Mengutip data pasar pada pukul 09.35 WIB, rupiah menguat 2,70 poin atau 0,01 persen ke posisi Rp18.112,8 per USD. Penguatan rupiah sejalan dengan pelemahan Indeks Dolar AS (DXY) sebesar 0,51 persen atau 0,515 poin ke level 101,225.
Baca Juga :
Rupiah Kembali Loyo Lawan Mata Uang Paman Sam
Di sisi lain, rupiah menunjukkan pergerakan beragam terhadap mata uang utama dunia. Mata uang Garuda menguat terhadap yuan China sebesar 0,26 persen atau 7,16 poin ke posisi Rp2.710,64 per CNY. Sementara itu, nilai tukar euro terhadap rupiah terpantau stagnan di level Rp20.282 per EUR.
Meski menguat terhadap dolar AS dan yuan, rupiah justru melemah terhadap sebagian besar mata uang Asia. Tekanan terbesar terjadi saat berhadapan dengan yen Jepang dan won Korea Selatan.
Berdasarkan data yang sama, yen Jepang menguat 0,55 persen atau 0,62 poin ke posisi Rp114,86 per JPY. Won Korea Selatan juga naik 0,50 persen atau 0,0671 poin ke level Rp13,5480 per KRW. Mata uang lainnya turut bergerak menguat terhadap rupiah. Baht Thailand naik 0,09 persen atau 0,478 poin ke posisi Rp537,215 per THB.
Ringgit Malaysia menguat 0,06 persen atau 2,47 poin ke level Rp4.449,21 per MYR. Sementara itu, dolar Singapura naik 0,06 persen atau 8,03 poin ke posisi Rp14.155,01 per SGD.
Di pasar komoditas, harga emas dunia turut bergerak di zona hijau seiring pelemahan dolar AS. Pada pukul 09.36 WIB, harga emas (XAU/USD) naik 13,36 poin atau 0,34 persen ke level USD3.943,57 per troy ons.
Pelemahan dolar AS umumnya memberikan sentimen positif bagi harga emas. Kondisi tersebut membuat emas relatif lebih murah bagi investor yang menggunakan mata uang selain dolar AS. Situasi ini berpotensi meningkatkan daya tarik emas sebagai aset lindung nilai (safe haven) di tengah dinamika pasar keuangan global.