Ekonomi Indonesia. Foto: MI.
Ekonomi Indonesia. Foto: MI.

Ekonomi Indonesia Diprediksi Tetap Tumbuh 5,2% di Tengah Ketidakpastian Global

Arif Wicaksono • 10 September 2026 09:38
Ringkasnya gini..
  • Ekonomi Indonesia diproyeksikan masih mampu tumbuh sekitar 5,2% pada 2026.
  • Meski prospeknya masih positif, bukan berarti Indonesia bisa sepenuhnya santai. Ada sejumlah risiko yang tetap perlu diantisipasi, terutama yang datang dari luar negeri.
Jakarta: Ekonomi global masih belum benar-benar "adem". Harga energi tinggi, suku bunga global masih ketat, hingga pertumbuhan ekonomi dunia yang melambat menjadi sejumlah tantangan yang harus dihadapi pada 2026.

Meski begitu, kondisi tersebut diperkirakan tidak akan langsung membuat ekonomi Indonesia kehilangan momentumnya. Indonesia dinilai masih punya sejumlah penopang untuk menjaga pertumbuhan ekonomi tetap berada di kisaran 5%.
 
Baca juga:  Ini Komentar JP Morgan terhadap APBN 2027

Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Indonesia’s Economic Outlook 2026 yang digelar PT Bank Danamon Indonesia Tbk (Danamon). Dalam forum tersebut, Danamon memaparkan prospek ekonomi Indonesia sekaligus perkembangan kebijakan Bank Indonesia (BI) dalam memperkuat pasar keuangan dan transaksi valuta asing.

Lead Economist Danamon, Irman Faiz, mengatakan ekonomi dunia masih dibayangi sejumlah tekanan. Salah satunya berasal dari kenaikan harga energi akibat meningkatnya ketegangan geopolitik di berbagai kawasan.

Kondisi tersebut berpotensi kembali mendorong inflasi dan membuat kebijakan moneter di sejumlah negara tetap ketat. Pertumbuhan ekonomi global pun diperkirakan melambat dari sekitar 3,5% pada 2025 menjadi 3% pada akhir 2026.

Namun, perlambatan global tersebut tidak serta-merta membuat prospek Indonesia ikut meredup. Ekonomi Indonesia diproyeksikan masih mampu tumbuh sekitar 5,2% pada 2026.
Menurut Irman, pertumbuhan tersebut akan banyak ditopang oleh investasi, belanja pemerintah, konsumsi dan aktivitas ekonomi domestik, serta berbagai kebijakan yang diarahkan untuk menjaga mesin ekonomi nasional tetap berjalan.

Salah satu yang menarik adalah semakin besarnya peran investasi asing langsung atau foreign direct investment (FDI). Aliran investasi tersebut terutama mengarah ke sektor hilirisasi, industri logam dasar, hingga pembangunan pusat data atau data center.

"Perekonomian Indonesia masih memiliki fondasi yang cukup kuat untuk mempertahankan pertumbuhan di tengah berbagai tantangan global. Aktivitas investasi tetap menjadi penopang utama pertumbuhan, sementara peluang dari hilirisasi industri, ekonomi digital, dan pengembangan data center berpotensi menciptakan sumber pertumbuhan baru dalam jangka menengah hingga panjang," ujar Irman dalam keteranganya.

Meski prospeknya masih positif, bukan berarti Indonesia bisa sepenuhnya santai. Ada sejumlah risiko yang tetap perlu diantisipasi, terutama yang datang dari luar negeri.

Salah satunya adalah potensi pelebaran defisit transaksi berjalan. Kondisi ini dapat terjadi seiring meningkatnya kebutuhan impor energi, sementara pertumbuhan ekonomi sejumlah negara mitra dagang utama Indonesia berpotensi melambat.

Pergerakan pasar keuangan global juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan. Perubahan kebijakan suku bunga negara maju bisa memicu perubahan arus modal global dan ikut memberikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.

Karena itu, penguatan pasar keuangan domestik menjadi semakin penting. Pasar valuta asing (valas) yang dalam, likuid, dan memiliki daya tahan dapat membantu Indonesia menghadapi perubahan arus modal serta menjaga stabilitas rupiah.

Perkuat Valas Domestik 

Bank Indonesia pun terus mengembangkan berbagai instrumen untuk memperkuat pasar valas domestik. Langkah tersebut antara lain dilakukan melalui pengembangan transaksi mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT), penyempurnaan aturan transaksi pasar valas, hingga penerapan VASTRA atau Ketentuan Transaksi Pasar Valas Transaksi Lindung Nilai melalui Bank Mitra.

Asisten Direktur Departemen Pengembangan Pasar Keuangan Bank Indonesia, Yansen Lokanata, mengatakan penguatan pasar valas dibutuhkan agar pasar keuangan Indonesia semakin siap menghadapi dinamika ekonomi global.

Salah satu kebijakan yang menjadi perhatian adalah VASTRA. Instrumen ini dirancang untuk memperluas akses investor global terhadap transaksi lindung nilai rupiah di pasar domestik.
Dengan akses hedging yang lebih luas, investor memiliki lebih banyak opsi untuk mengelola risiko perubahan nilai tukar. Di sisi lain, kebijakan tersebut diharapkan ikut meningkatkan likuiditas dan transparansi pasar valas dalam negeri.

"Pendalaman pasar valuta asing merupakan bagian penting dalam memperkuat ketahanan ekonomi nasional. Berbagai kebijakan yang terus disempurnakan Bank Indonesia bertujuan untuk meningkatkan efisiensi pasar, memperluas akses investor, serta mendorong terciptanya pasar keuangan yang lebih inklusif dan berdaya tahan dalam menghadapi dinamika global," ujar Yansen.

Dengan kondisi tersebut, ekonomi Indonesia pada 2026 masih memiliki sejumlah alasan untuk tetap optimistis. Investasi, hilirisasi, ekonomi digital, dan data center berpotensi menjadi mesin pertumbuhan baru, sementara konsumsi domestik dan belanja pemerintah tetap menjadi penyangga ekonomi.

Tantangannya adalah bagaimana Indonesia menjaga stabilitas ketika kondisi global masih mudah berubah. Penguatan fundamental ekonomi dan pendalaman pasar keuangan menjadi bagian penting agar pertumbuhan tidak hanya bertahan, tetapi juga semakin berkualitas dan berkelanjutan.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan