(Dari kiri) Guru bahasa Inggris Hafsa, Najla Latif, Rektor fakultas sains, Naveen Hashim, peneliti dan aktivis hak-hak perempuan, Zakia Abasi, mantan pegawai salon kecantikan dan Muzhgan Feraji, jurnalis TV berpose untuk difoto setibanya  di Bandara Roissy-Charles de Gaulle di Roissy, Prancis, Senin, 4 September 2023. Mereka dievakuasi dari Pakistan setelah melarikan diri dari Taliban dan diasingkan di Pakistan beberapa bulan lalu.
(Dari kiri) Guru bahasa Inggris Hafsa, Najla Latif, Rektor fakultas sains, Naveen Hashim, peneliti dan aktivis hak-hak perempuan, Zakia Abasi, mantan pegawai salon kecantikan dan Muzhgan Feraji, jurnalis TV berpose untuk difoto setibanya di Bandara Roissy-Charles de Gaulle di Roissy, Prancis, Senin, 4 September 2023. Mereka dievakuasi dari Pakistan setelah melarikan diri dari Taliban dan diasingkan di Pakistan beberapa bulan lalu.
Pemerintah Prancis mengevakuasi sejumlah perempuan Afghanistan yang mendapat ancaman dari pihak Taliban ke Paris. Kepala Otoritas Imigrasi Prancis Didier Leschi mengatakan, lima perempuan warga Afghanistan itu tiba pada Senin, 4 September 2023 waktu setempat (Selasa, 5 September dini hari WIB).
Pemerintah Prancis mengevakuasi sejumlah perempuan Afghanistan yang mendapat ancaman dari pihak Taliban ke Paris. Kepala Otoritas Imigrasi Prancis Didier Leschi mengatakan, lima perempuan warga Afghanistan itu tiba pada Senin, 4 September 2023 waktu setempat (Selasa, 5 September dini hari WIB).
Mereka melarikan diri ke negara tetangga Pakistan untuk mencari perlindungan sementara. Dari sana, ungkap Leschi, pihak berwenang Prancis mengatur evakuasi mereka. Begitu mereka tiba di Prancis, mereka akan didaftarkan sebagai pencari suaka dan diberikan tempat tinggal sementara. Permohonan status pengungsi mereka pun dipertimbangkan.
Mereka melarikan diri ke negara tetangga Pakistan untuk mencari perlindungan sementara. Dari sana, ungkap Leschi, pihak berwenang Prancis mengatur evakuasi mereka. Begitu mereka tiba di Prancis, mereka akan didaftarkan sebagai pencari suaka dan diberikan tempat tinggal sementara. Permohonan status pengungsi mereka pun dipertimbangkan.
Dia juga mengatakan evakuasi semacam itu sangat mungkin dilakukan kembali terhadap perempuan Afghanistan lain yang memiliki profil dan masalah serupa. Kekerasan berbasis gender meningkat sejak Taliban berkuasa di Afghanistan pada Agustus 2021.
Dia juga mengatakan evakuasi semacam itu sangat mungkin dilakukan kembali terhadap perempuan Afghanistan lain yang memiliki profil dan masalah serupa. Kekerasan berbasis gender meningkat sejak Taliban berkuasa di Afghanistan pada Agustus 2021.
Menurut laporan Afghan Witness, ditemukan adanya 3.329 klaim pelanggaran hak asasi manusia. Para peneliti yang menggunakan data sumber terbuka mendokumentasikan 1.977 klaim pelanggaran HAM, di antaranya kasus pembunuhan, penahanan secara sewenang-wenang, dan penyiksaan sejak Januari tahun lalu.
Menurut laporan Afghan Witness, ditemukan adanya 3.329 klaim pelanggaran hak asasi manusia. Para peneliti yang menggunakan data sumber terbuka mendokumentasikan 1.977 klaim pelanggaran HAM, di antaranya kasus pembunuhan, penahanan secara sewenang-wenang, dan penyiksaan sejak Januari tahun lalu.
Laporan itu juga mencatat ratusan kasus mengenai perempuan yang dibunuh secara kejam. “Sejak Januari 2022, Afghan Witness telah mencatat laporan tentang perempuan yang dibunuh satu per satu, sering kali dalam keadaan kekerasan dan kebrutalan yang ekstrem,” demikian laporan itu dilansir Independent.
Laporan itu juga mencatat ratusan kasus mengenai perempuan yang dibunuh secara kejam. “Sejak Januari 2022, Afghan Witness telah mencatat laporan tentang perempuan yang dibunuh satu per satu, sering kali dalam keadaan kekerasan dan kebrutalan yang ekstrem,” demikian laporan itu dilansir Independent.

Momen Prancis Evakuasi Lima Perempuan Afghanistan

05 September 2023 08:36
Jakarta: Pemerintah Prancis mengevakuasi sejumlah perempuan Afghanistan yang mendapat ancaman dari pihak Taliban ke Paris. Kepala Otoritas Imigrasi Prancis Didier Leschi mengatakan, lima perempuan warga Afghanistan itu dijadwalkan tiba pada Senin, 4 September 2023 waktu setempat (Selasa, 5 September dini hari WIB).
 
Menurut Leschi, berdasarkan perintah Presiden Emmanuel Macron, pemerintahnya memberikan perhatian khusus kepada perempuan Afghanistan yang mendapat ancaman dari pemerintahan Taliban.

“Terutama diancam oleh Taliban karena mereka memegang posisi penting dalam masyarakat Afghanistan, atau memiliki kontak dekat dengan Barat. Inilah yang terjadi pada kelima perempuan yang akan tiba hari ini,” ujar Leschi kepada AFP.

Perempuan-perempuan itu termasuk mantan direktur universitas, mantan konsultan LSM, mantan presenter televisi, dan guru di sekolah rahasia di Kabul. Salah satunya didampingi tiga orang anak. Para perempuan itu tidak dapat meninggalkan Afghanistan dengan transportasi udara ke negara-negara Barat ketika Taliban kembali berkuasa pada 2021.

Mereka melarikan diri ke negara tetangga Pakistan untuk mencari perlindungan sementara. Dari sana, ungkap Leschi, pihak berwenang Prancis mengatur evakuasi mereka. Begitu mereka tiba di Prancis, mereka akan didaftarkan sebagai pencari suaka dan diberikan tempat tinggal sementara. Permohonan status pengungsi mereka pun dipertimbangkan.

Dia juga mengatakan evakuasi semacam itu sangat mungkin dilakukan kembali terhadap perempuan Afghanistan lain yang memiliki profi l dan masalah serupa. Kekerasan berbasis gender meningkat sejak Taliban berkuasa di Afghanistan pada Agustus 2021. 

Menurut laporan Afghan Witness, ditemukan adanya 3.329 klaim pelanggaran hak asasi manusia. Para peneliti yang menggunakan data sumber terbuka mendokumentasikan 1.977 klaim pelanggaran HAM, di antaranya kasus pembunuhan, penahanan secara sewenang-wenang, dan penyiksaan sejak Januari tahun lalu.

Laporan itu juga mencatat ratusan kasus mengenai perempuan yang dibunuh secara kejam. “Sejak Januari 2022, Afghan Witness telah mencatat laporan tentang perempuan yang dibunuh satu per satu, sering kali dalam keadaan kekerasan dan kebrutalan yang ekstrem,” demikian laporan itu dilansir Independent. Dok.Media Indonesia

Foto: AFP PHOTO/Geoffroy Van Der Hasselt

(WWD)

Internasional Taliban taliban afghanistan afghanistan Prancis Emmanuel Macron

Bagaimana tanggapan anda mengenai foto ini?

LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif