Pergeseran preferensi ini menandai babak baru dalam lanskap konsumsi domestik. Konsumen—khususnya segmen menengah ke atas di wilayah perkotaan—tidak lagi sekadar memburu harga ekonomis atau value for money. Kini, mereka kian memandang pengeluaran untuk pangan bergizi sebagai bentuk investasi kesehatan jangka panjang.
Vice President of Strategic Insights USDEC Southeast Asia, Anoo Pothen, mengungkapkan bahwa konsumen modern di Indonesia saat ini jauh lebih teliti dan teredukasi sebelum memutuskan membeli produk mamin kemasan.
"Konsumen saat ini membaca lebih banyak informasi mengenai aspek nutrisi dan komposisi di dalam produk. Mereka mulai memahami bahwa berinvestasi pada kesehatan dengan membeli produk yang menawarkan manfaat lebih baik akan menguntungkan mereka dalam jangka panjang," ujar Anoo dalam wawancara terbatas di sela seminar U.S. Dairy Ingredients Supply & Innovation di Jakarta, Senin, 14 September 2026.
Menurut Anoo, antusiasme masyarakat terhadap kebugaran fisik dan kesehatan menyeluruh menjadi motor penggerak perubahan tersebut. Hal ini tecermin dari meningkatnya kebiasaan memantau kondisi tubuh lewat perangkat pintar, mulai dari pemantauan pola tidur, aktivitas fisik, hingga asupan harian.
Saat memilih produk pangan kemasan, konsumen kini aktif memburu kandungan nutrisi spesifik, seperti tingginya kadar protein, serat, hingga bahan-bahan alami.
Tuntutan Rasa Tanpa Rasa Bersalah
Kendati menuntut kualitas nutrisi yang lebih prima, konsumen masa kini enggan mengorbankan kenikmatan rasa. Anoo menggarisbawahi adanya fenomena di mana masyarakat tetap ingin menikmati makanan lezat tanpa dibayangi perasaan bersalah."Seseorang makan bukan hanya untuk fisik, tetapi juga untuk pikiran dan jiwa agar merasa senang. Konsumen menginginkan keseimbangan itu dan tidak ingin membuat pengorbanan. Mereka ingin produk yang menyehatkan, tetapi rasanya tetap enak," jelasnya.
Menjawab dinamika ini, industri manufaktur pangan dituntut memformulasikan produk secara cermat. Produk olahan susu, misalnya, dinilai memiliki densitas nutrisi yang kuat, namun perlu diimbangi dengan formulasi rendah gula dan kalori agar konsumen merasa nyaman mengonsumsinya secara rutin.
Salah satu strategi inovasi yang dinilai sangat relevan untuk pasar Indonesia adalah memadukan bahan baku fungsional global dengan kearifan lokal, seperti bahan botani.
"Di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara, ada kepercayaan alami yang kuat terhadap bahan-bahan botani, seperti kunyit. Ketika bahan yang familier ini dipadukan dengan bahan susu fungsional seperti protein dan serat, hasilnya adalah produk yang tetap terasa akrab di lidah namun memberikan nilai gizi yang jauh lebih baik," imbuh Anoo.
Tantangan Transparansi dan Misinformasi
Perubahan perilaku ini turut mengubah etalase ritel modern. Produk sehat yang sebelumnya hanya menempati sudut kecil di supermarket kini telah bergeser ke rak-rak Utama dengan berbagai klaim produk rendah gula hingga berlabel bersih.Namun, masifnya tren pangan sehat juga menghadirkan tantangan baru, terutama terkait banjir informasi dan misinformasi di media sosial. Anoo menekankan pentingnya transparansi produsen serta kepatuhan ketat terhadap regulasi klaim kemasan guna menjaga kepercayaan pasar.
"Di tengah era informasi yang kompleks, ada fakta namun ada juga misinformasi. Oleh karena itu, tugas utama produsen makanan dan minuman adalah bersikap sejujur dan setransparan mungkin. Kepatuhan terhadap regulasi dan kejujuran label adalah kunci utama membangun kepercayaan dan loyalitas konsumen," pungkasnya.