Ilustrasi warga berbelanja bahan pokok di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan - - Foto: MI/ Ramdani
Ilustrasi warga berbelanja bahan pokok di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan - - Foto: MI/ Ramdani

Situasi Global Bergejolak, Daya Beli Masyarakat RI Tangguh

Ekonomi Pertumbuhan Ekonomi Ekonomi Indonesia Ekonomi Global daya beli masyarakat konsumsi rumah tangga
Andhika Prasetyo • 09 Mei 2022 11:09
Jakarta: Kantor Staf Presiden (KSP) menyebut perekonomian Indonesia dalam kondisi baik meskipun situasi global masih bergejolak. Hal itu tercermin dari sejumlah indikator yang menunjukkan penguatan di berbagai lini.
 
Tenaga Ahli Utama KSP Edy Priyono mengungkapkan, dari sisi demand, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) mencatatkan kenaikan selama enam bulan berturut-turut, dan terakhir berada di level 111 atau di zona optimis.

"Ini menunjukkan optimisme konsumen terhadap perekonomian terjaga," kata Edy melalui keterangan resmi dikutip Senin, 9 Mei 2022.
 
Kinerja demand yang positif juga tergambar dari indeks penjualan ritel yang tumbuh 8,6 persen pada Maret 2022. Menurutnya, pertumbuhan penjualan ritel yang cukup tinggi menjadi hal penting mengingat penopang utama Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Indonesia adalah konsumsi rumah tangga.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Tren positif pertumbuhan penjualan ritel dan IKK diharapkan dapat menopang pertumbuhan ekonomi di triwulan pertama di 2022," jelasnya.  
 
Dari sisi produksi, penguatan terlihat dari keyakinan manajer bisnis di sektor manufaktur yang berada di zona ekspansif di level 51,3 pada Maret 2022. Selain itu, kinerja positif sisi produksi juga tampak dari utilisasi industri pengolahan yang mendekati level sebelum pandemi, yakni 72,45 persen pada triwulan pertama tahun ini.
 
Edy mengatakan keberhasilan pemerintah dalam menjaga stabilitas perekonomian tidak terlepas dari penanganan dan pengendalian pandemi yang sangat baik. Hal tersebut kemudian memberi pengaruh positif terhadap pemulihan ekonomi nasional.  
 
Dari lingkup eksternal, Indonesia juga diuntungkan dengan melonjaknya harga komoditas unggulan ekspor yang memberikan dukungan fiskal. "Indonesia mencatat surplus neraca dagang 23 bulan berturut-turut. Kombinasi faktor-faktor ini menguatkan kepercayaan investor terhadap ekonomi Indonesia, sehingga investasi asing pada triwulan pertama 2022 tumbuh signifikan 31,8 persen dari tahun sebelumnya," imbuhnya.  
 
Meski demikian, lanjut Edy, Indonesia tetap harus mewaspadai dampak lanjutan dari perang Rusia-Ukraina, kenaikan harga komoditas, kondisi pandemi covid-19 di Tiongkok, dan potensi penurunan pertumbuhan ekonomi global.  Jika kondisi tersebut terus berkelanjutan, kata Edy, dampak negatif berupa kenaikan inflasi pasti akan dialami masyarakat Tanah Air.
 
Menghadapi kondisi tersebut, pemerintah pun sudah menyiapkan berbagai langkah antisipatif seperti diversifikasi tujuan ekspor maupun sumber impor dan mendorong penggunaan local currency settlement system (LCS) dalam transaksi ekspor impor. Pemerintah juga mendorong efisiensi dan pemulihan industri pengolahan.  

"Pemerintah juga memperkuat perlindungan sosial ekonomi yang lebih tepat sasaran melalui reformasi subsidi dan pembenahan basis data," jelasnya.

 
(Des)


LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif