Jakarta: Ketua MPR RI Ahmad Muzani menilai program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu langkah strategis untuk membangun sumber daya manusia Indonesia menuju Generasi Emas 2045.
Menurut Muzani, program tersebut tidak semata-mata berkaitan dengan pemberian makanan kepada masyarakat, tetapi menjadi bagian dari upaya negara meningkatkan kualitas kesehatan dan pendidikan generasi mendatang.
| Baca juga: Siswa Tidak Boleh Bawa Pulang MBG, BGN Spill Alasan dan Risikonya |
"Program tersebut bukan semata-mata pembagian makanan. Ia merupakan bagian dari ikhtiar mencerdaskan kehidupan bangsa serta membangun manusia Indonesia yang sehat dan berkualitas," ujar Muzani dalam pidatonya di Sidang Majelis, Jumat, 14 Agustus 2026.
Muzani mengatakan Indonesia telah mencatat berbagai kemajuan selama 81 tahun merdeka. Kemajuan tersebut antara lain terlihat dari pembangunan infrastruktur, perluasan akses pendidikan, peningkatan layanan kesehatan, pengembangan industri, penguatan sektor pertanian, hingga perluasan perlindungan sosial.
Berbagai kemajuan tersebut juga telah membantu mengangkat jutaan masyarakat dari kemiskinan. Meski demikian, dia menilai masih terdapat persoalan mendasar yang harus diselesaikan, khususnya terkait pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.
"Namun, masih ada anak-anak kita yang berangkat ke sekolah tanpa sarapan. Masih ada keluarga yang harus memilih antara membeli makanan atau membayar pengobatan," kata dia.
MBG Jadi Investasi Jangka Panjang
Muzani menilai persoalan pemenuhan gizi perlu ditempatkan sebagai bagian dari agenda pembangunan sumber daya manusia. Dia menyebut pemenuhan gizi bagi anak-anak, ibu hamil, serta kelompok masyarakat yang membutuhkan merupakan investasi jangka panjang bagi masa depan Indonesia.
Menurut dia, kualitas generasi mendatang akan turut menentukan kemampuan Indonesia bersaing di tengah perubahan ekonomi dan perkembangan dunia.
"Adalah mimpi kita semua memiliki anak-anak yang unggul dan bisa bersaing secara kompetitif," ujar Muzani.
Karena itu, pelaksanaan MBG harus diarahkan untuk mencapai tujuan tersebut. Muzani menekankan pentingnya tata kelola program agar manfaatnya benar-benar diterima kelompok yang membutuhkan.
"Tugas kita bersama adalah memastikan bahwa tujuan yang baik itu dilaksanakan dengan tata kelola yang baik: tepat sasaran, dan akuntabel," tegasnya.
Dia menambahkan, keberhasilan program tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran atau jumlah makanan yang dibagikan. Pengawasan dan akuntabilitas menjadi bagian penting agar MBG dapat memberikan dampak nyata terhadap kualitas generasi Indonesia.
Dengan demikian, MBG diharapkan tidak hanya menjadi program jangka pendek untuk memenuhi kebutuhan pangan dan gizi, tetapi juga menjadi bagian dari strategi pembangunan manusia menuju Indonesia Emas 2045.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda