Penguatan juga terlihat pada kelompok saham unggulan. Indeks LQ45 naik 1,56 poin atau 0,25 persen ke posisi 627,17.
Meski dibuka positif, pergerakan IHSG masih dibayangi sejumlah sentimen global dan domestik. Investor mencermati arah kebijakan Bank Indonesia, pergerakan rupiah, harga minyak, hingga perkembangan konflik Timur Tengah.
IHSG Sebelumnya Tertekan 0,88 Persen
Pada perdagangan kemarin, IHSG kembali tertekan 0,88 persen ke 6.384,73 pada Senin, setelah sempat menguat ke 6.451,33 namun kembali melemah hingga mendekati level terendah harian.Tekanan terutama berasal dari sektor energi (-2,2 persen) dan utilitas (-1,9 persen), dengan BYAN, BMRI, TLKM, BBRI, dan BREN menjadi beberapa pemberat utama.
"Sentimen risk-off masih dipengaruhi harga minyak sekitar USD100/barel dan UST 10Y yang bertahan dekat 5 persen pasca hawkish The Fed," kata Tim Riset BRI Danareksa Sekuritas, Rabu, 23 September 2026.
Selain itu, tim riset juga menyampaikan, sentimen pekan ini akan tertuju pada Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia 22–23 September, khususnya respons BI terhadap tekanan Rupiah dan kenaikan yield global, dengan ekspektasi pasar masih mengarah pada hold BI Rate 5,75 persen dan optimalisasi intervensi valas.
"Investor juga akan mencermati pergerakan harga minyak, perkembangan konflik Timur Tengah, kebijakan China, serta pertemuan Trump-Xi yang berpotensi memengaruhi sentimen perdagangan global dan komoditas," tuturnya.
Secara teknikal, IHSG telah breakdown dari pola rising wedge dan kembali berada di bawah MA20 6.410, sementara MACD masih menunjukkan bearish crossover dengan histogram negatif yang melebar.
IHSG berpotensi menguji support 6.200-6.180 sehingga investor perlu menunggu momentum dan reaksi harga di area tersebut sebelum menentukan arah pergerakan berikutnya.