Ilustrasi mata uang dolar AS - - Foto: MI/ Ramdani
Ilustrasi mata uang dolar AS - - Foto: MI/ Ramdani

Modal Asing 'Pulang Kampung' Rp12,6 Triliun dalam Sepekan

Husen Miftahudin • 06 November 2021 11:26
Jakarta: Bank Indonesia (BI) mencatat dana-dana asing keluar dari pasar keuangan domestik selama sepekan terakhir. Berdasarkan data transaksi pada 1-4 November 2021, modal dari investor asing (nonresiden) tersebut tercatat jual neto (outflow) sebanyak Rp12,66 triliun.
 
Minggatnya dana asing dari pasar keuangan domestik tersebut utamanya berasal dari pasar saham sebesar Rp13,08 triliun. Beruntung pasar Surat Berharga Negara (SBN) tercatat beli neto (inflow) sebanyak Rp0,42 triliun, sehingga berhasil menahan laju aliran asing yang keluar dari Indonesia.
 
"Berdasarkan data setelmen selama 2021 (year to date/ytd), nonresiden jual neto Rp11,28 triliun," ungkap Kepala Departemen Komunikasi BI Erwin Haryono dikutip dari rilis perkembangan indikator stabilitas nilai rupiah, Sabtu, 6 November 2021.
Adapun premi risiko atau Credit Default Swap (CDS) Indonesia lima tahun turun ke level 78,59 basis poin (bps) per 3 November 2021 dari 81,27 bps per 29 Oktober 2021. CDS merupakan indikator untuk mengetahui risiko berinvestasi di SBN.
 
Semakin besar skor CDS, maka risiko berinvestasi di SBN juga semakin tinggi. Sebaliknya jika skor semakin kecil, maka risiko investasinya juga semakin rendah.
 
Meskipun begitu, minggatnya aliran modal asing dari pasar keuangan domestik tersebut justru membuat nilai tukar rupiah menguat di perdagangan akhir pekan ini. Mengutip data Bloomberg, nilai tukar rupiah terhadap USD menguat 35 poin atau setara 0,24 persen, dari level Rp14.366 per USD menjadi Rp14.331 per USD.
 
Sementara menukil data Yahoo Finance, rupiah stagnan di level Rp14.325 per USD. Sedangkan berdasar pada data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dolar Rate (Jisdor), rupiah diperdagangkan di level Rp14.374 per USD atau turun 47 poin dari nilai tukar rupiah pada perdagangan hari sebelumnya sebesar Rp14.327 per USD.
 
Terkait hal tersebut, Erwin menekankan bahwa Bank Indonesia akan terus memperkuat koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait untuk memonitor secara cermat dinamika penyebaran covid-19 dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia dari waktu ke waktu.
 
"Termasuk langkah-langkah koordinasi kebijakan lanjutan yang perlu ditempuh untuk menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan, serta menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap baik dan berdaya tahan," pungkas Erwin.
 
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news Medcom.id

(Des)



LEAVE A COMMENT
LOADING
social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif