Xendit E-Commerce Payment Momentum Report 2026. Foto: Medcom/Wisa Irena Br Sitepu
Xendit E-Commerce Payment Momentum Report 2026. Foto: Medcom/Wisa Irena Br Sitepu

Xendit Soroti Masalah Checkout dan Kesiapan Pembayaran E-Commerce di Indonesia

Annisa ayu artanti • 15 Oktober 2026 16:06
Ringkasnya gini..
  • Lebih dari separuh pembeli online Indonesia pernah membatalkan pembelian karena metode pembayaran yang diinginkan tidak tersedia.
  • Sebanyak 70 persen responden menggunakan dompet digital untuk sebagian besar transaksi belanja online, disusul penggunaan transfer bank dan COD.
  • Hanya 12 persen pemimpin bisnis yang disurvei merasa infrastruktur pembayaran mereka siap menghadapi kebutuhan 10 tahun mendatang.
Jakarta: Berbelanja online ternyata bukan sekadar memilih barang lalu melakukan pembayaran. Dalam acara Xendit E-Commerce Payment Momentum Report 2026 terungkap lebih dari separuh pembeli online di Indonesia pernah membatalkan pembelian karena metode pembayaran yang diinginkan tidak tersedia. 

Menurut Co-Founder Cube, Simon Torring, Indonesia bahkan menjadi pasar dengan tingkat hambatan pembayaran tertinggi di antara negara-negara Asia Tenggara yang disurvei.

Dikutip pada Kamis, 15 Oktober 2026, survei tersebut melibatkan 6.000 pembeli online di enam pasar utama Asia Tenggara, termasuk 1.000 responden dari Indonesia. Laporan ini juga didukung data pembayaran Xendit dan survei terhadap pemimpin bisnis, e-commerce, serta keuangan.

Meski menghadapi kendala saat checkout, konsumen Indonesia telah menggunakan beragam metode pembayaran. Sebanyak 70 persen responden menggunakan dompet digital atau e-wallet untuk sebagian besar transaksi belanja online mereka. Menurut Simon, angka tersebut merupakan yang tertinggi di Asia Tenggara.

“70 persen pembeli di Indonesia menggunakan dompet elektronik untuk sebagian besar pembelian online mereka. Angka ini jauh tertinggi di Asia Tenggara,” jelas Simon.

Selain dompet digital, transfer bank juga masih menjadi pilihan penting. Sebanyak 52 persen responden menunjukkan tingkat penggunaan transfer bank yang tinggi, sedangkan 40 persen masih menggunakan metode pembayaran tunai saat barang diterima atau cash on delivery (COD).

“Di sini kita melihat transfer bank sebesar 52 persen. Sementara itu, 40 persen menunjukkan bahwa pembayaran di tempat (cash on delivery) masih menjadi salah satu metode pembayaran utama yang digunakan,” ujar Simon.

Simon menjelaskan bahwa penggunaan COD mulai berkurang seiring peralihan konsumen ke pembayaran digital. Namun, Indonesia dan Filipina masih menjadi pasar yang mempertahankan penggunaan metode tersebut.

“Konsumen yang dengan cepat beralih meninggalkan metode pembayaran di tempat (cash on delivery). Namun, Indonesia dan Filipina masih menjadi pasar di mana metode ini tetap digunakan. Saya perkirakan penggunaan metode ini akan semakin berkurang.” kata Simon.

Perkembangan pembayaran digital juga terlihat dari penggunaan kode QR. Head of Global Sales Xendit, Christopher Chan, menyebut pembayaran QR yang dapat digunakan melalui dompet digital maupun rekening bank mengalami pertumbuhan hingga 42 persen.

Christopher menilai kebiasaan membayar menggunakan QR di toko fisik dapat mempermudah konsumen beradaptasi dengan pengalaman pembayaran serupa saat berbelanja online. Ia juga menyoroti perkembangan bank digital yang memperluas akses ke layanan pembayaran digital, seiring penggunaan pembayaran tunai yang cenderung menurun.

Kebutuhan pembayaran pun dapat berbeda di setiap wilayah. Christopher menyebut bahwa virtual account masih menjadi pilihan utama untuk konsumen atau pelaku usaha yang berbasis di Jakarta. Sementara itu, penerimaan kartu menjadi penting bagi bisnis tertentu di Bali, terutama yang menjual tiket acara berskala besar.

“Jadi, berdasarkan data kami untuk pedagang yang berbasis di Jakarta atau lebih tepatnya, pembeli yang berbasis di Jakarta menggunakan virtual account masih tetap menjadi pilihan utama. Di segmen inilah penerimaan kartu berskala nasional dianggap sebagai aspek yang paling krusial, dan optimalisasi menjadi hal yang paling penting,” kata Christopher.

Ia menegaskan bahwa cakupan metode pembayaran tetap penting meskipun bisnis hanya beroperasi di satu negara. Artinya, pelaku usaha perlu memahami kebiasaan konsumennya dan menyediakan pilihan yang sesuai agar pembeli dapat menyelesaikan transaksi tanpa hambatan.

“Keragaman metode pembayaran jelas sangatlah penting, bahkan di satu negara seperti Indonesia,” ujarnya.
   

Hanya 12 Persen Pebisnis Merasa Sistem Pembayarannya Siap


Di sisi pelaku usaha, perubahan perilaku konsumen dan pertumbuhan e-commerce menuntut kesiapan infrastruktur pembayaran. Namun, laporan Xendit menunjukkan hanya 12 persen pemimpin bisnis yang disurvei merasa sistem pembayaran mereka benar-benar siap menghadapi kebutuhan 10 tahun mendatang.

“Angka menarik lainnya adalah hanya 12 persen dari mereka yang menyatakan bahwa infrastruktur pembayaran mereka benar-benar siap untuk 10 tahun ke depan,” ujar Christopher.

Simon, mengatakan kesiapan tersebut menjadi penting karena nilai penjualan e-commerce barang fisik di Asia Tenggara diperkirakan melampaui USD 200 miliar pada 2026 dan akan mencapai lebih dari USD400 miliar pada 2031. Angka tersebut merupakan proyeksi untuk kawasan Asia Tenggara, bukan Indonesia saja.

Simon juga memperkirakan sekitar seperempat belanja ritel di Asia Tenggara telah beralih ke e-commerce jika pembelian besar, seperti mobil dan suku cadang, tidak dihitung. Ia turut menjelaskan bahwa pertumbuhan sejumlah platform besar membuat perkiraan perkembangan e-commerce kawasan perlu disesuaikan.

Sebelumnya, pertumbuhan e-commerce Asia Tenggara pada tahun berjalan diperkirakan berada di kisaran 15–16 persen. Namun, Simon menyebut pertumbuhan tiga platform besar pada kuartal pertama dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya mencapai 33 persen. (Wisa Irena Br Sitepu)

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(ANN)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan