Ilustrasi cabai rawit merah. Foto: Medcom.id/Daviq Umar
Ilustrasi cabai rawit merah. Foto: Medcom.id/Daviq Umar

Inflasi September 2026 Tembus 0,30%, Cabai Rawit Jadi Penyumbang Terbesar

Annisa ayu artanti • 01 Oktober 2026 17:24
Ringkasnya gini..
  • BPS mencatat inflasi September 2026 sebesar 0,30 persen, dengan cabai rawit menjadi penyumbang inflasi terbesar.
  • Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi pendorong utama inflasi September dengan andil 0,26 persen.
  • Sebanyak 36 provinsi mengalami inflasi pada September 2026, dengan Sulawesi Utara mencatat inflasi tertinggi 3,53 persen.
Jakarta: Harga kebutuhan pangan kembali menjadi sorotan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Indonesia pada September 2026 sebesar 0,30 persen secara bulanan (month-to-month/mtm). Kenaikan harga cabai rawit menjadi salah satu pendorong terbesar inflasi bulan tersebut.

Secara tahunan, inflasi September 2026 mencapai 3,28 persen, sedangkan inflasi tahun kalender (year-to-date/ytd) berada di level 2,17 persen. Indeks Harga Konsumen (IHK) naik dari 111,97 pada Agustus menjadi 112,31 pada September 2026.

"Terjadi kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 111,97 pada Agustus 2026 menjadi 112,31 pada September 2026,” kata Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam Rilis BPS, Kamis, 1 Oktober 2026.

Cabai Rawit Jadi Penyumbang Inflasi Terbesar

Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi sumber tekanan harga terbesar pada September. Kelompok ini mengalami inflasi 0,88 persen dan memberikan andil 0,26 persen terhadap inflasi bulanan.

Di dalam kelompok tersebut, cabai rawit menjadi komoditas dengan andil inflasi terbesar, yakni 0,08 persen. Setelah cabai rawit, sejumlah bahan pangan lain juga ikut mendorong inflasi. Cabai merah memberikan andil 0,06 persen, daging ayam ras 0,05 persen, beras 0,03 persen, dan telur ayam ras 0,02 persen. Sementara itu, ikan segar dan kangkung masing-masing memberikan andil inflasi 0,01 persen.
   

Harga Pangan Bergejolak Jadi Sumber Tekanan

Jika dilihat berdasarkan komponennya, tekanan terbesar berasal dari komponen harga bergejolak atau volatile food.

Komponen ini mengalami inflasi 1,46 persen dan memberikan andil 0,24 persen terhadap inflasi September 2026.

Kenaikan terutama dipengaruhi sejumlah komoditas pangan, yakni cabai rawit, cabai merah, daging ayam ras, beras, telur ayam ras, dan kangkung.

Sementara itu, inflasi inti tercatat sebesar 0,10 persen dengan andil 0,06 persen. Salah satu komoditas yang ikut mendorong inflasi inti adalah biaya kuliah akademi atau perguruan tinggi.

BPS juga mencatat komponen harga yang diatur pemerintah (administered prices) mengalami inflasi yang sangat rendah atau mendekati nol. Bensin memberikan andil inflasi, sedangkan tarif angkutan udara memberikan andil deflasi.

Emas Perhiasan Jadi Penyumbang Deflasi

Tidak semua kelompok pengeluaran mengalami kenaikan harga. Kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya justru mengalami deflasi sebesar 0,14 persen dengan andil deflasi 0,01 persen.

Penurunan tersebut terutama dipengaruhi oleh emas perhiasan, yang memberikan andil deflasi sebesar 0,01 persen.

Artinya, kenaikan harga pangan menjadi faktor yang lebih dominan dalam mendorong inflasi bulanan September dibandingkan sejumlah komoditas yang mengalami penurunan harga.

36 Provinsi Alami Inflasi

Tekanan harga juga terjadi di sebagian besar wilayah Indonesia. BPS mencatat 36 provinsi mengalami inflasi secara bulanan pada September 2026, sedangkan dua provinsi mengalami deflasi.

Inflasi bulanan tertinggi tercatat di Sulawesi Utara sebesar 3,53 persen. Sebaliknya, deflasi terdalam terjadi di Nusa Tenggara Timur sebesar 0,35 persen. 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ANN)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan