IHSG. Foto: MI.
IHSG. Foto: MI.

IHSG Melemah Tipis di Awal Pekan, Bursa Asia Mayoritas Berada di Zona Merah

Arif Wicaksono • 31 Agustus 2026 09:51
Ringkasnya gini..
  • Berdasarkan data perdagangan pada pukul 09.27 WIB, IHSG melemah 0,10% atau 6,60 poin ke level 6.511,52.
  • Memasuki perdagangan Senin, Rully menilai pergerakan rupiah dan aliran dana asing menjadi dua indikator penting yang perlu diperhatikan investor.
Jakarta:  Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali perdagangan Senin (31/8/2026) dengan pelemahan tipis. Pergerakan IHSG berlangsung di tengah mayoritas bursa saham Asia-Pasifik yang juga berada di zona merah.
 
Berdasarkan data perdagangan pada pukul 09.27 WIB, IHSG melemah 0,10% atau 6,60 poin ke level 6.511,52. Tekanan terhadap IHSG sejalan dengan sentimen negatif yang membayangi pasar saham kawasan. Sejumlah indeks utama Asia tercatat mengalami koreksi pada perdagangan pagi ini.
 
Baca juga:  IHSG Lanjut Menguat Setelah Rebound, Investor Tunggu Sinyal dari The Fed

Bursa Korea Selatan menjadi salah satu yang mencatat pelemahan paling dalam. Indeks KOSPI turun 2,09% atau 141,97 poin ke level 6.646,91. Koreksi tajam juga terjadi di Jepang. Indeks Nikkei 225 melemah 1,65% atau 1.098,56 poin ke posisi 65.307,00. Sementara itu, indeks Hang Seng Hong Kong turun 0,80% ke level 25.379,00. Indeks Shanghai Composite juga terkoreksi 0,33% ke posisi 3.939,27.
 
Tekanan jual turut terlihat di sejumlah bursa Asia Tenggara. Indeks KLCI Malaysia turun 0,91% ke level 1.725,88, sedangkan PSEi Composite Filipina melemah 0,80% ke posisi 5.956,33. Indeks SET Thailand juga bergerak di zona merah dengan penurunan 0,78% ke level 1.588,22.

Meski mayoritas bursa kawasan melemah, tidak seluruh pasar saham Asia berada dalam tekanan. Indeks SPDR Straits Times Singapura tercatat menguat 0,66% ke level 5,80. Penguatan tipis juga terjadi pada indeks VNI Vietnam yang naik 0,03% ke level 1.832,12.

Proyeksi IHSG 

Kepala Ekonom Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto mengatakan IHSG bergerak sideways pada perdagangan Jumat dan ditutup melemah tipis 0,06% ke level 6.518. Pergerakan indeks masih mendapat dukungan dari sejumlah saham perbankan besar, terutama BBCA dan BBRI.
 
Meski demikian, investor asing masih mencatatkan aksi jual bersih atau net sell sebesar Rp442 miliar. Di tengah tekanan tersebut, aliran dana yang masuk ke saham BBCA dan BMRI menunjukkan aksi akumulasi selektif terhadap saham-saham bank besar masih berlanjut.
 
Probabilitas kenaikan suku bunga acuan The Fed pada September melonjak dari sekitar 35% menjadi 58%. Perubahan ekspektasi tersebut turut mendorong imbal hasil US Treasury 10 tahun atau UST 10Y naik ke 4,72%.
 
Pada saat yang sama, indeks dolar AS (DXY) menguat ke level 99,65. Penguatan dolar dan kenaikan yield obligasi AS berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap aset berisiko, termasuk pasar saham negara berkembang.
 
Memasuki perdagangan Senin, Rully menilai pergerakan rupiah dan aliran dana asing menjadi dua indikator penting yang perlu diperhatikan investor. Keduanya akan menjadi salah satu penentu seberapa kuat IHSG mampu bertahan menghadapi perubahan ekspektasi pasar terhadap kebijakan The Fed.
 
Investor pun akan mencermati apakah penguatan rupiah dan akumulasi selektif pada saham perbankan besar mampu menjadi penahan tekanan dari sentimen global yang kembali mengarah hawkish.
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan