Sekretaris Kemenko Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso, mengatakan kondisi global tetap menyimpan risiko, terutama akibat konflik Selat Hormuz yang berdampak pada harga dan biaya logistik.
“Saya hanya ingin menggaris bawahi bahwa konflik Selat Hormuz itu sangat berpengaruh ke semua negara. Khususnya kita, terutama selain menciptakan ketidakpastian dari sisi geopolitik global, juga pengaruh ke kenaikan harga. Logistic cost-nya naik semuanya. Yang paling penting sebenarnya masalah kepastian bahan baku,” ujar Susiwijono dalam diskusi panel BIG Downstream Insights 2026 pada Selasa, 6 Oktober 2026 di Jakarta, dilansir dari laman Kemenko Bidang Perekonomian RI pada Rabu, 7 Oktober 2026,
Di sisi lain, arus investasi ke Indonesia masih menunjukkan perkembangan positif. Realisasi investasi Indonesia pada semester I-2026 mencapai Rp1.010,6 triliun, tumbuh 7,2 persen secara tahunan dan setara dengan 49,5 persen dari target investasi 2026 sebesar Rp2.041,3 triliun. Dari angka tersebut, investasi hilirisasi mencapai Rp300,1 triliun atau hampir 30 persen dari total investasi nasional.
Menurut Susiwijono, perubahan peta perdagangan global juga bisa menjadi kesempatan bagi Indonesia. Ketika sejumlah investor mencari lokasi produksi alternatif akibat ketegangan perdagangan dan kebijakan tarif di berbagai negara, Indonesia punya modal berupa pasar domestik yang besar serta fundamental ekonomi yang relatif kuat untuk menarik investasi tersebut.
Meskipun memiliki peluang investasi, Indonesia tetap dibayangi persoalan rantai pasok akibat konflik di Selat Hormuz. Karena itu, pemerintah ingin memperkuat ekosistem hilirisasi melalui kombinasi investasi, insentif fiskal yang kompetitif, rantai pasok domestik dan perluasan akses pasar.
Pemerintah juga meninjau kembali skema insentif seiring penerapan Global Minimum Tax 15 persen agar kebijakan investasi Indonesia tetap menarik sekaligus mengikuti perkembangan aturan perpajakan internasional.
Indonesia Mau Dapat Dua Manfaat Sekaligus
Pemerintah juga mendorong perluasan akses pasar melalui kerja sama perdagangan seperti Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) dan Free Trade Agreement (FTA). Strategi ini diharapkan membuat produk yang dihasilkan di Indonesia punya pasar lebih luas sekaligus meningkatkan daya tarik Indonesia sebagai basis produksi.
“Ini yang terus kita dorong, sehingga kita mendapatkan dua manfaat sekaligus. Pertama, membuka akses pasar yang lebih luas bagi produk Indonesia, sekaligus membuat Indonesia semakin menarik bagi investor,” pungkas Susiwijono. (Wisa Irena Br Sitepu)