Goto. Foto: Istimewa.
Goto. Foto: Istimewa.

GoTo Cetak Laba Bersih Rp252 Miliar, Fintech Jadi Penopang Utama

Arif Wicaksono • 29 Juli 2026 18:13
Ringkasnya gini..
  • GoTo membukukan laba bersih sebesar Rp252 miliar pada kuartal II 2026, meningkat dari Rp171 miliar pada kuartal I 2026
  • Pendapatan bersih GoTo pada kuartal II 2026 mencapai Rp5,7 triliun, tumbuh 31% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Jakarta: PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) kembali membukukan laba bersih pada kuartal II 2026. Kinerja tersebut sekaligus menandai dua kuartal berturut-turut perseroan mencatatkan laba.

GoTo membukukan laba bersih sebesar Rp252 miliar pada kuartal II 2026, meningkat dari Rp171 miliar pada kuartal I 2026. Kinerja positif tersebut ditopang pertumbuhan pendapatan sekaligus disiplin perseroan dalam mengelola beban.

Baca juga: GoPay Minta Maaf atas Error, Pastikan Saldo dan Data Pengguna Tetap Aman

Pendapatan bersih GoTo pada kuartal II 2026 mencapai Rp5,7 triliun, tumbuh 31% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Pertumbuhan juga terlihat dari nilai transaksi bruto (GTV) inti yang meningkat 83% secara tahunan menjadi Rp164 triliun. Sementara itu, jumlah pengguna yang bertransaksi tahunan (ATUs) naik 19% menjadi 71 juta pengguna.

Direktur Utama Grup GoTo Hans Patuwo mengatakan kinerja perseroan semakin menunjukkan keseimbangan antara bisnis On-demand Services dan Fintech.

“Kami mencetak laba bersih selama dua kuartal berturut-turut, dengan EBITDA Grup yang disesuaikan meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun sebelumnya, melampaui angka Rp1,0 triliun untuk pertama kalinya,” kata Hans dalam keterangan resminya, Rabu, 29 Juli 2026.

EBITDA Grup yang disesuaikan tercatat tumbuh 137% secara tahunan, menembus lebih dari Rp1 triliun untuk pertama kalinya.

GoPay Jadi Mesin Pertumbuhan

Salah satu penopang utama kinerja GoTo berasal dari bisnis fintech melalui GoPay.

EBITDA yang disesuaikan dari bisnis Fintech melonjak 447% secara tahunan menjadi Rp481 miliar. Angka tersebut bahkan untuk pertama kalinya melampaui EBITDA yang disesuaikan dari bisnis On-demand Services sebesar Rp464 miliar.

Pendapatan bersih bisnis Fintech juga meningkat 53% menjadi lebih dari Rp2 triliun.

Pertumbuhan tersebut didukung peningkatan aktivitas pengguna. Jumlah pengguna yang bertransaksi bulanan (MTU) GoPay mencapai 28,8 juta atau tumbuh 29% dibandingkan tahun lalu.

Jumlah transaksi bahkan melonjak 91% menjadi 2,4 miliar transaksi.

GTV inti GoPay di luar transaksi merchant payment gateway juga tumbuh 91% menjadi Rp157 triliun. Peningkatan aktivitas pengguna turut mendorong pertumbuhan bisnis pinjaman.

Nilai buku pinjaman tercatat meningkat 58% secara tahunan menjadi Rp11 triliun, sementara kualitas pinjaman tetap terjaga dengan tingkat tunggakan dan rasio kredit bermasalah (NPL) yang stabil.

Melihat kinerja tersebut, GoTo menaikkan target EBITDA yang disesuaikan untuk bisnis Fintech sepanjang 2026 menjadi Rp1,7 triliun-Rp1,8 triliun, dari sebelumnya Rp1,4 triliun-Rp1,5 triliun.

Aturan Komisi 8% Tekan Prospek Gojek

Di sisi lain, bisnis On-demand Services yang mencakup Gojek menghadapi tantangan dari penerapan struktur komisi baru.

Struktur komisi baru berlaku mulai 1 Juli 2026 sesuai Keputusan Menteri Perhubungan Nomor 532 Tahun 2026. Aturan tersebut membatasi komisi aplikasi untuk layanan transportasi roda dua Gojek sebesar 8%.

Menurut Hans, dampak perubahan komisi tersebut baru akan terlihat dalam laporan keuangan kuartal III 2026. Namun, setelah berjalan selama satu bulan, kondisi bisnis Gojek dinilai masih stabil.

“Penyesuaian ini tidak mudah, tetapi kami percaya bisa mengatasi dampaknya,” ujar Hans.

Pada kuartal II 2026, EBITDA yang disesuaikan bisnis On-demand Services mencapai Rp464 miliar, tumbuh 41% secara tahunan. Pendapatan bersih segmen ini mencapai Rp3,6 triliun.

Jumlah pesanan yang selesai tumbuh 3% secara tahunan dan 8% secara kuartalan. Sementara GTV meningkat 2% secara tahunan menjadi Rp16,7 triliun.

GoTo juga mencatat perbaikan margin di bisnis Delivery dan Mobility. Margin Delivery meningkat menjadi 2,1% dari 1,8% pada tahun sebelumnya, sedangkan margin Mobility naik menjadi 5% dari 3%.

Namun, perseroan menurunkan target EBITDA On-demand Services 2026 menjadi Rp1,4 triliun-Rp1,5 triliun, dari sebelumnya Rp1,7 triliun-Rp1,8 triliun.

Penurunan target tersebut merupakan konsekuensi penerapan batas komisi 8%.

Target EBITDA Grup Tetap

Meski menghadapi tekanan pada bisnis Gojek, GoTo tidak mengubah target EBITDA Grup yang disesuaikan untuk sepanjang 2026. Perseroan tetap menargetkan EBITDA Grup sebesar Rp3,2 triliun-Rp3,4 triliun.

Perubahan target di masing-masing segmen menunjukkan pergeseran kontribusi terhadap profitabilitas Grup. Kontribusi bisnis On-demand Services diperkirakan menurun, sementara Fintech diharapkan memberikan kontribusi yang lebih besar.

“Karena itu, kami tetap mempertahankan pedoman EBITDA Grup yang disesuaikan untuk setahun penuh di kisaran Rp3,2-3,4 triliun. Kami memperkirakan kontribusi dari bisnis On-demand Services akan berkurang, sementara bisnis Fintech akan memberikan kontribusi lebih besar,” jelas Hans.

Selain kinerja keuangan, GoTo juga mengumumkan rencana pembatalan lebih dari 32 miliar saham treasuri, setara sekitar 2,7% dari total saham beredar.

Perseroan akan meminta persetujuan pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) dan menyampaikan informasi lebih lanjut setelah seluruh persiapan selesai.

Hans menambahkan, GoTo juga akan terus berinvestasi dalam ekosistemnya, termasuk memberikan dukungan bagi mitra pengemudi Gojek melalui berbagai program apresiasi seperti BPJS Kesehatan dan Ketenagakerjaan, beasiswa, hingga program umrah gratis.

“Bagi kami, kesuksesan tidak hanya diukur dari pertumbuhan bisnis, tetapi juga dari kemajuan seluruh pihak di dalam ekosistem GoTo,” pungkasnya.


 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan