Pemantauan dilakukan untuk memastikan operasi udara dan darat berjalan sesuai kondisi terbaru di lapangan. Pemerintah juga mengevaluasi kesiapan personel, peralatan, hingga berbagai kendala yang dihadapi petugas.
Baca juga: Izin 5 Perusahaan Dicabut Terkait Karhutla, Total Konsesi Capai 92.464 Hektare |
Berdasarkan data SiPongi Kementerian Kehutanan yang bersumber dari satelit NASA Terra/Aqua, SNPP, dan NOAA-20, hingga Selasa (22/9) pukul 21.20 WIB terdeteksi 932 hotspot dengan tingkat kepercayaan tinggi (high confidence) di seluruh Indonesia. Angka ini naik 244 titik dibandingkan sehari sebelumnya yang tercatat 688 titik.
Dari enam provinsi yang menjadi prioritas penanganan, Kalimantan Tengah mencatat jumlah hotspot high confidence paling tinggi, yakni 643 titik, naik signifikan dari 228 titik pada Senin (21/9).
Sementara itu, Kalimantan Selatan mencatat 68 titik, turun dari 71 titik. Kalimantan Barat naik menjadi 50 titik dari sebelumnya 36 titik. Sumatera Selatan turun menjadi 17 titik dari 23 titik. Jambi dan Riau masing-masing tercatat nihil hotspot high confidence.
Meski begitu, angka hotspot tidak bisa langsung diartikan sebagai jumlah kebakaran atau luas lahan yang terbakar. Hotspot merupakan indikasi anomali suhu permukaan yang ditangkap satelit. Satu lokasi kebakaran juga bisa menghasilkan beberapa titik hotspot sehingga tetap perlu dilakukan pengecekan langsung atau groundcheck di lapangan.
Pantau OMC hingga Pemadaman Darat
Raja Juli Antoni dan Suharyanto melanjutkan pengawalan penanganan karhutla di Kalteng pada Selasa (22/9). Keduanya memantau dua bagian penting dalam penanganan karhutla, yakni operasi udara dan pemadaman di darat.Pada pagi hari, keduanya memantau pelaksanaan OMC dari Posko OMC Bandara Tjilik Riwut, Palangka Raya. Pemantauan mencakup kondisi cuaca, potensi awan yang bisa dimanfaatkan, kesiapan armada, hingga pelaksanaan OMC untuk membantu membasahi wilayah yang rawan terbakar.
OMC menjadi salah satu cara pemerintah untuk membantu meningkatkan curah hujan atau pembasahan di wilayah rawan karhutla, terutama kawasan gambut. Namun, pelaksanaannya tetap bergantung pada ada tidaknya awan yang memenuhi syarat serta kondisi penerbangan.
Setelah dari Posko OMC, Menhut dan Kepala BNPB menuju Pusdalops BPBD Provinsi Kalimantan Tengah. Di sana, keduanya mengevaluasi kondisi Satgas Darat, termasuk perkembangan titik api, proses pemadaman, distribusi personel dan peralatan, serta kendala yang muncul di lapangan.
Operasi darat menjadi semakin penting ketika asap tebal membuat jarak pandang turun. Kondisi tersebut bisa membatasi pergerakan helikopter yang digunakan untuk melakukan water bombing atau penyiraman dari udara.
Pada sore hari, keduanya melanjutkan pemantauan ke Posko Karhutla Kabupaten Kapuas. Mereka meninjau langsung aktivitas Satgas Karhutla sekaligus berkoordinasi dengan pemerintah daerah dan sejumlah pihak terkait.
Koordinasi tersebut melibatkan Bupati Kapuas, Kapolda Kalimantan Tengah, Pangdam XII/Tanjungpura, serta unsur lainnya. Tujuannya memastikan pemadaman di darat tetap berjalan dan respons terhadap titik api bisa dilakukan dengan cepat.
Pengawalan langsung ini merupakan kelanjutan dari kunjungan Menhut dan Kepala BNPB yang sejak Senin (21/9) berada di Kalteng. Kehadiran mereka di lapangan dilakukan untuk memperpendek jalur koordinasi sehingga operasi darat dan udara bisa lebih cepat disesuaikan dengan perkembangan situasi.
61 Armada Udara Dikerahkan
Pemerintah saat ini mengerahkan 61 unit armada udara untuk mendukung penanganan karhutla. Sebanyak 17 unit digunakan untuk patroli dan OMC, sedangkan 44 unit lainnya dikerahkan untuk water bombing.Penggunaan armada disesuaikan dengan kondisi di lapangan. Beberapa faktor yang diperhatikan antara lain lokasi kebakaran, potensi awan, arah angin, kondisi asap, jarak pandang, hingga faktor keselamatan penerbangan.
Di darat, Manggala Agni Kementerian Kehutanan bersama BNPB, TNI, Polri, BPBD, pemerintah daerah, masyarakat, relawan, dunia usaha, dan pihak terkait terus melakukan berbagai upaya.
Kegiatan tersebut meliputi patroli, groundcheck, pemadaman langsung, penyekatan agar api tidak meluas, pembasahan, mopping up, hingga pendinginan.
Khusus di lahan gambut, proses pendinginan tetap dilakukan meski api sudah tidak terlihat di permukaan. Pasalnya, bara api bisa bertahan di bawah tanah dan kembali muncul ketika kondisi lahan kembali kering.
Kondisi Udara Masih Perlu Diwaspadai
Selain memantau titik api, pemerintah juga memperhatikan kualitas udara, termasuk konsentrasi PM2,5. Kondisi udara di Indonesia saat ini masih bervariasi.Sebagian besar wilayah berada dalam kategori baik hingga sedang. Namun, sejumlah wilayah di Sumatera dan terutama Kalimantan masih mengalami kualitas udara tidak sehat hingga sangat tidak sehat. Bahkan, beberapa lokasi tercatat berada dalam kategori berbahaya.
Karena itu, kondisi karhutla tidak bisa hanya dilihat dari jumlah hotspot. Pemerintah juga memantau kondisi api di lapangan, konsentrasi PM2,5, sebaran asap, kelembapan, arah angin, peluang hujan, dan jarak pandang.
BMKG juga memprakirakan adanya peluang pertumbuhan awan Cumulonimbus pada periode 23-29 September di sejumlah wilayah Sumatera dan Kalimantan. Wilayah tersebut antara lain Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan.
Informasi cuaca tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan strategi operasi udara dan pelaksanaan OMC.
Masyarakat Diminta Tetap Waspada
Masyarakat di wilayah yang terdampak karhutla diminta terus mengikuti informasi kualitas udara dan arahan pemerintah daerah.Jika kualitas udara memburuk, masyarakat dianjurkan mengurangi aktivitas di luar ruangan. Jika harus keluar rumah, penggunaan masker juga disarankan, terutama bagi kelompok yang lebih rentan seperti anak-anak, ibu hamil, lansia, serta masyarakat dengan gangguan pernapasan atau penyakit kronis.
Masyarakat dan pelaku usaha juga diingatkan untuk tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Setiap pengelola areal wajib memastikan personel, peralatan, sistem deteksi dini, serta sarana pengendalian kebakaran siap digunakan.
Jika menemukan asap, titik api, aktivitas pembakaran, atau satwa liar yang terdampak karhutla, masyarakat diminta segera melapor kepada petugas. Dengan laporan lebih cepat, penanganan juga bisa dilakukan sedini mungkin.