Proyeksi tersebut menunjukkan ekonomi kawasan masih cukup solid meski dunia menghadapi berbagai tekanan, mulai dari ketegangan perdagangan Amerika Serikat (AS)-Tiongkok, meningkatnya proteksionisme, hingga perubahan teknologi yang berlangsung cepat.
Laporan From Tailwinds to Trade-Offs: Southeast Asia Outlook 2026-2035 menyebut pertumbuhan kawasan akan ditopang oleh investasi asing, pembentukan modal, industrialisasi, pembangunan infrastruktur, serta penggunaan teknologi yang semakin luas.
Konsumsi domestik juga menjadi salah satu penyangga. Sejumlah negara di kawasan memiliki struktur demografi yang masih mendukung pertumbuhan ekonomi, sehingga permintaan dari dalam negeri berpotensi tetap menjadi mesin penting.
Namun, cerita pertumbuhan enam negara tersebut tidak akan berjalan dengan kecepatan yang sama. Perbedaan kualitas institusi, ketahanan energi, kesiapan teknologi, hingga kemampuan menjalankan kebijakan membuat masing-masing negara memiliki jalur pertumbuhan yang berbeda.
Laporan tersebut merupakan kolaborasi perspektif ekonomi, bisnis, dan kebijakan publik dari Bain & Company, DBS Bank, dan Vriens & Partners. Edisi ketiga ini melihat perkembangan Asia Tenggara untuk periode 10 tahun hingga 2035.
Salah satu pesan utama laporan tersebut adalah kondisi global akan menjadi semacam “batas luar” bagi pertumbuhan kawasan. Sementara itu, keputusan pemerintah dalam beberapa tahun ke depan akan menentukan seberapa dekat masing-masing negara dengan potensi pertumbuhan maksimalnya.
Menariknya, proyeksi pertumbuhan 4,8% ini lebih rendah dibandingkan outlook sebelumnya. Dalam laporan 2024, pertumbuhan kawasan diperkirakan mencapai 5,1% untuk periode 2024-2034.
Vietnam Masih Kencang, Thailand Lebih Lambat
Di antara enam negara tersebut, Vietnam diproyeksikan tetap menjadi salah satu motor pertumbuhan utama Asia Tenggara. Sebaliknya, Thailand menghadapi tantangan untuk mengejar laju negara-negara lain.Perbedaan tersebut sebenarnya sudah terlihat dalam kinerja terbaru. Pada 2024 dan 2025, ekonomi SEA-6 secara keseluruhan tumbuh rata-rata 5,1%.
Namun, angka tersebut menyimpan cerita yang cukup berbeda di masing-masing negara. Vietnam mencatat pertumbuhan 7,5% dalam periode dua tahun tersebut, sedangkan Thailand hanya tumbuh 2,7%.
Singapura, Malaysia, dan Vietnam berada di atas rata-rata kawasan. Kinerja tersebut antara lain ditopang oleh permintaan semikonduktor yang berkaitan dengan perkembangan kecerdasan buatan (AI), ekspor manufaktur, serta momentum investasi.
Sementara itu, Indonesia mencatat pertumbuhan di bawah proyeksi sebelumnya, yang dalam laporan dikaitkan dengan tantangan kelembagaan dan pelaksanaan kebijakan. Filipina juga menghadapi hambatan dari sisi investasi dan eksekusi sektor publik.
Perbedaan ini membuat prospek ekonomi SEA-6 semakin lebar. Dalam skenario ekonomi yang kurang menguntungkan, Indonesia, Filipina, dan Thailand disebut memiliki tingkat kerentanan yang lebih tinggi.
Sebaliknya, Malaysia, Singapura, dan Vietnam memiliki peluang mendapatkan manfaat yang lebih besar jika kondisi ekonomi global bergerak lebih positif.
Uang Asing Makin Mengalir ke Asia Tenggara
Investasi asing menjadi salah satu alasan mengapa Asia Tenggara masih menarik perhatian. Arus masuk bersih foreign direct investment (FDI) ke enam negara SEA-6 meningkat 25% pada 2025.Kenaikan itu terjadi ketika arus FDI ke Tiongkok justru turun 34%. Pergeseran tersebut menunjukkan adanya perubahan dalam rantai pasok global dan strategi perusahaan dalam menentukan lokasi investasi.
Namun, meningkatnya investasi juga punya sisi lain. Arus modal tersebut semakin terkonsentrasi pada sejumlah negara dan sektor tertentu.
Perdagangan juga menjadi bagian penting dari cerita tersebut. Sepanjang 2016-2025, volume perdagangan kawasan setara dengan sekitar 89% dari produk domestik bruto (PDB) regional. Angka tersebut lebih dari dua kali rata-rata global.
Artinya, ekonomi Asia Tenggara sangat terhubung dengan kondisi ekonomi dunia. Ketika permintaan global naik, kawasan bisa mendapatkan keuntungan. Namun, ketika perdagangan global terganggu, dampaknya juga bisa cepat terasa.
Laporan tersebut juga mengingatkan bahwa lonjakan ekspor belakangan ini belum otomatis menghasilkan peningkatan produktivitas yang merata. Pertumbuhan masih banyak ditopang oleh elektronik dan pembangunan infrastruktur yang berkaitan dengan AI.
Singapura Jadi Hub Modal Kawasan
Di tengah dinamika tersebut, Singapura memiliki posisi yang cukup unik. Negara kota tersebut dinilai sebagai ekonomi yang paling tangguh di kawasan berdasarkan indikator yang digunakan dalam laporan.Posisinya didukung status sebagai tempat yang relatif aman bagi modal, pasar keuangan yang dalam, penyangga fiskal, serta reputasi sebagai pusat bisnis regional yang tepercaya.
Singapura juga menarik lebih dari 60% FDI yang masuk ke kawasan dan menjadi salah satu pusat modal utama ASEAN.
Menariknya, hubungan Singapura dengan negara-negara tetangga tidak hanya satu arah. Singapura juga menjadi sumber FDI terbesar bagi Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Vietnam.
Posisi tersebut membuat Singapura berperan seperti “jembatan” antara modal dan kemampuan global dengan berbagai peluang bisnis di Asia Tenggara.
Namun, Singapura tetap menghadapi tantangan. Ketergantungan terhadap energi impor dan persoalan demografi menjadi dua isu yang perlu dikelola.
Agar pertumbuhan tetap berjalan, Singapura membutuhkan pasokan talenta secara berkelanjutan sekaligus peningkatan produktivitas melalui pemanfaatan AI di berbagai sektor ekonomi.
Tiga PR Besar Asia Tenggara
Laporan tersebut menyoroti tiga prioritas yang dinilai semakin penting bagi negara-negara Asia Tenggara dalam menghadapi dekade berikutnya.Pertama, memperkuat institusi. Tata kelola, kepastian hukum, stabilitas fiskal, serta pasar modal yang lebih dalam akan semakin menentukan kepercayaan investor. Bukan cuma soal menarik modal baru, institusi yang kuat juga dibutuhkan agar modal yang sudah masuk tetap bertahan dan kebijakan pemerintah bisa dieksekusi dengan efektif.
Kedua, memperkuat sistem energi. Investasi industri dan infrastruktur digital membutuhkan listrik yang stabil. Karena itu, energi terbarukan yang dapat dibiayai secara komersial serta jaringan listrik yang andal akan menjadi semakin penting.
Negara-negara Asia Tenggara juga perlu mengurangi ketergantungan pada sumber energi impor tertentu. Diversifikasi menjadi penting agar gangguan pasokan global tidak langsung memukul perekonomian domestik.
Ketiga, mengejar “AI dividend”. Penggunaan AI tidak cukup berhenti di tahap uji coba atau proyek kecil. Negara yang ingin mendapatkan manfaat ekonomi dari AI perlu mendorong penggunaannya hingga skala perusahaan. Untuk itu, dibutuhkan infrastruktur komputasi, tata kelola data yang kredibel, serta tenaga kerja yang memiliki keterampilan relevan.
Dengan kata lain, AI bukan cuma soal membuat chatbot atau aplikasi baru. Teknologi tersebut berpotensi mengubah cara perusahaan berproduksi, mengelola operasional, hingga menciptakan produk dan layanan.
Masa Depan Asia Tenggara Makin Saling Terhubung
Perbedaan kondisi domestik memang akan membuat setiap negara memiliki strategi masing-masing. Namun, keenam ekonomi tersebut tidak bisa benar-benar berjalan sendirian.Perdagangan, investasi, rantai pasok, energi, dan teknologi membuat perekonomian Asia Tenggara saling terhubung.
Oleh karena itu, ketika satu negara mengalami perubahan besar dalam kebijakan atau kondisi ekonominya, efeknya berpotensi merambat ke negara lain melalui perdagangan dan investasi.
Situasi tersebut membuat kerja sama regional semakin penting. Kawasan perlu tetap terbuka terhadap perdagangan dan investasi, tetapi sekaligus memperkuat ketahanan menghadapi perubahan ekonomi global.
Apalagi Singapura akan bersiap memegang Keketuaan ASEAN pada 2027. Dalam konteks tersebut, menjaga Asia Tenggara tetap terhubung dan menarik bagi investasi menjadi salah satu tantangan penting.
Proyeksi pertumbuhan rata-rata 4,8% hingga 2035 menunjukkan Asia Tenggara masih memiliki peluang besar. Namun, angka tersebut bukan sesuatu yang otomatis terjadi.
Dua hingga tiga tahun ke depan akan menjadi periode penting untuk melihat apakah negara-negara SEA-6 mampu mengubah momentum investasi, perdagangan, teknologi, dan demografi menjadi pertumbuhan yang lebih tahan lama.
Pada akhirnya, persaingan Asia Tenggara bukan cuma soal siapa yang tumbuh paling cepat. Tantangan besarnya adalah siapa yang mampu membangun institusi, energi, teknologi, dan tenaga kerja yang cukup kuat untuk mempertahankan pertumbuhan ketika kondisi global berubah.