Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto - - Foto: Medcom.id/ Annisa Ayu
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto - - Foto: Medcom.id/ Annisa Ayu

KKP Dorong Komitmen Keberlanjutan Budidaya Ikan

Ekonomi perikanan kelautan dan perikanan
Annisa ayu artanti • 14 Juni 2019 19:26
Jakarta: Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus mendorong keberlanjutan komitmen budidaya ikan untuk meningkatkan produksi ikan nasional. Salah satunya ialah budidaya nila nasional.
 
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto menyatakan, komitmen keberlanjutan budidaya tidak hanya ditujukan oleh pembudidaya lokal tetapi pembudidaya asing atau investor.
 
"KKP berharap komitmen tersebut juga dapat dilakukan oleh seluruh perusahaan swasta maupun masyarakat yang melakukan usaha budidaya ikan," kata Slamet dalam acara peluncuran Regal Springs Indonesia dikawasan Dharmawangsa, Jumat, 14 Juni 2019.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia menjelaskan, dengan pembudidayaan ikan akan tercipta manfaat yang bisa dirasakan langsung oleh masyarakat. "Dengan begitu, manfaat sebesar-besarnya dan berkesinambungan bagi ekonomi masyarakat benar-benar dapat dirasakan," jelas dia.
 
Pada acara tersebut, Slamet juga menyinggung bahwa pemerintah sangat terbuka kepada investor asing untuk berinvestasi di Indonesia, khususnya dalam pembudidayaan ikan. Pemerintah akan mengapresiasi investor jika mampu menerapkan secara utuh prinsip-prinsip budidaya ikan yang baik (CBIB).
 
Slamet menyebutkan, salah satu investor yang telah menerapkan prinsip budidaya ikan adalah perusahaan Regal Springs Indonesia (RSI). RSI adalah salah satu produsen tilapia atau nila terbesar di dunia.
 
RSI berhasil mengantongi sertikasi Aquaculture Stewardship Council (ASC) dan Best Aquaculture Practice (BAP) sehingga produknya dapat di ekspor ke pasar internasional seperti Amerika Serikat, Jepang, Eropa dan Australia.
 
"Kami menyadari kualitas produk tilapia premium dengan sertifikasi dan standar internasional yang dihasilkan oleh PT Aquafarm (anakn usaha RSI) dapat menjadi contoh yang baik untuk menjamin keberterimaan produk ikan Indonesia di pasar Internasional," ujar dia.
 
Lebih lanjut, Slamet menyebut, kebijakan pemerintah dalam kerja sama penanaman modal asing tidak hanya berbasis corporate based, namun ada pemberdayaan masyarakat. Sehingga, terdapat share ekonomi ke masyarakat sekitar yang akan menjamin keberlanjutan usaha perikanan budidaya dan tidak memicu kecemburuaan sosial.
 
Dengan begitu, ia meyakini keberadaan investor tidak akan menggerus pembudidaya tradisional. Justru akan meningkatkan daya saing yang saat ini dinilai belum maksimal.
 
"Tidak (menggerus), karena mereka kerja sama dengan masyarakat. Mereka kan membenihkan. Benihnya diberikan kepada masyarakat," tukas dia.
 


 

(Des)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif