Illustrasi. Dok : AFP.
Illustrasi. Dok : AFP.

Jembatan Selat Sunda Bisa Membangkitkan Industri Baja Nasional

Ekonomi jembatan selat sunda
Ilham wibowo • 21 Maret 2019 19:04
Jakarta: Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) (PTKS) Silmy Karim optimistis industri baja nasional terus tumbuh. Dukungan pemerintah masih diperlukan terutama dalam realisasi proyek mega infrastruktur.
 
Pernyataan itu disampaikan Silmy usai menghadiri acara The 4 th Government Task Force Team Meeting for National Steel Industry Development di Hotel Borobudur Jakarta, Kamis, 21 Maret 2019. Acara dihadiri Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Thomas Lembong serta perwakilan kementerian terkait.
 
"Dalam kesempatan ini kita juga memunculkan pentingnya pembangunan Jembatan Selat Sunda. Ini akan mendukung demand dari industri baja kedepannya," kata Silmy.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Jembatan Selat Sunda termasuk proyek besar infrastruktur yang melintasi Selat Sunda sebagai penghubung antara Pulau Jawa dengan Pulau Sumatra. Proyek ini sudah lama dicetuskan sejak 1960 dan belum terjadi saat ini.
 
Menurut Silmy, kelanjutan jembatan yang diperkirakan mencapai panjang keseluruhan 31 kilometer (km) ini bakal berdampak positif pada stimulus industri baja nasional. Seluruh material baja bisa diperoleh dari pasokan dalam negeri.
 
"Kesempatan ini momen yang baik, kita bisa canangkan pembangunan Selat Sunda apakah itu berlangsung 5 atau 10 tahun, tetap harus dicanangkan dan 2 atau 3 tahun kedepannya bisa dilaksanakan proses konstruksinya," paparnya.
 
Kelanjutan proyek Jembatan Selat Sunda diyakini bakal mendukung pertumbuhan perekonomian nasional. Seluruh sektor ekonomi akan bergerak hingga menambah lapangan pekerjaan.
 
"Bukan hanya industri baja, tapi semen, lapangan pekerjaan, konstruksi, itu akan terbangun dan akan ada multiplayer effect disamping logistic cost," ungkap mantan Direktur Utama PT Pindad (Persero) ini.
 
Kehadiran infrastruktur penghubung antar pulau besar ini bakal membawa dampak positif lainnnya. "Kalau tersambung Jawa-Sumatera jalan tolnya juga akan lebih murah. Juga masih banyak ruang buat Indonesia tumbuh dan berkembang," ujarnya.
 
Silmy menambahkan pengembangan klaster baja 10 juta ton di Cilegon terus bergulir. Pengoperasian hasil kerja sama bisnis dengan Posco Korea ini bakal ditargetkan bakal rampung lebih cepat dari jadwal yang dicanangkan pada 2025.
 
"Kami bisa lebih cepat dari target yang dicanangkan rampung pada 2025. Saya yakin kalau regulasi baik, pasar sehat, 2023 itu juga sudah bisa terkejar, itu akan ada percepatan," kata Silmy.
 

(SAW)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif