Seorang perempuan Palestina menggendong bayi berusia satu hari yang lahir di sebuah sekolah Perserikatan Bangsa-Bangsa di mana banyak keluarga Palestina yang mengungsi mencari perlindungan di tengah serangan udara dan pemboman oleh pasukan Israel, pada Kamis, 20 Mei 2021.
Seorang perempuan Palestina menggendong bayi berusia satu hari yang lahir di sebuah sekolah Perserikatan Bangsa-Bangsa di mana banyak keluarga Palestina yang mengungsi mencari perlindungan di tengah serangan udara dan pemboman oleh pasukan Israel, pada Kamis, 20 Mei 2021.
Bayi bernama 


Mohammed al-Deif Adham al-Safadi tersebut lahir tepat sebelum fajar pada Kamis, 20 Mei 2012, di Kota Gaza. Kelahiran bayi tersebut membawa kegembiraan yang sangat dibutuhkan keluarganya.
Bayi bernama Mohammed al-Deif Adham al-Safadi tersebut lahir tepat sebelum fajar pada Kamis, 20 Mei 2012, di Kota Gaza. Kelahiran bayi tersebut membawa kegembiraan yang sangat dibutuhkan keluarganya.
“Saya berharap dia akan memberkati hidup kami dengan kehadirannya. Dia telah membuat kami sangat bahagia, ”Hiyam al-Safadi, neneknya yang berusia 48 tahun.
“Saya berharap dia akan memberkati hidup kami dengan kehadirannya. Dia telah membuat kami sangat bahagia, ”Hiyam al-Safadi, neneknya yang berusia 48 tahun.
Ansam al-Safadi, ibu Mohammed, mengatakan dia tidak pernah berpikir akan menyambut bayi laki-lakinya di ruang kelas yang dihuni oleh keluarga lain.

 Setelah melahirkan di Rumah Sakit al-Awda, Ansam kembali ke sekolah beberapa jam kemudian.
 “Ini situasi yang sulit. Akhir kehamilan saya diwarnai dengan keadaan ketakutan dan panik. Di sini, tidak ada privasi, dan kami bahkan tidak punya tempat tidur bayi untuk Mohammed,
Ansam al-Safadi, ibu Mohammed, mengatakan dia tidak pernah berpikir akan menyambut bayi laki-lakinya di ruang kelas yang dihuni oleh keluarga lain. Setelah melahirkan di Rumah Sakit al-Awda, Ansam kembali ke sekolah beberapa jam kemudian. “Ini situasi yang sulit. Akhir kehamilan saya diwarnai dengan keadaan ketakutan dan panik. Di sini, tidak ada privasi, dan kami bahkan tidak punya tempat tidur bayi untuk Mohammed," katanya.

Kakek nenek, orang tua, dan kakak laki-lakinya mengungsi dari rumah mereka setelah Israel melancarkan serangan udara di Jalur Gaza sejak 10 Mei, setelah Hamas, kelompok Palestina yang mengontrol wilayah itu, menembakkan roket ke Israel.
Kakek nenek, orang tua, dan kakak laki-lakinya mengungsi dari rumah mereka setelah Israel melancarkan serangan udara di Jalur Gaza sejak 10 Mei, setelah Hamas, kelompok Palestina yang mengontrol wilayah itu, menembakkan roket ke Israel.

Kelahiran Bayi Bawa Kegembiraan bagi Keluarga Pengungsi di Gaza

21 Mei 2021 09:09
Jalur Gaza:  Mohammed al-Deif Adham al-Safadi lahir tepat sebelum fajar pada Kamis, 20 Mei 2012, di Kota Gaza. Kelahiran bayi tersebut membawa kegembiraan yang sangat dibutuhkan keluarganya.

Nama bayi tersebut merujuk nama komandan Brigade Izuddin Al-Qassam, sayap militer Hamas, Mohammed Deif, salah satu tokoh yang paling dicari oleh Israel. Beberapa kali upaya pembunuhan telah dilakukan, namun Israel selalu gagal.

“Saya berharap dia akan memberkati hidup kami dengan kehadirannya. Dia telah membuat kami sangat bahagia, ”Hiyam al-Safadi, neneknya yang berusia 48 tahun.

Kakek nenek, orang tua, dan kakak laki-lakinya mengungsi dari rumah mereka setelah Israel melancarkan serangan udara di Jalur Gaza sejak 10 Mei, setelah Hamas, kelompok Palestina yang mengontrol wilayah itu, menembakkan roket ke Israel.

Sedikitnya 232 orang, termasuk 65 anak-anak telah tewas di Gaza sejak Israel mulai membombardir wilayah itu. Sementara Israel melaporkan 12 orang, termasuk dua anak, tewas dalam serangan roket yang dilakukan oleh kelompok bersenjata di Gaza.

Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, lebih dari 72.000 orang telah mengungsi di Gaza sejak kekerasan meningkat.

Rumah keluarga al-Safadi terletak dekat dengan perbatasan Israel di Jalur Gaza utara dan mereka melarikan diri ke sekolah Gaza al-Jadeeda yang dipimpin UNRWA di Kota Gaza karena intensitas pemboman udara.

"Kami belum bisa kembali," Adham al-Safadi, ayah Mohammed. “Itu terlalu berbahaya dan tidak ada tempat yang aman untuk dikunjungi.”

Ansam al-Safadi, ibu Mohammed, mengatakan dia tidak pernah berpikir akan menyambut bayi laki-lakinya di ruang kelas yang dihuni oleh keluarga lain.

 Setelah melahirkan di Rumah Sakit al-Awda, Ansam kembali ke sekolah beberapa jam kemudian. “Ini situasi yang sulit. Akhir kehamilan saya diwarnai dengan keadaan ketakutan dan panik. Di sini, tidak ada privasi, dan kami bahkan tidak punya tempat tidur bayi untuk Mohammed," katanya.

Meski demikian, sang bayi telah membawa harapan baru bagi keluarga. “Kami sangat sedih ketika kami meninggalkan rumah kami, tetapi hari ini, kami bahagia karena anak ini yang telah Tuhan berikan kepada kami dalam keadaan sulit seperti ini,” kata Hiyam. AFP PHOTO/Mahmud Hams

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


(WWD)

Internasional Palestina israel palestina Israel