Pendeta Kristiani asal Kanada David Lah (tengah) tiba untuk menjalani persidangan di Pengadilan Kotapraja Mayangone di Yangon pada Rabu, 3 Juni 2020.
Pendeta Kristiani asal Kanada David Lah (tengah) tiba untuk menjalani persidangan di Pengadilan Kotapraja Mayangone di Yangon pada Rabu, 3 Juni 2020.
Pengadilan di Myanmar pada Rabu, 3 Juni 2020, menolak jaminan bagi David Lah setelah ia ditahan aparat keamanan setempat karena melanggar aturan pembatasan untuk menekan penyebaran covid-19 dengan menggelar ibadah misa.
Pengadilan di Myanmar pada Rabu, 3 Juni 2020, menolak jaminan bagi David Lah setelah ia ditahan aparat keamanan setempat karena melanggar aturan pembatasan untuk menekan penyebaran covid-19 dengan menggelar ibadah misa.
Lah bersama seorang warga setempat, Wai Tun, dituntut hukuman penjara selama tiga tahun karena melanggar Undang-Undang Penanggulangan Bencana saat keduanya menggelar ibadah misa di Kota Yangon pada April. Otoritas di Myanmar melarang warga berkumpul sejak pertengahan Maret.
Lah bersama seorang warga setempat, Wai Tun, dituntut hukuman penjara selama tiga tahun karena melanggar Undang-Undang Penanggulangan Bencana saat keduanya menggelar ibadah misa di Kota Yangon pada April. Otoritas di Myanmar melarang warga berkumpul sejak pertengahan Maret.
"Untuk tuntutan hukum dengan ancaman tiga tahun penjara atau lebih, kami tidak perlu mengabulkan permintaan (bebas dengan) jaminan," kata Hakim Moe Swe ke awak media setelah sidang.

Langgar Pembatasan di Myanmar, Pendeta asal Kanada Diadili

Internasional Virus Korona myanmar
03 Juni 2020 17:09
Yangon: Pengadilan di Myanmar pada Rabu, 3 Juni 2020, menolak jaminan bagi seorang pendeta Kristiani berkebangsaan Kanada setelah ia ditahan aparat keamanan setempat karena melanggar aturan pembatasan untuk menekan penyebaran covid-19.

David Lah, seorang warga Kanada yang tinggal di Myanmar, bersama seorang warga setempat, Wai Tun, menggelar ibadah misa saat pemerintah melarang pengumpulan massa selama pandemi.

Lah dan Tun pun dituntut hukuman penjara selama tiga tahun karena melanggar Undang-Undang Penanggulangan Bencana saat keduanya menggelar ibadah misa di Kota Yangon pada April. Otoritas di Myanmar melarang warga berkumpul sejak pertengahan Maret.

"Untuk tuntutan hukum dengan ancaman tiga tahun penjara atau lebih, kami tidak perlu mengabulkan permintaan (bebas dengan) jaminan," kata Hakim Moe Swe ke awak media setelah sidang.

Hakim mengatakan pengacara Lah telah mengajukan jaminan. Namun, wartawan tidak diizinkan mengikuti persidangan dan penasihat hukum Lah belum dapat dihubungi untuk mengonfirmasi keterangan tersebut.

Sekitar 20 orang yang mengikuti misa itu dinyatakan positif tertular covid-19. Gereja itu pun jadi klaster penularan virus yang menyebabkan 67 orang lainnya, termasuk Lah, ikut terserang covid-19, kata juru bicara Kementerian Kesehatan, Thar Tun Kyaw.

Myanmar sejauh ini mencatat 233 orang telah tertular covid-19 dan enam di antaranya meninggal dunia. Myanmar merupakan negara dengan mayoritas penduduk penganut Buddha, tetapi enam persen penduduknya memeluk agama Kristen. AFP PHOTO/Sai Aung Main

(WWD)

Bagaimana tanggapan anda mengenai foto ini?

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif