Berdasarkan data pasar terkini Investing, Jumat, 19 Juni 2026, mata uang dolar AS menguat 0,80 persen atau naik 141,5 poin ke level Rp17.841,5. Kenaikan tersebut terjadi seiring menguatnya Indeks Dolar AS (DXY) yang naik tipis 0,04 persen ke posisi 100,655.
Penguatan dolar tidak hanya menekan rupiah, tetapi juga memengaruhi pergerakan sejumlah mata uang di kawasan Asia. Yen Jepang tercatat menguat 0,52 persen ke level Rp110,65 per yen, sementara won Korea Selatan naik 0,44 persen ke posisi Rp11,5898.
| Baca juga: Rupiah Stay pada Level Rp17.738, Investor Asik Berburu Aset Safe Haven |
Selain itu, yuan Tiongkok menguat 0,42 persen menjadi Rp2.634,84. Ringgit Malaysia naik 0,39 persen ke level Rp4.330,29 dan dolar Singapura menguat 0,36 persen ke posisi Rp13.814,62. Baht Thailand juga mencatat penguatan 0,28 persen ke level Rp543,616.
Di kawasan Eropa, euro relatif stabil dan tidak mengalami perubahan berarti. Mata uang tunggal Eropa tersebut tercatat berada di level Rp20.497 per euro.
Sementara itu, harga emas dunia justru bergerak melemah di tengah penguatan dolar AS. Emas spot turun 0,56 persen atau terkoreksi 23,71 poin ke level USD4.185,44 per troy ons.
Secara umum, tekanan terhadap rupiah mencerminkan meningkatnya preferensi investor terhadap aset berdenominasi dolar AS. Sentimen global yang masih dipengaruhi ketidakpastian ekonomi serta ekspektasi suku bunga yang bertahan tinggi di sejumlah negara maju turut mendorong aliran dana ke aset yang dianggap lebih aman.
Pelaku pasar kini menantikan arah kebijakan bank sentral global, termasuk langkah yang akan ditempuh Bank Indonesia untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah volatilitas pasar keuangan internasional yang masih tinggi.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda