Program Maggot Black Soldier Fly (BSF) Kolaborasi PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) dan PT Pelayaran Bahtera Adhiguna (BAg) di Desa Karangasem, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta  juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Foto
Program Maggot Black Soldier Fly (BSF) Kolaborasi PT PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) dan PT Pelayaran Bahtera Adhiguna (BAg) di Desa Karangasem, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Foto

Dorong Ekonomi Sirkular, Begini Cara Ubah Sampah Organik Jadi Maggot, Pupuk, dan Penghasilan

Annisa ayu artanti • 26 Agustus 2026 17:39
Ringkasnya gini..
  • Sampah organik di Gunungkidul diolah menjadi maggot, pupuk, dan pakan ternak melalui program ekonomi sirkular berbasis warga.
  • Budidaya maggot BSF mengubah sampah menjadi peluang ekonomi, dari penjualan lele dan sayuran hingga pupuk organik.
Jakarta: Sampah organik tak selalu berakhir di tempat pembuangan. Di Desa Karangasem, Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta, limbah rumah tangga kini diolah menjadi maggot, pupuk, hingga sumber tambahan penghasilan bagi warga.
 
Melalui budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF), sampah organik dari puluhan rumah tangga dan pelaku usaha angkringan masuk ke dalam rantai ekonomi sirkular. Maggot yang dihasilkan dimanfaatkan sebagai pakan lele dan ayam, sedangkan sisa budidayanya diolah menjadi kasgot dan pupuk organik cair.
 
Program ini merupakan kolaborasi PLN Energi Primer Indonesia (PLN EPI) dan PT Pelayaran Bahtera Adhiguna yang dijalankan bersama Bank Sampah Ngupadi Rejeki Karangasem. 

Sekretaris Perusahaan PLN EPI, Mamit Setiawan, mengatakan Program Maggot BSF merupakan wujud komitmen perusahaan dalam menghadirkan program TJSL yang tidak hanya menyelesaikan persoalan lingkungan, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi bagi masyarakat.
 
"PLN EPI meyakini bahwa transisi menuju keberlanjutan harus dimulai dari solusi yang dekat dengan masyarakat. Program Maggot BSF membuktikan bahwa sampah organik dapat diolah menjadi sumber daya bernilai ekonomi sekaligus memperkuat ekonomi sirkular," ujar Mamit dalam keterangan, Rabu, 26 Agustus 2026.
 
Baca juga: 10 Manfaat Ekonomi Sirkular yang Harus Diketahui GenZ

Setelah hampir dua tahun berjalan sejak diluncurkan pada 2024, program tersebut mulai memberikan dampak bagi lingkungan sekaligus perekonomian masyarakat.
 
Hingga saat ini rumah maggot berhasil mengelola Rata-rata 561 kilogram sampah organik per bulan yang berasal dari 60 rumah tangga dan dua pelaku usaha angkringan. 
 
Pengelolaan tersebut berkontribusi menurunkan volume sampah yang menimbulkan bau maupun pencemaran hingga 40-60 persen, sekaligus mendorong perubahan perilaku masyarakat dalam memilah sampah sejak dari sumbernya.
 
Dari sisi produksi, program ini menghasilkan rata-rata 50 kilogram maggot segar per bulan, 420 kilogram kasgot per tahun, serta 540 liter pupuk organik cair setiap tahun. Tingkat keberhasilan budidaya juga terus meningkat dengan capaian panen 30–55 persen pada setiap siklus.
 
Seluruh hasil budidaya dimanfaatkan kembali dalam ekosistem ekonomi sirkular. Maggot digunakan sebagai pakan lele sebanyak 547,5 kilogram dan ayam sebanyak 730 kilogram per tahun, sedangkan 420 kilogram kasgot dimanfaatkan sebagai pupuk organik dan 150 liter pupuk organik cair telah digunakan maupun dipasarkan. 
Produk tersebut turut mendukung budidaya pertanian pada lahan seluas 400 meter persegi.
 
Program ini juga memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. Lewat pengembangan program serta keterlibatan aktif masyarakat program turunan seperti ternak ayam dan lele serta perkebunan dapat dijalankan secara maksimal. 
 
Hasilnya Penjualan lele dan telur ayam rata-rata menghasilkan Rp 1.5jt per bulan, sayuran 500rb per bulan serta kasgot dan pupuk organik cair menghasilkan pendapatan sekitar Rp 4,5 juta per tahun, sementara pemanfaatan maggot sebagai pakan mampu menghemat biaya pembelian pakan ternak hingga Rp10,08 juta per tahun. 
 
Pada aspek sosial, program memberikan manfaat langsung kepada 25-60 orang dengan melibatkan 25 anggota masyarakat sebagai pengelola aktif. PLN EPI bersama mitra juga telah menyelenggarakan 5-6 kali pelatihan pengelolaan sampah dan budidaya maggot, sehingga partisipasi masyarakat dalam pemilahan sampah meningkat hingga 60 persen.
 
Keberlanjutan program diperkuat melalui penerapan SOP operasional, pencatatan produksi, serta kolaborasi dengan Dinas Lingkungan Hidup (DLH), Jejaring Pengelola Sampah Mandiri (JPSM), Bank Sampah Ponjong, Bank Sampah Wonosari, dan Bank Sampah Patuk. Sinergi tersebut mendorong peningkatan kapasitas produksi sekitar 10 persen setiap tahun, sehingga rumah maggot tetap beroperasi secara berkelanjutan.
 
Sementara itu, Ketua Bank Sampah Ngupadi Rejeki Karangasem, Riyanta, menyampaikan bahwa program tersebut telah mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah organik.
 
"Kini masyarakat tidak lagi melihat sampah sebagai limbah, melainkan sebagai sumber daya yang memiliki nilai ekonomi. Selain lingkungan menjadi lebih bersih, masyarakat juga memperoleh manfaat melalui penghematan biaya pakan, pupuk organik, dan peningkatan pendapatan kelompok," kata Riyanta.

 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(ANN)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan