Usia produktif. Foto: MI.
Usia produktif. Foto: MI.

Populasi Menua Makin Besar, Indonesia Harus Siap dari Sekarang

Arif Wicaksono • 18 September 2026 15:35
Ringkasnya gini..
  • Indonesia sedang memasuki fase baru dalam perjalanan demografinya. Jumlah penduduk lanjut usia (lansia) terus bertambah, sementara jumlah anggota keluarga dan penduduk usia produktif perlahan menyusut
  • Hal tersebut menjadi sorotan dalam riset DBS Foundation bertajuk “Indonesia Menuju Populasi Menua: Seberapa Siapkah Kita?”.
Jakarta: Indonesia sedang memasuki fase baru dalam perjalanan demografinya. Jumlah penduduk lanjut usia (lansia) terus bertambah, sementara jumlah anggota keluarga dan penduduk usia produktif perlahan menyusut. Kondisi ini membuat persiapan menghadapi masyarakat menua tidak bisa menunggu sampai seseorang memasuki usia pensiun.

Hal tersebut menjadi sorotan dalam riset DBS Foundation bertajuk “Indonesia Menuju Populasi Menua: Seberapa Siapkah Kita?”. Riset tersebut membahas kesiapan Indonesia menghadapi perubahan struktur penduduk sekaligus pentingnya memanfaatkan bonus demografi yang masih berlangsung saat ini.
 

Baca juga: Populasi Dunia Tembus 8,09 Miliar pada Awal 2025, Ini Negara dengan Penduduk Terbanyak

 

Indonesia masuk kategori ageing society ketika proporsi penduduk berusia 60 tahun ke atas mencapai 10 persen dari total populasi. Berdasarkan data BPS yang dikutip dalam riset tersebut, proporsi lansia Indonesia sudah mencapai sekitar 12 persen pada 2025 dan diproyeksikan menembus 20 persen pada 2045.

Artinya, persoalannya bukan sekadar jumlah lansia yang semakin banyak. Tantangan utamanya adalah bagaimana memastikan masyarakat dari berbagai kelompok usia bisa tetap sehat, produktif, mandiri, dan memiliki kondisi finansial yang cukup ketika memasuki masa tua.

Head of Group Marketing & Communications PT Bank DBS Indonesia Mona Monika mengatakan persiapan menghadapi populasi menua perlu dimulai sejak seseorang masih berada pada usia produktif.

“Ageing society merupakan isu penting karena dampaknya dirasakan seluruh generasi. Persiapannya perlu dimulai sejak usia produktif melalui peningkatan akses pendidikan, kesehatan, pekerjaan, literasi dan inklusi keuangan, hingga persiapan pensiun,” ujar Mona.

Pandangan serupa disampaikan Artist, Entrepreneur and Founder of Cinta Laura Foundation Cinta Laura Kiehl. Menurut dia, kemandirian di masa depan tidak muncul secara instan, tetapi dibangun melalui kebiasaan dan keputusan yang dibuat sejak usia muda.

“Kesempatan untuk mendapatkan pendidikan dan mengembangkan kapasitas diri belum dimiliki semua orang. Karena itu, kami mendukung mahasiswa agar tidak hanya menyelesaikan pendidikan, tetapi juga memiliki kemampuan kepemimpinan, komunikasi, literasi finansial, pemecahan masalah, dan kesiapan karier,” kata Cinta.

Bonus Demografi Mulai Menyempit

Indonesia memang masih menikmati bonus demografi. Pada 2025, sekitar 69 persen penduduk berada dalam kelompok usia produktif 15-65 tahun. Namun, periode tersebut tidak berlangsung selamanya.

Penurunan angka kelahiran dan meningkatnya harapan hidup membuat struktur penduduk Indonesia perlahan berubah. Keluarga cenderung memiliki jumlah anggota yang lebih sedikit, sementara kebutuhan untuk menopang anggota keluarga yang sudah lanjut usia berpotensi meningkat.

Data riset menunjukkan Total Fertility Rate (TFR) Indonesia turun dari 3,11 anak per perempuan pada awal 1990-an menjadi 2,13 pada 2024. Angka tersebut diproyeksikan kembali turun menjadi 1,97 pada 2045.

Jumlah pernikahan juga mengalami penurunan. Dari sekitar 2,01 juta pernikahan pada 2018, jumlahnya menjadi sekitar 1,48 juta pada 2025.

Kondisi tersebut berpotensi memperbesar tantangan bagi sandwich generation, yaitu kelompok usia produktif yang harus memenuhi kebutuhan diri sendiri sekaligus membantu orang tua dan anggota keluarga lainnya.

Banyak Lansia Masih Harus Bekerja

Masalah berikutnya ada pada kondisi ekonomi lansia. Berdasarkan riset DBS Foundation, sekitar 55,32 persen lansia masih bekerja. Dari jumlah tersebut, 84,75 persen bekerja di sektor informal.

Sementara itu, secara nasional sekitar 59,42 persen pekerja berada di sektor informal. Pekerjaan pada sektor ini umumnya memiliki pendapatan yang lebih tidak pasti dan akses yang lebih terbatas terhadap berbagai fasilitas ketenagakerjaan, termasuk program pensiun.

Ketergantungan terhadap keluarga juga masih tinggi. Sekitar 82,96 persen rumah tangga lansia masih mengandalkan pendapatan anggota keluarga yang bekerja. Sebaliknya, kurang dari 1 persen yang sumber ekonominya berasal dari tabungan dan investasi.

Angka tersebut menunjukkan bahwa persiapan finansial untuk masa tua masih menjadi pekerjaan rumah. Tanpa persiapan sejak usia produktif, kebutuhan ketika memasuki masa pensiun berpotensi kembali dibebankan kepada generasi berikutnya.

Pendidikan dan Literasi Finansial Ikut Menentukan

Persiapan menghadapi masyarakat menua juga tidak hanya soal dana pensiun. Pendidikan dan keterampilan turut menentukan kemampuan seseorang untuk mendapatkan pekerjaan dengan pendapatan yang lebih baik.

Riset tersebut mencatat rata-rata lama sekolah generasi saat ini sekitar sembilan tahun atau setara jenjang SMP. Sementara itu, rata-rata lama sekolah lansia saat ini sekitar enam tahun atau setara SD.

Oleh karena itu, peningkatan partisipasi pendidikan hingga setidaknya 12 tahun dinilai penting untuk memperbesar peluang ekonomi masyarakat pada masa mendatang. Di sisi lain, akses masyarakat terhadap layanan keuangan sebenarnya sudah cukup luas. Pada kelompok usia 18-50 tahun, tingkat inklusi keuangan berada di kisaran 93,5-95,1 persen. Namun, tingkat literasi keuangannya masih berada di kisaran 72,1-74,1 persen.

Kesenjangan tersebut menunjukkan bahwa memiliki akses ke layanan keuangan belum otomatis berarti seseorang sudah siap menghadapi masa pensiun. Kepemilikan tabungan atau dana pensiun tercatat baru sekitar 5,37 persen, sementara pemahaman mengenai pentingnya dana pensiun sudah mencapai 27,79 persen.

Karena itu, dibutuhkan skema pensiun yang lebih fleksibel dan sesuai dengan kondisi pekerja informal maupun wiraswasta. Dengan begitu, persiapan masa tua tidak hanya menjadi pilihan bagi pekerja yang memiliki pekerjaan formal.

Persiapan Tidak Bisa Dilakukan Sendirian

DBS Foundation menilai kesiapan menghadapi masyarakat menua harus dibangun sepanjang siklus kehidupan. Pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat memiliki peran masing-masing.

Pemerintah dapat memperkuat kebijakan yang menghubungkan pendidikan, kesehatan, pekerjaan, perlindungan sosial, hingga layanan untuk lansia. Dunia usaha dapat menghadirkan produk dan layanan yang menjawab kebutuhan masyarakat yang semakin menua.

Sementara itu, individu dapat mulai membangun kebiasaan sehat, meningkatkan keterampilan, mengelola keuangan, serta menyiapkan tabungan, investasi, dan dana pensiun sejak usia produktif.

“Setiap tahapan kehidupan perlu mendapatkan perhatian yang sesuai, mulai dari masa awal kehidupan, pendidikan, usia produktif, sampai usia lanjut,” ujar Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Keluarga dan Kependudukan Kemenko PMK RI Woro Srihastuti Sulistyaningrum.

Menurut Woro, pendekatan sepanjang siklus kehidupan diperlukan agar pembangunan sumber daya manusia tidak berhenti ketika seseorang memasuki dunia kerja. Fondasinya perlu dibangun sejak dini agar masyarakat dapat menjalani masa depan dengan kondisi yang sehat dan produktif.

Mulai dari Hal yang Realistis

Untuk membantu masyarakat menghitung kebutuhan finansial masa depan, Bank DBS Indonesia bersama DBS Foundation juga menghadirkan Retirement Goal Calculator melalui kampanye “Pensiun Gak Susah”.

Kalkulator tersebut dapat digunakan untuk membuat proyeksi kebutuhan dana berdasarkan target usia pensiun, pengeluaran, gaya hidup, inflasi, serta asumsi imbal hasil investasi.

Namun, persiapan masa tua tidak berhenti pada berapa banyak uang yang berhasil dikumpulkan. Kondisi kesehatan, pendidikan, keterampilan, pekerjaan, dan kemampuan beradaptasi juga ikut menentukan kualitas hidup seseorang ketika memasuki usia lanjut.

DBS Foundation juga mendorong keterlibatan dunia usaha dan Businesses for Impact untuk menciptakan solusi bagi kebutuhan masyarakat menua. Mulai dari layanan kesehatan dan perawatan, keamanan finansial, pembelajaran sepanjang hayat, hingga kebutuhan untuk tetap terhubung secara sosial.

Sejak 2015, DBS Foundation telah menyalurkan lebih dari SGD26 juta dalam bentuk hibah kepada lebih dari 180 social enterprises dan Businesses for Impact di Asia. Di Indonesia, lebih dari SGD4 juta telah dialokasikan kepada 25 penerima.

Program tersebut mencakup berbagai isu sosial, seperti pendidikan, keterampilan kerja, kesehatan, dan penghidupan yang lebih inklusif. DBS Foundation juga bekerja sama dengan sejumlah mitra, termasuk UNICEF dan Dicoding, untuk mendukung peningkatan gizi, kualitas pembelajaran, keterampilan digital, serta peluang ekonomi generasi muda.

Melalui Impact Beyond Award (IBA), DBS Foundation turut mendukung inovasi yang berkaitan dengan kebutuhan masyarakat menua. Sejak diluncurkan pada 2024, empat social enterprise di Asia telah menerima total hibah SGD3 juta untuk mengembangkan layanan seperti pelatihan caregiver, teknologi yang membantu kemandirian lansia, dan ekosistem perawatan lansia.

Pada akhirnya, populasi menua bukan sekadar cerita tentang semakin banyaknya orang lanjut usia. Perubahan ini juga berkaitan dengan bagaimana generasi muda mempersiapkan kesehatan, karier, keterampilan, dan kondisi finansial mereka.

Bonus demografi yang sedang dinikmati Indonesia menjadi momentum untuk membangun fondasi tersebut. Sebab, semakin cepat persiapan dilakukan, semakin banyak pilihan yang tersedia ketika masyarakat memasuki fase kehidupan berikutnya.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan