Nicholas Priyo Pambudi, Koordinator Sumber Daya Manusia DoubleTree by Hilton Surabaya (tengah). Foto: Istimewa.
Nicholas Priyo Pambudi, Koordinator Sumber Daya Manusia DoubleTree by Hilton Surabaya (tengah). Foto: Istimewa.

Kisah Nicholas Priyo Pambudi Ciptakan Dampak Positif di Pulau Papan

Arif Wicaksono • 13 Oktober 2026 13:13
Ringkasnya gini..
  • Kepedulian terhadap masyarakat mendorong Nicholas Priyo Pambudi, Koordinator Sumber Daya Manusia DoubleTree by Hilton Surabaya, untuk menciptakan dampak positif yang berkelanjutan melalui berbagai inisiatif sosial. Salah satunya melalui proyek perbaikan jembatan di Pulau Papan yang menjadi akses penting bagi masyarakat, termasuk anak-anak sekolah dasar.
  • Komitmen Nicholas terhadap masyarakat Pulau Papan tidak berhenti setelah program resmi berakhir. Pada tahun berikutnya, dia memutuskan kembali ke pulau tersebut atas inisiatif sendiri untuk melihat kondisi jembatan dan menjalin kembali hubungan dengan warga.
Surabaya: Kepedulian terhadap masyarakat mendorong Nicholas Priyo Pambudi, Koordinator Sumber Daya Manusia DoubleTree by Hilton Surabaya, untuk menciptakan dampak positif yang berkelanjutan melalui berbagai inisiatif sosial. Salah satunya melalui proyek perbaikan jembatan di Pulau Papan yang menjadi akses penting bagi masyarakat, termasuk anak-anak sekolah dasar.

Keterlibatan Nicholas bermula ketika dirinya terpilih mengikuti program Hilton Thrive Sabbatical 2024. Program tersebut memberinya kesempatan untuk keluar dari rutinitas pekerjaan dan terlibat langsung dalam kegiatan sosial yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Lalu Nicholas memilih Pulau Papan karena melihat tantangan akses dan infrastruktur yang dihadapi masyarakat setempat. Salah satu kebutuhan utama mereka adalah jembatan yang digunakan dalam aktivitas sehari-hari, termasuk oleh siswa dan guru sekolah dasar untuk menuju sekolah. Nicholas berharap dapat membantu memperbaiki jembatan sekaligus meningkatkan keselamatan anak-anak dan memperkuat hubungan dengan masyarakat setempat.

“Melalui program ini, saya berharap tidak hanya membantu memperbaiki jembatan, namun juga mendukung masyarakat, meningkatkan keselamatan anak-anak, dan membangun hubungan yang dapat berlanjut lebih dari sekadar program itu sendiri,” ujar Nicholas.

Menurut dia, keberhasilan proyek sosial tidak cukup diukur dari selesainya pekerjaan. Keterlibatan masyarakat juga penting agar mereka memiliki rasa kepemilikan dan turut menjaga fasilitas yang telah diperbaiki.

Menghadapi Tantangan di Pulau Papan

Pelaksanaan proyek di Pulau Papan tidak terlepas dari berbagai tantangan. Lokasi jembatan yang berada di atas air membuat pekerjaan sangat bergantung pada kondisi cuaca. Perubahan cuaca yang cepat terkadang mengharuskan tim menyesuaikan rencana, bahkan menghentikan pekerjaan sementara demi keselamatan.

Selain itu, lokasi Pulau Papan yang terpencil menghadirkan tantangan logistik dan akses terhadap material. Nicholas bersama tim perlu bersikap fleksibel dan bekerja sama dengan masyarakat setempat untuk menemukan solusi yang sesuai dengan kondisi di lapangan.

Pengalaman tersebut juga mengajarkannya pentingnya mendengarkan kebutuhan masyarakat sebelum menjalankan sebuah inisiatif sosial. Bagi Nicholas, memahami tantangan sehari-hari yang dihadapi warga menjadi bagian penting dalam memastikan program yang dijalankan benar-benar memberikan manfaat.
 
IMG-20261013-WA0044(1)


“Karena Pulau Papan adalah daerah terpencil, logistik dan akses terhadap material merupakan tantangan lainnya. Kami harus fleksibel dan bekerja sama dengan masyarakat lokal untuk menemukan solusi praktis. Pada saat yang sama, bekerja dengan komunitas mengajari saya pentingnya mendengarkan. Kami tidak bisa begitu saja berasumsi sendiri mengenai apa yang mereka butuhkan. Kami harus memahami tantangan sehari-hari mereka dan bekerja sama dengan mereka. Melihat betapa pentingnya jembatan bagi 87 siswa untuk pergi ke sekolah setiap hari membuat proyek ini memiliki tujuan yang lebih kuat,” tegas dia. 

Keberadaan jembatan membuat proyek tersebut memiliki arti tersendiri baginya. Infrastruktur itu bukan sekadar penghubung antarlokasi, tetapi juga menunjang akses anak-anak terhadap pendidikan.


Kembali untuk Memastikan Dampak Berkelanjutan

Komitmen Nicholas terhadap masyarakat Pulau Papan tidak berhenti setelah program resmi berakhir. Pada tahun berikutnya, dia memutuskan kembali ke pulau tersebut atas inisiatif sendiri untuk melihat kondisi jembatan dan menjalin kembali hubungan dengan warga.

“Saya memutuskan untuk kembali karena saya yakin hubungan kami dengan masyarakat tidak boleh berakhir ketika proyek resmi selesai. Saya ingin melihat bagaimana jembatan itu digunakan, memeriksa kondisinya, dan berhubungan kembali dengan orang-orang yang pernah bekerja dengan kami,” tegas dia. 

Dalam kunjungan tersebut, Nicholas juga membawa bantuan hasil penggalangan donasi di hotel. Dia mengumpulkan 76 kilogram pakaian untuk anak-anak dan remaja, serta botol air dan jas hujan dari sumbangan pribadi maupun pihak eksternal.

Bantuan tersebut diharapkan dapat mendukung kebutuhan para siswa dalam menjalani aktivitas sehari-hari dan melanjutkan pendidikan mereka. Pengalaman kembali ke Pulau Papan menjadi momen emosional bagi Nicholas. 

“Saat saya masih berada di atas perahu dan mendekati Pulau Papan, saya sudah bisa melihat kegembiraan masyarakat saat menyambut saya. Mendengar teriakan anak-anak “Paman Nichooooo”, melihat senyum hangat mereka, dan menerima keramahtamahan tulus yang saya alami setiap hari mengingatkan saya mengapa hubungan dengan komunitas ini sangat berarti,” tegas dia. 

Dalam kunjungan itu, Nicholas juga menemukan sejumlah bagian jembatan yang masih membutuhkan perbaikan. Kondisi tersebut menjadi salah satu hal yang ingin ditindaklanjutinya bersama masyarakat setempat melalui proyek berikutnya.
 
IMG-20261013-WA0043


Dia pun berencana kembali ke Pulau Papan pada Oktober untuk melihat kondisi jembatan dan melanjutkan upaya perbaikan. Nicholas menilai, menjaga keberlanjutan sebuah proyek membutuhkan perhatian setelah kegiatan utama selesai. Hal itu mencakup pemantauan kondisi fasilitas, keterlibatan warga, serta upaya memastikan manfaatnya tetap dirasakan dalam jangka panjang.

“Pelajaran terbesar yang saya peroleh adalah bahwa dampak jangka panjang berasal dari kepemilikan dan kesinambungan, bukan sekadar penyelesaian sebuah proyek. Sebuah proyek dapat diselesaikan dalam beberapa minggu, namun pertanyaan sebenarnya adalah apa yang terjadi setelahnya. Siapa yang akan memeliharanya? Bagaimana masyarakat dapat terus memperoleh manfaat dari hal ini? Dan bagaimana kita bisa tetap terhubung bahkan setelah program resmi berakhir?.” tegas dia. 

Berjalan melintasi jembatan bersama anak-anak, mendengarkan cerita mereka, dan berbagi momen bersama mereka menjadi  hal yang selalu dia nantikan. Hal ini juga memungkinkan dia untuk mendorong dan memotivasi para siswa untuk terus bermimpi dan mengejar pendidikan mereka.

"Saya juga yakin Pulau Papan mempunyai potensi besar untuk menjadi destinasi wisata di masa depan. Seiring berkembangnya pariwisata, jembatan bisa menjadi bagian dari identitas dan cerita destinasi. Oleh karena itu, menjaganya tidak hanya sekedar melestarikan infrastruktur, tetapi juga melestarikan sesuatu yang mewakili masyarakat dan pada akhirnya dapat berkontribusi pada potensi pariwisatanya," tegas dia. 

Memperluas Dampak Melalui Pendidikan dan Keberlanjutan

Selain proyek di Pulau Papan, Nicholas turut terlibat dalam inisiatif sosial melalui Hilton Action Grant. Kali ini, fokusnya adalah menghidupkan kembali fasilitas hidroponik di sebuah sekolah menengah pertama di Surabaya yang sebelumnya belum dimanfaatkan secara maksimal.

Bersama pihak terkait, dia melihat peluang untuk mengubah fasilitas tersebut menjadi ruang pembelajaran praktis bagi para siswa. Dia berharap melalui kegiatan menanam, merawat, dan memanen tanaman, siswa dapat mempelajari keberlanjutan lingkungan secara langsung. Mereka juga memperoleh pengalaman mengenai tanggung jawab, kerja sama tim, dan proses produksi pangan.

Nicholas melihat keterlibatan langsung tersebut membantu siswa membangun rasa memiliki terhadap fasilitas yang mereka gunakan. Mereka dapat menyaksikan hasil dari usaha sendiri, mulai dari menanam benih hingga memanen tanaman.

Baginya, pengalaman tersebut menunjukkan bahwa inisiatif sosial dapat memberikan manfaat yang lebih luas ketika dirancang untuk membangun keterampilan dan mendorong keterlibatan masyarakat.

Mendorong Peran Industri Perhotelan

Nicholas meyakini industri perhotelan memiliki peluang besar untuk menciptakan dampak sosial dan lingkungan melalui operasional sehari-hari. Menurutnya, keberlanjutan sebaiknya tidak hanya diwujudkan melalui program khusus, tetapi juga menjadi bagian dari kegiatan rutin hotel.

Di DoubleTree by Hilton Surabaya, upaya tersebut sejalan dengan strategi global Hilton, Travel with Purpose, yang berfokus pada penciptaan dampak positif bagi anggota tim, operasional hotel, dan komunitas.

Salah satu aspek yang dapat dikembangkan adalah pengelolaan makanan dan limbah. Tim hotel dapat mengoptimalkan penggunaan bahan makanan, meminimalkan limbah, serta mengelola sumber daya secara lebih efisien. Penyaluran kelebihan makanan yang masih layak juga dapat menjadi salah satu cara membantu masyarakat yang membutuhkan.

Selain itu, hotel dapat memanfaatkan sumber daya, keahlian, dan keterlibatan karyawannya untuk mendukung berbagai kebutuhan lokal melalui kegiatan sukarela, pendidikan, inisiatif lingkungan, serta kemitraan dengan organisasi masyarakat.

Sebagai bagian dari komite CARE DoubleTree by Hilton Surabaya, Nicholas turut bekerja sama dengan anggota tim hotel dalam sejumlah program komunitas, termasuk kegiatan donor darah bersama Palang Merah Indonesia serta pengumpulan pakaian dan mainan untuk panti asuhan dan komunitas kurang mampu.

Berbagai pengalaman tersebut memperkuat pandangannya bahwa kepedulian merupakan bagian penting dari industri perhotelan. Tanggung jawab tersebut tidak hanya mencakup tamu, tetapi juga anggota tim, masyarakat sekitar, dan lingkungan.

Bagi Nicholas, dampak positif tidak selalu harus dimulai dari proyek besar. Tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten, disertai kemauan untuk mendengarkan dan menjaga hubungan dengan masyarakat, dapat menghasilkan manfaat yang lebih berkelanjutan. Melalui keterlibatannya di Pulau Papan dan berbagai inisiatif sosial lainnya, Nicholas berupaya menunjukkan bahwa keberhasilan sebuah program tidak hanya ditentukan oleh apa yang berhasil diselesaikan, tetapi juga oleh bagaimana manfaatnya terus dirasakan setelah program berakhir.

“Saya percaya keramahtamahan adalah tentang kepedulian terhadap orang lain dan kepedulian tersebut harus mencakup lebih dari sekadar tamu, hingga Anggota Tim, komunitas, dan planet kita. Dampak nyata datang dari cara kita mewujudkan tujuan tersebut setiap hari. Ketika setiap departemen berkontribusi melalui tindakan kecil dan konsisten, sebuah hotel dapat menjadi lebih dari sekedar tempat menginap, namun dapat menjadi kekuatan positif bagi masyarakat dan lingkungan,” tegas dia. 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan