Superbank. Foto: Istimewa.
Superbank. Foto: Istimewa.

Superbank Bukukan Laba Bersih Rp99,68 Miliar di 2025

Arif Wicaksono • 12 Maret 2026 10:12
Jakarta: PT Super Bank Indonesia Tbk (SUPA) membukukan laba bersih pada 2025 setelah mengalami kerugian pada periode yang sama tahun lalu.
 
Berdasarkan laporan keuangan di keterbukaan, perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp99,68 miliar pada 2025, berbalik dari rugi bersih Rp366,37 miliar pada 2024. 
Perbaikan ini sejalan dengan meningkatnya pendapatan bunga serta membaiknya kinerja operasional.
 
Baca juga: Daftar Bank dengan Bunga Tabungan Tertinggi di Indonesia

Pendapatan bunga tercatat meningkat signifikan menjadi Rp2,16 triliun, dibandingkan periode sebelumnya sebesar Rp743,98 miliar. 
 
Setelah dikurangi beban bunga sebesar Rp587,01 miliar, perseroan membukukan pendapatan bunga bersih Rp1,58 triliun, naik dari Rp606,84 miliar pada periode sebelumnya.

Di sisi lain, pendapatan operasional lainnya juga memberikan kontribusi. Pendapatan provisi dan komisi tercatat Rp15,52 miliar, sementara keuntungan dari penjualan efek-efek untuk tujuan investasi mencapai Rp24,58 miliar.
 
Secara keseluruhan, jumlah pendapatan operasional tercatat Rp40,26 miliar, meningkat dibandingkan periode sebelumnya sebesar Rp31,11 miliar.
 
Namun, perseroan masih mencatat beban operasional yang cukup besar. Jumlah beban operasional mencapai Rp1,47 triliun, meningkat dari Rp1,03 triliun pada periode sebelumnya. 
 
Dari sisi pendapatan komprehensif, perseroan mencatat laba komprehensif sebesar Rp176,41 miliar, dibandingkan rugi komprehensif Rp384,96 miliar pada periode sebelumnya.
 
Perbaikan kinerja ini juga tercermin pada laba bersih per saham dasar, yang tercatat 3,3, dibandingkan sebelumnya rugi per saham sebesar 13,0.

Aset Perseroan 

Berdasarkan laporan posisi keuangan per 31 Desember 2025, jumlah aset perseroan tercatat Rp21,28 triliun, melonjak hampir dua kali lipat dibandingkan Rp11,36 triliun pada 2024.
Pertumbuhan aset tersebut terutama didorong oleh kenaikan penyaluran kredit.
 
Kredit bersih tercatat sebesar Rp9,62 triliun, meningkat tajam dari Rp6,43 triliun pada tahun sebelumnya.
 
Selain kredit, komponen aset lainnya juga menunjukkan peningkatan. Efek-efek bersih tercatat Rp7,85 triliun, naik dari Rp4,20 triliun pada 2023. Sementara itu, penempatan pada Bank Indonesia tercatat Rp1,81 triliun, naik dari Rp128,68 miliar.
 
Di sisi likuiditas, kas perseroan tercatat sebesar Rp217 miliar, sedangkan giro pada Bank Indonesia mencapai Rp389,30 miliar. 

Pendanaan Naik

Dari sisi pendanaan, jumlah liabilitas perseroan mencapai Rp13,12 triliun, meningkat dari Rp6,15 triliun pada tahun sebelumnya.
 
Kenaikan liabilitas tersebut terutama berasal dari pertumbuhan simpanan dana pihak ketiga. Simpanan nasabah tercatat sebesar Rp11,78 triliun, melonjak dari Rp4,81 triliun pada 2023.
Sementara itu, liabilitas lain-lain tercatat Rp129 miliar, dan beban masih harus dibayar sebesar Rp341 miliar.
 
Pertumbuhan aset dan dana pihak ketiga ini mencerminkan ekspansi bisnis perseroan sepanjang 2025, khususnya dalam penyaluran kredit serta pengelolaan portofolio surat berharga.
 
Ekuitas Superbank tercatat sebesar Rp8,16 triliun pada 2025 atau meningkat sekitar 55persen dibandingkan Rp5,25 triliun pada 2024.
 
Kenaikan ekuitas tersebut antara lain didorong oleh peningkatan modal ditempatkan dan disetor, yang tercatat sebesar Rp5,53 triliun pada 2025, naik dari Rp3,30 triliun pada tahun sebelumnya.
 
Sementara itu, tambahan modal disetor juga mengalami peningkatan menjadi Rp3,39 triliun, dibandingkan Rp2,88 triliun pada 2024.
 
Di sisi lain, pos cadangan nilai wajar mencatat perubahan menjadi Rp69,5 miliar dari minus Rp6,3 miliar pada 2024.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(SAW)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan