Keluarga tidak kuasa menahan tangis di samping jenazah mendiang Chit Min Thu, korban yang ditembak di kepala oleh pasukan keamanan saat berdemonstrasi menentang kudeta militer di Yangon pada Kamis, 11 Maret 2021.
Keluarga tidak kuasa menahan tangis di samping jenazah mendiang Chit Min Thu, korban yang ditembak di kepala oleh pasukan keamanan saat berdemonstrasi menentang kudeta militer di Yangon pada Kamis, 11 Maret 2021.
Chit Min Thu, merupakan pengunjuk rasa antikudeta ditembak mati oleh aparat keamanan Myanmar hari ini. Menurut ibu korban, anaknya meninggalkan seorang istri yang tengah hamil dua bulan.
Chit Min Thu, merupakan pengunjuk rasa antikudeta ditembak mati oleh aparat keamanan Myanmar hari ini. Menurut ibu korban, anaknya meninggalkan seorang istri yang tengah hamil dua bulan. "Saya baru mengetahui bahwa istrinya tengah hamil," kata Hnin Malar Aung.
Pada Kamis, tindakan keras terhadap demonstran mengakibatkan enam tewas di Kota Myaing, Myanmar tengah.
Pada Kamis, tindakan keras terhadap demonstran mengakibatkan enam tewas di Kota Myaing, Myanmar tengah. "Enam orang ditembak mati, sementara delapan orang terluka - satu di antaranya dalam kondisi kritis," kata seorang petugas penyelamat. Sementara tiga lainnya tewas di tiga lokasi berbeda, termasuk Chit Min Thu di Dagon, Yangon utara.
Perserikatan Bangsa-Bangsa pada Rabu, 10 Maret 2021, mengutuk tindakan keras junta yang semakin meningkat, yang telah menyebabkan lebih dari 60 orang tewas dan 2.000 ditangkap, bahkan Tiongkok - sekutu tradisional Myanmar - menyerukan de-eskalasi dan dialog.
Perserikatan Bangsa-Bangsa pada Rabu, 10 Maret 2021, mengutuk tindakan keras junta yang semakin meningkat, yang telah menyebabkan lebih dari 60 orang tewas dan 2.000 ditangkap, bahkan Tiongkok - sekutu tradisional Myanmar - menyerukan de-eskalasi dan dialog.

Lagi, Sembilan Demonstran Antikudeta Myanmar Ditembak Mati

Internasional konflik myanmar kudeta gambia politik myanmar aung san suu kyi Kudeta Myanmar
11 Maret 2021 19:48
Jakarta: Sembilan pengunjuk rasa ditembak mati di Myanmar Kamis, 11 Maret 2021, saat junta bereaksi terhadap kecaman internasional atas tindakan kerasnya dengan mengklaim pemimpin de-facto yang digulingkan, Aung San Suu Kyi telah menerima suap dalam jumlah yang besar.

Tekanan diplomatik telah meningkat sejak para jenderal merebut kekuasaan dari sipil pada 1 Februari silam, memicu protes setiap hari di seluruh negeri, yang berusaha diredam oleh militer.

Perserikatan Bangsa-Bangsa pada Rabu, 10 Maret 2021, mengutuk tindakan keras junta yang semakin meningkat, yang telah menyebabkan lebih dari 60 orang tewas dan 2.000 ditangkap, bahkan Tiongkok - sekutu tradisional Myanmar - menyerukan de-eskalasi dan dialog.

Pada Kamis, tindakan keras terhadap demonstran mengakibatkan enam tewas di Kota Myaing, Myanmar tengah. "Enam orang ditembak mati sementara delapan orang terluka - satu di antaranya dalam kondisi kritis," kata seorang petugas penyelamat. Seorang saksi mata mengatakan lima dari mereka ditembak di kepala. 

Di Bago, sebuah kota di timur laut Yangon, Zaw Zaw Aung, 33, yang tuli, ditembak di kepala, kata ayahnya, Myint Lwin. "Sebagai seorang ayah, saya sangat sedih atas kematiannya," katanya.

Seorang petugas penyelamat mengatakan bahwa seorang pria berusia 30 tahun tewas di Mandalay, kota terbesar kedua di Myanmar dan dua orang lainnya terluka.  "Kami tidak bisa mengambil mayatnya karena tim penyelamat juga menjadi sasaran akhir-akhir ini," katanya.

Ada juga korban jiwa di Dagon, Yangon utara, di mana Chit Min Thu, 25, meninggal setelah ditembak di kepala.
 "Saya baru mengetahui bahwa istrinya hamil dua bulan," kata ibu korban, Hnin Malar Aung. 

"Tidak ada yang akan berdamai sampai situasi ini berakhir. Mereka begitu kejam terhadap anak saya. Saya tidak pernah menyangka anak saya akan ditembak di kepala ... Saya khawatir tentang semua pemuda yang tidak bersenjata, mereka akan berada dalam masalah."

Tuduhan korupsi
Militer mengadakan konferensi pers yang jarang terjadi pada hari Kamis yang menuduh Suu Kyi melakukan korupsi. 

Di ibu kota Naypyidaw, juru bicara junta Zaw Min Tun mengatakan bahwa menteri utama Yangon yang ditahan telah mengakui memberi Suu Kyi uang tunai USD 600 ribu, bersama dengan lebih dari 11 kilogram emas (senilai USD680 ribu).

"Kami telah mengetahui bahwa Daw Aung San Suu Kyi sendiri mengambil USD600 dan tujuh vis (11,2 kilogram) emas. Komisi anti-korupsi sedang menyelidiki," kata Zaw Min Tun.

Peraih Nobel Perdamaian Suu Kyi, yang ditahan sejak kudeta 1 Februari, telah menghadapi beberapa tuduhan kriminal, termasuk memiliki walkie-talkie tanpa izin dan melanggar pembatasan virus korona dengan menggelar acara kampanye selama pemilu tahun lalu. AFP PHOTO

(WWD)

Bagaimana tanggapan anda mengenai foto ini?

LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif