Hal ini dilakukan PT Paiton Energy dengan memberikan hibah dua unit Angkutan Keliling Berbasis Kendaraan Listrik (Angling listrik) kepada Taman Mini Indonesia Indah (TMII) pada Rabu (16/9).
Baca juga: PLTS 100 GWp Bakal Dibangun, Indonesia Bidik Penghematan Rp73,9 Triliun per Tahun |
Kendaraan listrik tersebut akan digunakan sebagai sarana transportasi bagi pengunjung di kawasan TMII. Kehadirannya sekaligus menjadi bagian dari upaya mendorong konsep pariwisata yang lebih berkelanjutan.
Bagi TMII, penggunaan Angling listrik menjadi bagian dari transformasi kawasan wisata menuju destinasi yang lebih ramah lingkungan. Langkah ini juga mendukung Peta Jalan Dekarbonisasi Sektor Pariwisata Indonesia.
Dua Angling listrik tersebut diharapkan dapat mengurangi gas buang atau emisi karbon, menjaga kualitas udara, sekaligus menekan polusi suara karena kendaraan listrik relatif tidak bising.
Efeknya bukan hanya soal lingkungan. Transportasi yang lebih senyap dan rendah emisi juga diharapkan membuat pengalaman wisatawan selama berada di kawasan TMII menjadi lebih nyaman.
Sementara bagi Paiton Energy, program tersebut merupakan bagian dari kegiatan eksternal perusahaan melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) untuk mendukung target Net Zero Emissions (NZE) Indonesia pada 2060.
President Director PT Paiton Energy Fazil Erwin Alfitri mengatakan kendaraan listrik menjadi salah satu bagian penting dalam mengurangi emisi karbon dari sektor transportasi.
"Paiton Energy mendukung penuh komitmen pemerintah merealisasikan NZE 2060. Karena itu untuk transisi energi di internal perusahaan, Paiton Energy sudah menyampaikan kepada pemerintah dan PT PLN (Persero) mengenai kesiapan kami untuk menambah kapasitas produksi listrik melalui membangun Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG)," kata Fazil Erwin Alfitri dalam keteranganya.
Dengan demikian, strategi transisi Paiton Energy tidak hanya menyasar program eksternal. Perusahaan juga menyiapkan perubahan pada sisi internal, termasuk rencana penggunaan gas alam untuk unit pembangkitnya.
Seremoni penyerahan dan peluncuran dua Angling listrik tersebut digelar di Plaza Kori Agung, TMII. Kegiatan mengambil momentum Hari Perlindungan Lapisan Ozon Sedunia pada 16 September dan Hari Perhubungan Nasional pada 17 September.
Acara tersebut dihadiri Sekretaris Deputi Bidang Industri dan Investasi Kementerian Pariwisata RI Fransiskus Handoko, Plt. Direktur Utama TMII Ratri Paramita, President Director PT Paiton Energy Fazil Erwin Alfitri, serta Kepala Sub Bagian Tata Usaha Unit Pengelola Anjungan dan Graha Wisata Dinas Parekraf Provinsi DKI Jakarta Karentino.
Fransiskus mengapresiasi kolaborasi Paiton Energy dan TMII sebagai bagian dari dukungan terhadap arah kebijakan pariwisata nasional yang mengedepankan kualitas dan keberlanjutan.
"Kementerian Pariwisata menyambut baik dan memberikan apresiasi tinggi kepada PT Paiton Energy dan TMII. Kehadiran Angling listrik di kawasan wisata ikonik seperti TMII merupakan aksi konkret untuk mendukung Peta Jalan Dekarbonisasi Sektor Pariwisata Indonesia," kata Fransiskus.
Menurut dia, kehadiran moda transportasi ramah lingkungan dan rendah emisi tidak hanya berkaitan dengan pengurangan dampak lingkungan. Fasilitas tersebut juga dapat meningkatkan kenyamanan wisatawan dan memperkuat pengembangan pariwisata hijau.
TMII Butuh 70 Angkutan Keliling
Direktur Utama TMII Ratri Paramita mengatakan kebutuhan transportasi di kawasan seluas 150 hektare tersebut cukup besar.Saat ini TMII memiliki sekitar 50 angkutan keliling. Namun, jumlah tersebut masih belum ideal untuk mengakomodasi seluruh pengunjung, terutama ketika jumlah wisatawan meningkat pada akhir pekan atau saat event besar.
"Untuk harian kami sekitar 5.000 sampai 8.000 pengunjung. Saat weekend sekitar 15.000 sampai 20.000 pengunjung. Dibutuhkan kurang lebih 70 angkutan keliling. Saat ini kami baru merealisasikan sekitar 50," kata Ratri.
Karena itu, tambahan dua Angling listrik dari Paiton Energy ikut memperkuat sarana mobilitas di dalam kawasan. Kendaraan tersebut dapat digunakan untuk mengantar pengunjung menuju berbagai anjungan dan fasilitas wisata.
Ratri mengatakan dua kendaraan tersebut juga langsung dimanfaatkan setelah diserahkan kepada TMII.
"Ini luar biasa sekali dan memang pertama kali hibah dari PT kepada Taman Mini yaitu mobil listrik dan sangat berguna, sangat impactful untuk Taman Mini," ujarnya.
Menurut Ratri, kehadiran kendaraan listrik juga sejalan dengan konsep pengembangan TMII sebagai destinasi wisata edukasi kebudayaan yang ramah lingkungan.
Dari Ragunan ke TMII
Program kendaraan listrik Paiton Energy sebelumnya juga telah diterapkan di Kebun Binatang Ragunan. Bedanya, program di Ragunan dikembangkan dengan konsep yang menghubungkan kendaraan listrik dengan pengelolaan energi dari limbah.Paiton Energy terlibat dalam pengembangan konsep waste to energy. Limbah, termasuk kotoran hewan dan sampah, diolah untuk menghasilkan biogas.
Biogas tersebut kemudian digunakan untuk menjalankan gas engine yang menghasilkan listrik. Listrik yang dihasilkan selanjutnya digunakan untuk mengisi daya kendaraan listrik yang diberikan kepada Ragunan.
"Listrik itu dipakai untuk nge-charge mobil listrik yang kita hibahkan kepada Ragunan," kata Fazil.
Pengalaman tersebut menjadi salah satu dasar gagasan Paiton Energy untuk mengembangkan konsep keberlanjutan yang lebih terintegrasi di kawasan publik.
Untuk TMII, perusahaan membuka peluang agar penggunaan kendaraan listrik nantinya dapat berkembang lebih jauh. Bukan hanya soal transportasi, tetapi juga edukasi mengenai energi hijau dan pengelolaan limbah.
Paiton Energy membayangkan TMII dapat menjadi salah satu ruang edukasi mengenai waste to energy dan transisi energi. Kolaborasi dengan berbagai pihak dapat dilakukan untuk mengenalkan pemanfaatan energi bersih dan pengelolaan limbah kepada masyarakat, termasuk anak-anak.
"Jadi ini benar-benar total sustainability. Tapi ini yang pertama, gini dulu. Nanti ke depannya satu-satu, jangan sekali jebret," katanya.