Total jumlah outlet Toko Tani Indonesia (TTI) di seluruh Indonesia per Desember 2018 sebanyak 3 ribu unit (Foto:Dok.Kementan)
Total jumlah outlet Toko Tani Indonesia (TTI) di seluruh Indonesia per Desember 2018 sebanyak 3 ribu unit (Foto:Dok.Kementan)

TTI Kementan Jual Komoditas Pangan via E-Commerce

Ekonomi berita kementan
M Studio • 12 Desember 2018 13:15
Jakarta: Badan Ketahanan Pangan (BKP) Kementerian Pertanian dalam dua tahun terakhir mengembangkan Toko Tani Indonesia (TTI) untuk memangkas mata rantai distribusi pasokan yang terlalu panjang melalui e-commerce, yaitu penjualan langsung dari produsen kepada konsumen.
 
"Teknologi dengan e-commerce ini penting dan perlu kami kembangkan di TTI. Kami ambil barang dari produsen atau Gapoktan, kemudian langsung didistribusikan kepada konsumen akhir berupa toko yang bisa langsung diakses konsumen,” kata Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian (BKP Kementan) Agung Hendriadi, dikutip siaran persnya di Jakarta.
 
Menurut Agung, stok komoditas pangan yang terdata dengan baik membutuhkan pola distribusi yang tepat agar harga tetap stabil pada tingkat konsumen.
Click to Expose

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Pemerintah sudah sepakat menyederhanakan rantai pasok produk pangan agar masyarakat bisa mengakses pangan dengan mudah, harga terjangkau, namun petani juga diuntungkan dengan kepastian penjualan," kata Agung.
 
TTI menjadi salah satu bentuk direct selling yang dimiliki Kementerian Pertanian. Tercatat, total jumlah outlet TTI di seluruh Indonesia sebanyak 3 ribu unit. Jumlah tersebut meningkat cukup signifikan dibandingkan jumlah outlet per akhir 2017 sebanyak 2.200 unit. Pada 2019, TTI akan ditambah 1.000 unit di beberapa daerah.
 
Khusus untuk TTI Center, sudah dibangun sebanyak 20 unit dan tersebar di 20 ibu kota provinsi. Toko Tani Pusat bakal menjadi rantai pasok utama dalam kegiatan distribusi TTI yang tersebar di daerah hingga tingkat kelurahan.
 
Wilayah dengan penambahan jumlah outlet TTI terbesar salah satunya ada di Jakarta. Hingga semester I 2018, jumlah outlet telah meningkat sekitar 100 persen dari periode yang sama tahun lalu, sekitar 500 unit toko.
 
Nilai transaksi TTI wilayah Jakarta pun relatif besar. Menurut catatan TTI Pusat regional Jakarta, jumlah perputaran uang di wilayahnya mencapai Rp2,5 miliar. Untuk menjaga harga jual di tingkat konsumen tetap terjangkau, Kementan mengimbau agar harga jual bahan pokok di TTI berada di bawah harga eceran tertinggi (HET).
 
Guna menjangkau dan memberikan kemudahan konsumen lebih luas, TTI juga akan merambah ke fitur digital bernama TTI Online. Platform ini menjadi sistem distribusi Gapoktan kepada cabang TTI di daerah.
 
Kementan bekerja sama dengan layanan moda transportasi online mengantarkan barang dari TTI kepada konsumen.
 
"Dengan teknologi ini sangat mengefisienkan distribusi karena tidak ada inventori atau gudang, sekaligus pelayanan menjadi lebih cepat. Ke depan, focus e-commerce akan terus dikembangkan," kata Agung.
 
Sejak diluncurkan pada Mei 2018 hingga saat ini, perputaran uang di e-commerce TTI mencapai Rp8,4 miliar. Hingga kini, pelayanan e-commerce melalui TTI di tiga kota yaitu Lampung, Bali, dan DKI Jakarta.
 
"Rencananya pada 2019, akan ada penambahan 10 kota lainnya seperti Medan, Surabaya, dan beberapa kota besar lain,” kata Agung.
 

(ROS)

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif