PLTS. Foto: Istimewa.
PLTS. Foto: Istimewa.

SUN Perluas Bisnis Elektrifikasi, Bidik Peluang Transisi Energi Industri

Arif Wicaksono • 16 Oktober 2026 08:20
Ringkasnya gini..
  • Perusahaan energi bersih SUN memperluas bisnisnya ke sektor elektrifikasi industri setelah mencatatkan pengembangan kapasitas energi surya lebih dari 500 megawatt (MW) melalui lebih dari 400 proyek selama satu dekade beroperasi.
  • Langkah ini menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk memperluas layanan, dari penyediaan energi terbarukan hingga elektrifikasi kendaraan dan armada operasional.
Jakarta: Perusahaan energi bersih SUN memperluas bisnisnya ke sektor elektrifikasi industri setelah mencatatkan pengembangan kapasitas energi surya lebih dari 500 megawatt (MW) melalui lebih dari 400 proyek selama satu dekade beroperasi. Langkah ini menjadi bagian dari strategi perusahaan untuk memperluas layanan, dari penyediaan energi terbarukan hingga elektrifikasi kendaraan dan armada operasional.
 
Sejak berdiri pada 2016, SUN mengembangkan portofolio proyek energi bersih di Indonesia, Australia, Vietnam, dan Thailand. Pelanggannya berasal dari berbagai sektor, antara lain pertambangan, semen, barang konsumsi cepat habis atau fast-moving consumer goods (FMCG), logistik, industri kertas, kemasan, elektronik, komponen otomotif, hingga farmasi.

Ekspansi tersebut sejalan dengan meningkatnya kebutuhan industri terhadap pasokan energi yang efisien, andal, dan menghasilkan emisi lebih rendah. Bagi pelaku usaha, pemanfaatan energi bersih juga menjadi salah satu upaya untuk mengendalikan biaya operasional sekaligus menjaga daya saing di tengah tuntutan transisi energi.

Berdasarkan estimasi produksi energi bersih pada 2026, proyek-proyek SUN diperkirakan mampu mengurangi emisi karbon dioksida (CO2) sekitar 244.549 ton per tahun. Besaran pengurangan emisi tersebut dianalogikan setara dengan penanaman sekitar 4,06 juta pohon.

Director of Power SUN Jefferson Kuesar mengatakan, pengalaman perusahaan selama sepuluh tahun menjadi modal untuk mengembangkan solusi energi yang lebih menyeluruh bagi pelanggan industri.

"Sepuluh tahun pertama SUN menunjukkan bahwa transisi energi dapat berjalan seiring dengan kebutuhan industri terhadap efisiensi, keandalan, dan daya saing. Memasuki dekade berikutnya, kami ingin membawa pengalaman tersebut lebih jauh melalui sistem elektrifikasi yang semakin terintegrasi, dari energi bersih hingga pemanfaatannya dalam aktivitas operasional pelanggan," ujar Jefferson.

Ke depan, SUN tidak hanya berfokus pada pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS), tetapi juga mengintegrasikan penyimpanan dan pengelolaan energi, kendaraan listrik, infrastruktur pengisian daya, serta teknologi digital. Pendekatan ini ditujukan untuk membantu pelanggan menghubungkan sumber energi dengan kebutuhan operasional sehari-hari.

Sektor pertambangan, perkebunan, logistik, manufaktur, kawasan industri, dan FMCG menjadi sejumlah pasar yang dibidik. Sektor-sektor tersebut memiliki kebutuhan energi besar dan aktivitas operasional yang berpotensi memperoleh manfaat dari penerapan elektrifikasi.


Elektrifikasi Armada Jadi Peluang Baru


Dalam mengembangkan layanan elektrifikasi armada, SUN menyesuaikan solusi dengan karakteristik operasional setiap pelanggan. Pertimbangannya mencakup jenis kendaraan, jarak dan rute perjalanan, kondisi medan, jadwal operasional, kebutuhan pengisian daya, hingga ketersediaan listrik di lokasi.

Melalui lini bisnis Mobility, SUN menawarkan pendekatan yang mencakup penyediaan kendaraan listrik, pembangunan stasiun pengisian daya, pembiayaan atau penyewaan kendaraan, pemeliharaan, hingga pemantauan armada melalui Fleet Management System.

Integrasi berbagai layanan tersebut diharapkan membantu perusahaan menjalankan peralihan ke kendaraan listrik tanpa mengabaikan kebutuhan operasional, pengendalian biaya, dan keandalan armada.

Potensi efisiensi itu terlihat dalam studi kasus pada distributor FMCG di wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Berdasarkan studi tersebut, penggunaan truk listrik untuk perjalanan sekitar 50 kilometer dengan jam operasional pukul 08.00 hingga 17.00 berpotensi menekan biaya energi hingga 83,6% per perjalanan.

Studi yang sama memperkirakan total biaya kepemilikan dan operasional dapat berkurang sekitar 15%. Hasil tersebut dihitung dengan mempertimbangkan ketersediaan listrik jaringan dan pola kegiatan operasional pelanggan.

Meski demikian, besaran penghematan dapat berbeda sesuai karakteristik rute, kebutuhan kendaraan, tarif energi, serta skema operasional yang diterapkan masing-masing perusahaan.

Director of Mobility SUN Karina Darmawan menilai, keberhasilan elektrifikasi armada tidak cukup hanya mengandalkan pengadaan kendaraan listrik. Perusahaan juga perlu menyiapkan infrastruktur dan sistem pendukung agar penerapannya berjalan efektif.

"Elektrifikasi armada perlu dirancang sebagai bagian dari sistem operasional, bukan hanya melalui penggantian kendaraan. Infrastruktur pengisian daya, pembiayaan, pemeliharaan, dan sumber energi perlu dipersiapkan secara bersamaan agar transisi dapat berjalan efektif dan terukur," ujar Karina.


Perkuat Proyek PLTS dan Ekspansi sebagai IPP


Di luar pengembangan elektrifikasi, SUN juga meningkatkan fokus pada proyek energi surya berskala besar untuk mendukung pertumbuhan bisnis jangka panjang.

Indonesia memiliki potensi energi surya sekitar 3.200 gigawatt peak (GWp). Potensi tersebut membuka peluang pengembangan PLTS untuk memenuhi kebutuhan sektor komersial dan industri, sekaligus mendorong pembangunan pembangkit dengan kapasitas lebih besar.

SUN saat ini mengantongi pipeline proyek energi surya lebih dari 40 megawatt peak (MWp) di sejumlah wilayah Indonesia. Proyek-proyek tersebut masih berada dalam tahap pengembangan sehingga belum seluruhnya menjadi kapasitas terpasang.

Perusahaan juga memperluas peran sebagai Independent Power Producer (IPP), yakni pengembang dan produsen listrik independen. Melalui model bisnis ini, SUN berupaya membangun portofolio aset energi bersih yang dapat mendukung penyediaan listrik dalam jangka panjang.

Pengembangan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya perusahaan menangkap peluang pertumbuhan energi terbarukan di Indonesia, termasuk mendukung visi pengembangan kapasitas energi surya hingga 100 GWp.

Untuk merealisasikan rencana tersebut, SUN akan mengintegrasikan pengembangan PLTS dengan sistem penyimpanan energi, manajemen energi, elektrifikasi armada, infrastruktur pengisian daya, dan teknologi digital. Integrasi ini diarahkan untuk meningkatkan efisiensi operasional pelanggan, memperkuat ketahanan energi, serta mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.

SUN juga menekankan pentingnya kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, regulator, PT PLN (Persero), asosiasi industri, pengelola kawasan, lembaga pembiayaan, hingga mitra teknologi dan kontraktor rekayasa, pengadaan, dan konstruksi atau engineering, procurement, and construction (EPC).

Dengan pengalaman mengembangkan proyek energi bersih selama satu dekade, SUN berupaya memperluas posisinya dari penyedia solusi energi surya menjadi mitra elektrifikasi industri. Strategi tersebut diharapkan dapat membuka peluang pertumbuhan baru bagi perusahaan sekaligus mendukung peningkatan efisiensi industri dan percepatan transisi energi di Indonesia.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan