Namun, lanskap investasi semakin selektif seiring investor mencermati kebutuhan pendanaan, arus kas bebas (free cash flow), dan valuasi. Alih-alih menarik diri dari pasar, investor disarankan untuk tetap berinvestasi melalui portofolio terdiversifikasi yang mencakup berbagai kelas aset, sekaligus memperluas eksposur di luar kelompok kecil saham teknologi yang mendorong kenaikan pasar sebelumnya.
Baca juga: Citi Wealth Ungkap Strategi Family Office Asia Pasifik, Investasi AI Jadi Sorotan |
DBS mengatakan penguatan pasar saham semakin meluas secara signifikan ke berbagai sektor. Sektor energi, kesehatan, dan keuangan mulai mencatatkan momentum positif, sementara sektor teknologi mengalami konsolidasi. Perkembangan ini didukung oleh pertumbuhan laba yang kuat di berbagai sektor serta semakin meluasnya manfaat AI ke berbagai lini perekonomian.
Pergeseran fokus ini tidak menandakan berakhirnya tema AI, melainkan menandai fase penciptaan nilai berikutnya, di mana investor mulai melirik perusahaan yang mampu mengubah adopsi AI menjadi peningkatan produktivitas, margin yang lebih kuat, dan pertumbuhan pendapatan yang berkelanjutan, alih-alih hanya berfokus pada perusahaan penyedia infrastruktur.
DBS tetap optimis terhadap perusahaan yang akan memperoleh manfaat jangka panjang dari AI, namun kami lebih memilih perusahaan yang mengadopsi teknologi ini dengan kebutuhan belanja modal (capex) lebih rendah, serta sektor-sektor yang diuntungkan oleh aktivitas pasar modal yang lebih kuat, ketahanan energi, dan efisiensi operasional.
Tingkat suku bunga yang tinggi dalam jangka waktu lama tetap menjadi kendala utama untuk pengelolaan portofolio. Besarnya penerbitan obligasi pemerintah, peningkatan pinjaman oleh perusahaan teknologi berskala besar (hyperscaler), inflasi yang sulit mereda, serta berkurangnya panduan ke depan (forward guidance) dari Federal Reserve mendorong kenaikan premi tenor (term premium) dan memperbesar perbedaan risiko di pasar kredit.
Asumsi tradisional penerbit obligasi dengan peringkat kredit tertinggi selalu menawarkan tingkat keamanan terbesar kini mulai dipertanyakan, seiring perusahaan berperingkat AA yang meningkatkan utang harus bersaing dengan pemerintah dalam memperoleh pendanaan.
"Oleh karena itu, kami lebih memilih obligasi dengan durasi 5–7 tahun serta penerbit berperingkat BBB/BB yang memiliki arus kas tangguh, tingkat utang yang terkendali, dan kapasitas yang kredibel untuk mengurangi utang. Strategi ini juga dilengkapi dengan instrumen obligasi tradisional melalui TIPS (Surat Berharga Negara AS yang terlindung dari inflasi), agency mortgage-backed securities (MBS), saham sektor keuangan secara selektif, serta instrumen beragun agunan (collateralised structures)," ujar DBS dalam risetnya.
Aset alternatif tetap menjadi elemen penting untuk menjaga ketahanan portofolio, terutama ketika kemampuan saham dan obligasi konvensional dalam memberikan manfaat diversifikasi menjadi kurang andal di tengah kondisi inflasi. Emas berpotensi memperoleh dukungan dari pembelian bank sentral yang berkelanjutan, permintaan yang kuat dari Asia, kekhawatiran terhadap keberlanjutan fiskal, serta tren investasi yang didorong oleh pelemahan nilai mata uang (debasement trade).
Sementara itu, aset privat (private assets) dan dana lindung nilai (hedge funds) menawarkan sumber pertumbuhan, pendapatan, dan potensi imbal hasil tambahan (alpha) yang berbeda. Di tengah keterbatasan modal, peluang dinilai lebih menarik pada transaksi pasar sekunder (secondaries), investasi bersama (co-investments), pembiayaan senior beragunan dan berbasis aset, infrastruktur dengan pendapatan berbasis kontrak, strategi relative value, serta pengelola strategi equity long-short dengan eksposur bersih rendah. Dengan demikian, alokasi aset alternatif yang terdiversifikasi dapat membantu meredam penurunan nilai portofolio tanpa menggeser peran utama saham dan obligasi publik.
Kondisi Makro Ekonomi
Kondisi makroekonomi global masih menunjukkan dinamika yang beragam di berbagai kawasan. Perekonomian Amerika Serikat terus memperoleh dukungan dari investasi terkait AI dan konsumsi yang tetap tangguh, sementara Eropa dan Jepang mencatatkan kinerja yang lebih baik dari perkiraan meskipun menghadapi kenaikan biaya energi.Di Asia, kuatnya ekspor teknologi dan investasi manufaktur membantu mengimbangi permintaan domestik Tiongkok yang lebih lemah. Ketahanan ekonomi ini memberikan ruang bagi sejumlah bank sentral untuk tetap berfokus pada pengendalian inflasi, sehingga memperkuat kemungkinan pengetatan kebijakan moneter yang berlangsung relatif serentak, tetapi dengan intensitas yang berbeda-beda. Kondisi ini sekaligus membuat volatilitas pasar obligasi tetap tinggi.
