Potensi kakao di Kabupaten Lampung Timur dinilai sangat besar dan menjanjikan, bahkan mampu menjadi penopang ekonomi berlapis bagi petani jika dikelola secara optimal dan berkelanjutan.
Potensi kakao di Kabupaten Lampung Timur dinilai sangat besar dan menjanjikan, bahkan mampu menjadi penopang ekonomi berlapis bagi petani jika dikelola secara optimal dan berkelanjutan.
Ketua Asosiasi Petani Kakao Indonesia (APiK) Lampung Timur, Japung Lasarus mengatakan, tanaman kakao bukan sekadar komoditas perkebunan, melainkan sistem pertanian yang dapat menghidupi petani dari berbagai sisi.
Ketua Asosiasi Petani Kakao Indonesia (APiK) Lampung Timur, Japung Lasarus mengatakan, tanaman kakao bukan sekadar komoditas perkebunan, melainkan sistem pertanian yang dapat menghidupi petani dari berbagai sisi.

Kakao Lampung Timur Punya Potensi Besar Jadi Komoditas Unggulan Petani

04 Februari 2026 08:18

Lampung Timur: Potensi kakao di Kabupaten Lampung Timur dinilai sangat besar dan menjanjikan, bahkan mampu menjadi penopang ekonomi berlapis bagi petani jika dikelola secara optimal dan berkelanjutan.

Ketua Asosiasi Petani Kakao Indonesia (APiK) Lampung Timur, Japung Lasarus mengatakan, tanaman kakao bukan sekadar komoditas perkebunan, melainkan sistem pertanian yang dapat menghidupi petani dari berbagai sisi.

Ia menjelaskan, kakao memiliki keunggulan karena dapat ditanam secara tumpang sari. Dalam satu hamparan lahan, petani bisa memanen hasil dari lapisan bawah, tengah, hingga atas.

“Kalau bahasa kami, menanam kakao itu satu hektare terasa tiga hektare. Di bawah pohon kakao bisa tanam talas atau umbi-umbian, tajuk tengah kakao, dan tajuk atas bisa kelapa atau alpukat. Jadi panennya berlapis,,” ujarnya dimintai keterangan, Selasa, 3 Februari 2026.

Japung menyebut, kakao Lampung Timur sempat mengalami kemunduran pada 2010–2012 akibat serangan hama busuk buah. Kondisi tersebut membuat banyak petani menebang tanaman kakao dan beralih ke komoditas lain.

Namun sejak 2025, kakao perlahan kembali bangkit berkat kehadiran offtaker dan pendampingan intensif yang dilakukan bersama Pemkab Lampung Timur di bawah kepemimpinan Bupati Ela Siti Nuryamah.

“Kebangkitan kakao ini tidak lepas dari peran offtaker seperti PT Papandayan dan Olam yang datang membawa klon baru lebih tahan hama, sekaligus mendampingi petani dari Pemkab Lampung Timur,” jelasnya.

Selain dukungan offtaker, geliat kakao Lampung Timur juga ditopang kolaborasi dengan sejumlah lembaga swadaya masyarakat yang aktif mendampingi petani, mulai dari budidaya hingga pascapanen.

Meski demikian, Japung mengakui masih ada tantangan besar yang dihadapi petani, terutama persoalan keamanan kebun. Kondisi tersebut membuat petani kerap memanen kakao sebelum matang sempurna.

“Masalah utama kita itu keamanan. Petani sering tidak berani petik tua karena takut keduluan orang. Akhirnya dijual basah, kualitasnya rendah, dan harganya murah,” ucapnya.

Saat ini, harga kakao di tingkat petani Lampung Timur masih berkisar Rp10 ribu hingga Rp15 ribu per kilogram untuk kakao basah. Padahal, menurut Japung, nilai jual bisa jauh lebih tinggi jika kakao dipanen matang dan difermentasi dengan baik.

“Kalau aman, petani bisa panen matang, difermentasi, dan itu bisa jadi kakao premium. Harganya tentu jauh lebih bagus,” harapnya.

Untuk mendorong peningkatan kualitas, APiK bersama Pemkab Lampung Timur tengah merintis kerja sama dengan mitra dari Bandung guna mengembangkan kakao premium. Program tersebut mencakup pendampingan teknis, penyediaan alat fermentasi, serta penggunaan solar dryer untuk proses pengeringan.

“Sekarang kami fokus di hulu dan pascapanen dulu. Kalau ini sudah jalan, target jangka menengah kami adalah bisa memproduksi cokelat sendiri dari Lampung Timur,” kata Japung.

Ia menambahkan, keberhasilan pengembangan kakao ke depan juga ditentukan oleh penguatan kelembagaan petani. Petani yang tergabung dalam kelompok dinilai lebih mudah berkembang, belajar bersama, dan menjaga keamanan kebun secara kolektif.

“Kalau petani berkelompok, semuanya bisa jalan. Dari belajar budidaya, sambung sisip, sampai ronda kebun. Ini yang sedang kami dorong agar kakao Lampung Timur benar-benar bangkit dan memberi kesejahteraan bagi petani,” imbuhnya. Dok. Istimewa



Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


(CDE)

Ekonomi Kakao Petani Lampung