang diluncurkan dari Gaza memicu serangan udara pembalasan oleh Israel di lokasi Hamas, mengancam gencatan senjata yang rapuh.
Penutupan juga dapat terjadi di pabrik-pabrik Gaza lainnya jika pembatasan Israel dipertahankan, kata para analis. Pabrik Pepsi Gaza telah beroperasi terus menerus sejak tahun 1961, ketika Perusahaan Minuman Ringan Yazeji yang berbasis di Gaza memperoleh hak untuk memproduksi 7UP dan jenis soda lainnya di daerah kantong tersebut.
Bernilai sekitar $15 juta, kata pemiliknya, produk pabrik didistribusikan secara lokal. Sebuah cabang terpisah beroperasi di Tepi Barat yang diduduki, senilai sekitar USD30 juta, yang melayani wilayah tersebut serta Yerusalem Timur.
Pejabat perusahaan telah membuat rencana untuk merayakan 60 tahun beroperasi sebelum penutupan pada hari Minggu. AFP PHOTO/Mahmud Hams Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News