Perkembangan politik dan kebijakan fiskal juga akan memengaruhi arah pasar. Di Amerika Serikat, skenario dasar DBS adalah terbentuknya Kongres yang terbagi setelah pemilu paruh waktu (midterm elections), yang diperkirakan akan membatasi perubahan legislasi berskala besar dan mengurangi risiko kebijakan yang didominasi satu partai.
Pada saat yang sama, ketegangan antara mandat Federal Reserve untuk menjaga stabilitas harga dan preferensi Departemen Keuangan AS terhadap imbal hasil jangka panjang yang lebih rendah dapat mempertahankan ketidakpastian di pasar suku bunga dan valuasi aset. Investor perlu tetap adaptif dengan menekankan keseimbangan portofolio, seleksi instrumen investasi secara cermat, serta tema investasi yang didukung oleh prospek laba yang jelas, alih-alih hanya mengandalkan pergerakan pasar secara luas (broad market beta
Saham
Pasar saham diperkirakan akan terus bergerak menguat secara bertahap, seiring laba perusahaan yang solid mampu mengimbangi tekanan dari kenaikan imbal hasil obligasi. Namun, kepemimpinan pasar mulai bergeser karena investor semakin kritis dalam mencermati belanja modal (capex) perusahaan teknologi berskala besar (hyperscaler), penerbitan utang, dan penurunan arus kas bebas (free cash flow).Penguatan pasar yang semakin meluas terlihat di berbagai kawasan dan sektor, dengan sektor keuangan, energi, dan kesehatan yang mulai mencatatkan penguatan, sementara sektor teknologi mengalami konsolidasi.
DBS tetap mempertahankan keyakinan terhadap tema AI dalam jangka panjang, tetapi merekomendasikan pendekatan barbell: mempertahankan eksposur pada perusahaan penyedia infrastruktur AI sekaligus menambah investasi pada perusahaan pengguna AI yang mampu mengoptimalkan peningkatan produktivitas menjadi keuntungan finansial, tanpa harus memiliki pusat data atau aset pembangkit energi yang membutuhkan belanja modal besar. Dari sisi geografis, kami mempertahankan alokasi overweight pada pasar saham Asia di luar Jepang (Asia ex-Japan) serta posisi overweight pada saham AS untuk horizon 12 bulan.
Obligasi
Imbal hasil obligasi masih cenderung meningkat karena kebutuhan pendanaan untuk ekspansi AI terus membesar. Perusahaan teknologi dan penyedia infrastrukturnya membutuhkan modal dalam jumlah besar untuk membangun data center, membeli chip, dan memperluas kapasitas komputasi. Pada saat yang sama, pemerintah juga membutuhkan dana besar untuk membiayai defisit anggaran. Persaingan antara kebutuhan modal sektor swasta dan penerbitan utang pemerintah ini berpotensi mendorong biaya pendanaan atau imbal hasil obligasi lebih tinggi.Berkurangnya panduan ke depan (forward guidance) dari Federal Reserve, inflasi yang sulit mereda, serta ketegangan kebijakan antara The Fed dan Departemen Keuangan AS diperkirakan akan mempertahankan volatilitas dan premi tenor (term premium) pada level tinggi. Kami lebih memilih obligasi dengan durasi 5–7 tahun, sementara segmen kredit yang dinilai paling menarik kini bergeser ke penerbit berperingkat BBB/BB, mengingat risiko peningkatan pasokan obligasi terkonsentrasi pada penerbit berperingkat AA yang terus menambah utang.
Kami juga melihat peluang pada TIPS (Surat Berharga Negara AS yang terlindung dari inflasi), agency mortgage-backed securities (MBS), serta saham sektor keuangan tertentu yang dipilih secara selektif untuk memperoleh perlindungan terhadap inflasi dan pendapatan. Kami lebih memilih perusahaan siklikal yang memiliki aset kuat dan komoditas dengan arus kas yang solid serta kapasitas untuk mengurangi utang (deleveraging). Sementara itu, semakin lebarnya perbedaan kinerja antara penerbit turut memperkuat pentingnya seleksi instrumen kredit secara aktif.
Aset Alternatif
Aset alternatif tetap menjadi pelengkap penting bagi saham dan obligasi, terutama ketika inflasi, perbedaan arah kebijakan, dan ketidakpastian geopolitik mengurangi efektivitas diversifikasi tradisional. Emas telah menghadapi tahun yang penuh tantangan, tetapi permintaan emas fisik dari Asia, stabilisasi posisi investasi, pembelian bank sentral yang berkelanjutan, serta kembali meningkatnya kekhawatiran terhadap keberlanjutan fiskal mengindikasikan bahwa fase koreksi tajam mungkin telah mendekati akhirnya.Di pasar privat, biaya pendanaan yang lebih tinggi membuat strategi yang menyediakan modal atau likuiditas menjadi lebih menarik dibandingkan strategi yang bergantung pada leverage murah. Kami lebih memilih akuisisi perusahaan segmen pasar menengah (middle-market buyouts), transaksi pasar sekunder (secondaries), investasi bersama (co-investments), pinjaman senior dengan agunan, pembiayaan berbasis aset, serta infrastruktur dengan pendapatan berbasis kontrak. Di pasar dana lindung nilai (hedge funds), semakin lebarnya perbedaan kinerja antar-instrumen mendukung strategi relative value, equity long-short dengan eksposur bersih rendah, strategi makro diskresioner (discretionary macro), serta platform multi-strategi yang fleksibel.